Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Pendahuluan dan Pembacaan Ayat
Kajian ini dibuka dengan doa dan pembacaan ayat kedua dari Surah Muhammad.
Ayat tersebut berbunyi: “Walladzina amanu wa amilus sholihati wa amanu bima nuzzila ala muhammadin wa huwal haqqu mir rabbihim kaffara anhum sayyi’atihim wa ashlaha balahum”.
Ayat ini merupakan kunci untuk memahami bahwa mengikuti Rasulullah SAW dan mempraktikkan ajarannya adalah jalan untuk memperoleh ampunan serta perbaikan hati dan kehidupan.
Kaitan Iman, Amal Saleh, dan Rasulullah SAW
Dalam Al-Qur’an, Allah selalu menggandengkan iman dengan amal saleh karena keduanya tidak bisa dipisahkan; iman tanpa amal tidak berarti, dan amal tanpa iman pun tidak ada nilainya.
Namun, pada ayat ini, Allah memberikan penekanan khusus dengan kalimat “wa amanu bima nuzzila ala muhammadin” (dan mereka yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad).
Penekanan ini berfungsi sebagai penghormatan dan pengagungan (tashrif) bagi Rasulullah SAW.
Hal ini menegaskan bahwa untuk sampai kepada Allah, seseorang harus melalui pintu Rasulullah SAW.
Tidak boleh ada yang memilah-milah antara Al-Qur’an dan Sabda Nabi; jika suatu hadis itu sahih, maka wajib diikuti sebagaimana kita mengikuti Al-Qur’an karena keduanya berasal dari sumber yang satu, yaitu Allah SWT.
Dua Karunia Besar: Ampunan dan Perbaikan Keadaan
Bagi mereka yang beriman dan mengikuti apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, Allah menjanjikan dua hal utama:
- Kaffara anhum sayyi’atihim:
Allah akan menghapuskan dan mengampuni seluruh dosa serta perbuatan buruk mereka. - Ashlaha balahum:
Allah akan memperbaiki keadaan mereka (halahum) di dunia dan akhirat, serta memperbaiki hati mereka (balahom).
Dengan hati yang diperbaiki, seseorang akan memperoleh ketenangan yang sesuai dengan fitrah manusia.
Mencari Hakikat Kebahagiaan
Banyak orang salah mengira bahwa kebahagiaan terletak pada harta, tahta, atau sanjungan.
Namun, kenyataannya banyak orang kaya yang justru mengalami stres atau mengakhiri hidupnya karena tidak menemukan ketenangan.
Kebahagiaan (as-sa’adah) sebenarnya terletak di dalam hati, bukan pada benda-benda luar.
Allah adalah pihak yang paling tahu di mana letak kebahagiaan kita karena Dialah yang menciptakan kita.
Agama ini disebut sebagai agama fitrah, yang artinya seluruh perintah dan larangan Allah sebenarnya dirancang agar sesuai dengan kebutuhan dan naluri manusia.
Jika manusia menyimpang dari aturan Sang Pencipta, ia ibarat mesin yang diisi bahan bakar yang salah; ia akan rusak dan kehilangan ketenangan.
Kisah Teladan Tentang Kepercayaan Mutlak (Tasdiq)
Ustad Muhammad bin Alwi menceritakan kisah Abu Dzar Al-Ghifari yang memiliki doa yang sangat masyhur di langit di kalangan para malaikat.
Salah satu isi doanya adalah memohon iman yang mutlak kepada Allah dan kepercayaan yang mutlak (tasdiq) kepada Nabi-Nya.
Kepercayaan mutlak inilah yang mendorong seseorang untuk beramal tanpa ragu.
Contoh lain adalah Jabir bin Abdillah pada Perang Khandaq.
Ketika ia hanya memiliki sedikit makanan dan khawatir tidak cukup untuk menjamu Rasulullah dan para sahabat, istrinya menenangkan dengan berkata bahwa jika Rasulullah yang mengundang mereka, maka beliau pasti lebih tahu.
Berkat kepercayaan mutlak kepada Nabi, makanan yang sedikit itu akhirnya mencukupi untuk seluruh sahabat.
Tiga Kunci Praktis Kebahagiaan
Sebagai penutup, terdapat tiga hal yang jika dijaga akan mendatangkan kebahagiaan dalam kehidupan:
- Saat mendapat nikmat:
Segeralah memuji Allah (Alhamdulillah). - Saat rezeki terasa seret atau macet:
Perbanyaklah memohon ampun (Istighfar), karena rezeki seringkali berkaitan dengan ketaatan dan kemaksiatan kita. - Saat menghadapi masalah atau kesulitan:
Perbanyaklah mengucapkan “La haula wala quwwata illa billah”, sebagai bentuk kepasrahan total bahwa tidak ada daya selain dari Allah.
Inti dari kebahagiaan adalah menjadikan hati kita bercahaya dengan kecintaan dan ketaatan kepada Allah melalui jalan Sayyidul Wujud, Muhammad SAW.

Bersama Ustadz Muhammad bin Alwi BSA
Eps 12. Pembawa Kabar Gembira (seri Rasulullah SAW dalam Al Qur’an)
Video source: DISKUSI FATHIMAH

