Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Keagungan Akhlak Nabi
Ustad Muhammad bin Alwi BSA mengajak jamaah untuk memperingati hari kelahiran Sayyidul Wujud, Nabi Muhammad SAW, dengan mengkaji keagungan beliau dalam Al-Qur’an agar kita semakin mengenal dan mencintai beliau.
Kecintaan kepada Rasulullah adalah modal utama yang dapat kita andalkan saat kembali ke hadapan Allah, karena melalui cinta itulah kita akan konsekuen memegang agama dan mengharapkan syafaat beliau.
Ayat utama yang dibahas adalah Surah Al-Qalam ayat 4: “Wa innaka la’ala khuluqin ‘adzim” (Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung).
Dalam ayat ini, Allah memberikan penekanan luar biasa melalui sumpah dan beberapa bentuk taukid (penguat kalimat) seperti huruf Inna, Lam, serta penggunaan kata ‘ala yang mengisyaratkan bahwa Rasulullah seakan menguasai seluruh perangai mulia tersebut.
Makna Kata “Adzim” (Agung)
Ustad menjelaskan perbandingan kata “Adzim” (Agung) dalam pandangan Allah. Dunia seisinya dengan segala kenikmatannya, oleh Allah disebut sebagai sesuatu yang kecil atau sedikit (qolil).
Namun, ketika Allah menyebut akhlak Nabi Muhammad sebagai “Adzim”, maka keagungan tersebut berada di luar jangkauan akal manusia.
Imam Ali bin Abi Thalib pernah menjelaskan hal ini kepada seorang Yahudi dengan menyatakan bahwa jika manusia saja tidak mampu menghitung nikmat dunia yang dianggap Allah kecil, maka mustahil bagi kita untuk menjangkau keagungan akhlak Nabi yang disebut Allah sebagai “Agung”.
Akhlak mulia ini bukan sesuatu yang dipaksakan oleh beliau, melainkan sudah menjadi watak dan menyatu dengan penciptaan beliau (khuluq).
Beliau tidak perlu memaksa diri untuk bersabar atau dermawan karena hal itu sudah mendarah daging dalam dirinya.
Puncak dari Segala Keindahan Para Nabi
Nabi Muhammad SAW adalah rangkuman dari seluruh keindahan perangai para nabi terdahulu.
Setiap nabi memiliki keistimewaan yang menonjol, namun seluruh keindahan itu terkumpul sempurna pada diri Sayyidul Wujud.
Ibnu Arabi menjelaskan bahwa Allah menyaring ciptaan-Nya hingga memilih para nabi, menyaringnya lagi menjadi Ulul Azmi, dan puncaknya adalah Nabi Muhammad SAW yang tidak ada tandingannya.
Abu Thalib pun pernah bersaksi dalam khutbah pernikahan beliau bahwa keponakannya, Muhammad, tidak dapat dibandingkan dengan siapa pun karena kemuliaannya melampaui segala sesuatu.
Selain itu, kata “Adzim” hanya disematkan Allah untuk hal-hal yang sangat penting, seperti Arsy-Nya dan Al-Qur’an.
Fakhrurrozi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa kesempurnaan Nabi mencakup dua hal: ilmu yang beliau miliki (anugerah yang agung) dan praktik kehidupannya (akhlak yang agung).
Akhlak Nabi adalah Al-Qur’an
Ketika Aisyah RA ditanya mengenai akhlak suaminya, beliau menjawab: “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an”.
Siapa pun yang ingin melihat perangai Rasulullah namun tidak hidup di zaman beliau, cukup melihat Al-Qur’an.
Setiap perintah indah dalam Al-Qur’an, seperti berbicara baik kepada manusia, bersikap rendah hati (tawadhu), membantu sesama, hingga memberikan maaf, semuanya tercermin secara sempurna dalam kehidupan beliau.
Pujian Allah terhadap akhlak beliau merupakan rahasia besar di balik suksesnya dakwah.
Beliau mampu membuat setiap orang yang duduk bersamanya merasa menjadi orang yang paling diperhatikan dan dicintai.
Beliau tidak pernah bermuka masam atau sinis, bahkan terhadap musuhnya sekalipun.
Contoh Nyata Keluhuran Budi Pekerti
Ustad memberikan beberapa contoh nyata:
- Keramahtamahan:
Ketika seorang sahabat datang ke rumahnya yang sudah penuh, beliau melemparkan jubahnya untuk dijadikan alas duduk bagi tamu tersebut. - Ketawadhuan:
Saat menemui putra Hatim al-Tai yang belum Muslim, beliau memberikan alas duduknya kepada tamu tersebut sementara beliau sendiri duduk di tanah, yang membuat tamu itu seketika masuk Islam. - Kasih Sayang kepada Tawanan:
Thumamah bin Uthal, seorang tawanan, diperlakukan dengan sangat baik dan diberi makanan yang layak atas perintah Nabi.
Setelah dibebaskan, Thumamah menyatakan bahwa wajah yang tadinya paling ia benci kini menjadi yang paling ia cintai karena keluhuran akhlak beliau. - Keadilan dalam Kebersamaan:
Dalam perjalanan, beliau tetap ikut mencari kayu bakar meski para sahabat melarangnya, karena beliau tidak ingin merasa lebih istimewa di antara rekan-rekannya. - Kesabaran:
Anas bin Malik yang melayani beliau selama 10 tahun bersaksi tidak pernah sekalipun mendengar ucapan kasar atau teguran “kenapa kamu melakukan ini” dari lisan beliau.
Akhlak di Tengah Keluarga
Rasulullah menekankan bahwa orang yang paling baik adalah yang paling baik terhadap keluarganya.
Beliau sendiri adalah orang yang paling memuliakan keluarganya dan sering membantu pekerjaan rumah tangga.
Sebaliknya, ceramah ini mengingatkan melalui kisah Sa’ad bin Mu’adh, seorang sahabat besar yang jenazahnya dihadiri 70.000 malaikat namun tetap merasakan “himpitan kubur” karena perangainya yang buruk (kurang lembut) terhadap keluarganya di rumah.
Hubungan Ibadah dengan Akhlak
Ustad menegaskan bahwa seluruh syariat Islam (salat, puasa, zakat, haji) pada hakikatnya bertujuan untuk membentuk akhlak mulia.
- Salat bertujuan mencegah perbuatan keji dan mungkar.
- Puasa melatih diri untuk menahan lisan dari dusta dan ghibah.
- Zakat dan Sedekah bertujuan mensucikan jiwa dan mendidik diri untuk tidak menyakiti hati penerimanya.
- Haji melatih orang untuk tidak berkata kotor dan tidak berdebat.
Penutup
Islam tidak tersebar dengan pedang, melainkan dengan akhlak yang karimah dan argumen yang kuat.
Akhlak adalah sesuatu yang mudah untuk dibahas namun sulit dipraktikkan karena harus melawan hawa nafsu.
Ceramah diakhiri dengan ajakan untuk mulai mempraktikkan akhlak Nabi Muhammad SAW kepada orang tua, guru, saudara, hingga masyarakat luas, agar kita layak mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat.

Bersama Ustadz Muhammad bin Alwi BSA
Eps 8. Panutan Teragung (seri Rasulullah SAW dalam Al Qur’an)
Video source: DISKUSI FATHIMAH

