Sejarah Rasulullah (saww) [Bag. 1] : Apakah Semua Agama Sama (satu)?
Oleh: Sayyid Musthofa Qozwini
Bismillahir-Rahmanir-Rahiim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.
Kesatuan Esensi dan Tujuan Agama
Al-Qur’an menekankan adanya kesatuan, harmoni, dan kebersamaan di antara semua kitab suci dan wahyu ketuhanan.
Meskipun berbeda dalam rincian taktik dan pendekatannya, semuanya memiliki satu tujuan dan objektif yang sama.
Allah telah menetapkan jalan agama yang sama bagi Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad SAW.
Inti dari pesan ini adalah tauhid (monoteisme): menyembah Tuhan, setia kepada-Nya, berserah diri sepenuhnya, dan jangan pernah terpecah belah dalam jalan ini.
Definisi Islam sebagai Penyerahan Diri
Dalam konteks ini, “Islam” bermakna sebagai spirit penyerahan diri secara total kepada kehendak Allah.
Prinsip dasar semua agama adalah satu dan selaras, namun berbeda dalam cabang-cabang (furu’), rincian, dan metodenya.
Sebagai contoh, Al-Qur’an menegaskan bahwa Nabi Ibrahim bukanlah seorang Yahudi maupun Nasrani, melainkan seorang yang hanifโyaitu sosok yang berpaling dari politeisme menuju monoteismeโdan seorang Muslim yang berserah diri kepada Tuhannya.
Setiap komunitas atau umat diberikan hukum dan cara (manasik) yang spesifik untuk memenuhi kebutuhan periode waktu tertentu.
Oleh karena itu, agama harus berevolusi dan diperbarui agar tetap responsif terhadap aspirasi dan kebutuhan manusia di zamannya; agama tidak boleh menjadi sesuatu yang usang.
Evolusi Wahyu dan Nabi Muhammad SAW sebagai Penutup
Mengikuti tradisi Nabi Musa dan Taurat adalah jawaban yang tepat hingga masa Nabi Isa.
Kemudian, ajaran Nabi Isa harus diikuti hingga 600 tahun setelahnya, sampai tiba saat Nabi Muhammad SAW diutus.
Kedatangan Nabi Muhammad 1.400 tahun yang lalu merupakan babak baru dan versi terbaru dari agama Allah yang paling sesuai dengan kebutuhan umat manusia saat ini.
Nabi Muhammad SAW adalah Penutup Para Nabi (Seal of the Messengers), sehingga tidak ada lagi utusan setelah beliau.
Pesan yang beliau bawa tidak datang untuk membatalkan ajaran Nabi Isa atau Alkitab, melainkan untuk mengintegrasikan, menyempurnakan, dan melengkapinya.
Islam yang dibawa Nabi Muhammad adalah versi yang paling komprehensif dan akan tetap kompatibel dengan kebutuhan manusia hingga hari kiamat.
Analogi Hukum Federal dan Hukum Negara Bagian
Untuk memahami perbedaan ini, terdapat analogi menarik:
- Islam dengan huruf “I” besar (Penyerahan diri/Monoteisme):
Diibaratkan sebagai hukum federal yang berlaku di seluruh negara. Ini mencakup prinsip dasar seperti tauhid, kenabian, dan hari penghakiman yang berlaku bagi semua agama. - Agama-agama spesifik (Yahudi, Nasrani, dll.):
Diibaratkan sebagai hukum negara bagian yang dirancang khusus untuk kebutuhan geografis atau waktu tertentu.
Saat ini, versi Islam yang dibawa Nabi Muhammad adalah “hukum” yang berlaku bagi seluruh umat manusia karena merupakan versi yang paling mutakhir dan sempurna.
Rantai Kenabian dan Perjanjian Suci
Para nabi bekerja layaknya sebuah jaringan atau rantai yang harmonis yang saling bekerja sama tanpa konflik.
Setiap utusan bertugas membenarkan pesan pendahulunya dan memberikan kabar gembira mengenai kedatangan penerusnya.
Allah bahkan membuat perjanjian (mithaq) dengan para nabi agar mereka saling membenarkan dan mendukung satu sama lain.
Nabi Isa, misalnya, membenarkan Taurat dan memberikan kabar gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad.
Deskripsi karakter, moral, dan etika Nabi Muhammad sebenarnya sudah tercantum dalam kitab-kitab terdahulu, sehingga para Ahli Kitab seharusnya bisa mengenali beliau semudah mereka mengenali anak-anak mereka sendiri.
Namun, sayangnya, kepentingan politik dan kecenderungan terhadap duniawi sering kali menjadi penghalang bagi manusia untuk mengakui dan mengejar kebenaran tersebut.

Source: AlHurr TV

