20 October 2026

Setiap memasuki bulan Rabiul Awal, kita mengkaji keagungan pribadi Sayyidul Wujud, Nabi Muhammad SAW, melalui Al-Qur’an.
Tujuannya adalah untuk mengenal beliau lebih dalam agar tumbuh rasa cinta yang menuntun kita untuk mengikuti teladannya.
Rasulullah SAW bersabda, “Tuhanku telah mendidikku, dan Ia mendidikku dengan sebaik-baik pendidikan”.
Segala perintah, larangan, bahkan teguran dalam Al-Qur’an adalah bentuk kecintaan Allah dalam membimbing Rasul-Nya menuju kesempurnaan akhlak, bukan karena beliau pernah melanggar hukum Allah.

Definisi Tawadhu dan Bahaya Kesombongan
Salah satu bimbingan utama Allah kepada Rasulullah adalah perintah untuk bersikap tawadhu (rendah hati) di hadapan pengikutnya, sebagaimana tertuang dalam Surah Al-Hijr: 88 dan Ash-Shu’ara: 215.
Tawadhu adalah lawan dari takabur (sombong). Puncak kesombongan yang paling dibenci Allah adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Sebaliknya, puncak ketawadhu’an adalah kesediaan menerima kebenaran dari siapa pun, bahkan jika itu terasa pahit atau datang dari orang yang lebih muda.

Tawadhu sejati bukanlah sekadar gerakan fisik seperti menundukkan kepala atau berjalan lambat, melainkan sikap hati yang tulus menerima hakikat kebenaran tanpa kepura-puraan.

Larangan Tawadhu yang Salah
Islam melarang seseorang bersikap rendah hati di hadapan orang sombong atau orang kaya semata-mata karena kekayaannya.
Rasulullah memperingatkan bahwa siapa pun yang bersikap tawadhu kepada orang kaya karena hartanya, maka telah hilang dua pertiga agamanya.
Tawadhu hanya boleh dilakukan karena Allah dan di jalan Allah.

Makna “Wahfid Janahaka” (Hamparkan Sayapmu)
Allah berfirman, “Wahfid janahaka lil mu’minin” (Hamparkan sayapmu bagi orang-orang mukmin).
Kalimat ini bermakna:

  1. Rendah hati dan tidak merasa lebih mulia meskipun beliau adalah manusia paling agung.
  2. Ramah dan lembut, seperti burung yang menghamparkan sayap untuk melindungi dan memberi ketenangan pada anak-anaknya.
  3. Menjaga persatuan agar umat tidak bercerai-berai.

Teladan Nyata dalam Kehidupan Rasulullah

  • Pemimpin yang Melayani:
    Saat perjalanan dan hendak memasak kambing, para sahabat membagi tugas.
    Rasulullah memilih tugas yang paling berat, yaitu mencari kayu bakar, agar tidak ada perbedaan antara pemimpin dan pengikutnya.
  • Perhatian yang Adil:
    Setiap orang yang duduk di majelis Rasulullah merasa menjadi orang yang paling diperhatikan oleh beliau.
  • Kesabaran terhadap Orang Kasar:
    Beliau tetap tersenyum dan memberi saat seorang Badui menarik sorbannya dengan kasar hingga membekas di lehernya.
  • Kedekatan dengan Anak-Anak:
    Beliau selalu mengucapkan salam kepada anak-anak yang sedang bermain dan pernah mengangkat seorang anak yatim yang menangis di hari raya menjadi anak angkat beliau.
  • Kesaksian Anas bin Malik:
    Anas melayani Rasulullah selama 10 tahun dan menyatakan bahwa beliau tidak pernah sekalipun menegur atau menyalahkan pekerjaannya.

Penutup

Kehidupan Rasulullah dan keluarganya, seperti Siti Fatimah yang berbagi tugas rumah tangga dengan pembantunya, menunjukkan bahwa kemuliaan sejati terletak pada kerendahan hati. Umat yang dicintai Allah adalah mereka yang bersikap lembut (dzillah) kepada sesama mukmin namun tegas terhadap kebatilan.

Meneladani Tawadhu Sang Sayyidul Wujud

 

Oleh Ustadz Muhammad bin Alwi BSA
Eps25 – seri Rasulullah SAW dalam Al Qur’an

Video source: DISKUSI FATHIMAH

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us