Bulan Rabiul Awal adalah momentum istimewa untuk mengenal Rasulullah SAW lebih dekat melalui ayat-ayat Al-Qur’an.
Menjadi umat Nabi Muhammad adalah anugerah besar yang harus disyukuri setiap hari, karena tanpa itu, dikhawatirkan nikmat-nikmat lain akan dicabut oleh Allah.
Kajian kali ini memfokuskan pada Surah Al-A’raf ayat 157 yang menjelaskan sifat-sifat Rasulullah yang bahkan sudah dikenal oleh umat terdahulu.
Makna Ittiba’ (Mengikuti) Rasul
Dalam ayat tersebut, Allah menggunakan istilah yattabi’un (mereka yang mengikuti), bukan sekadar yu’minun (mereka yang beriman).
Hal ini menunjukkan bahwa konsekuensi dari iman kepada Rasul adalah ittiba’, yaitu mengikuti perintah dan menjauhi larangan beliau secara berkesinambungan (fi’il mudhari’). Allah tidak mengutus seorang Rasul kecuali untuk ditaati.
Kedudukan Nabi, Rasul, dan Hakikat Sifat Al-Ummi
Seorang Rasul adalah mereka yang menerima wahyu dan wajib menyampaikannya kepada umat, sehingga ketaatan kepada Rasul adalah bentuk ketaatan kepada Allah.
Salah satu sifat menonjol yang disebutkan adalah Al-Ummi. Sebagian mufasir mengartikan Al-Ummi sebagai orang yang berasal dari Ummul Qura (Mekah).
Namun, mayoritas ulama mengartikannya sebagai seseorang yang tidak membaca dan tidak menulis.
Bagi manusia biasa, tidak bisa membaca dan menulis mungkin dianggap kekurangan, namun bagi Rasulullah, hal ini adalah mukjizat yang agung.
Ketidakmampuan beliau membaca kitab-kitab sebelumnya membuktikan bahwa Al-Qur’an murni datang dari Allah, bukan hasil belajar dari manusia.
Meskipun beliau tidak membaca atau menulis, beliau membawa konsep kehidupan terlengkap bagi seluruh dunia.
Lima Sifat Utama Rasulullah dalam Kitab Terdahulu
Dalam Taurat dan Injil, sifat-sifat Rasulullah SAW telah termaktub dengan jelas, bahkan para penganut kitab tersebut mengenali beliau seperti mengenali anak mereka sendiri.
Ada lima tugas utama beliau yang disebutkan:
- Amar Ma’ruf:
Memerintahkan perbuatan baik yang dicintai oleh jiwa yang bersih. - Nahi Munkar:
Melarang perbuatan keji yang diingkari oleh akal sehat. Jika kedua hal ini hilang, maka hilang pula keutamaan umat ini. - Menghalalkan yang Thayyib (Baik):
Segala yang dihalalkan Allah pasti mengandung manfaat bagi manusia. - Mengharamkan yang Khabaits (Buruk/Keji):
Segala yang diharamkan, seperti khamr, pasti mengandung bahaya yang dapat menghancurkan kehidupan manusia. - Melepaskan Beban dan Belenggu:
Rasulullah datang untuk menghapus syariat yang berat dari umat terdahulu, seperti kewajiban membunuh diri untuk bertaubat atau memotong pakaian yang terkena najis.
Beliau membawa kemudahan (Yassiru wala tu’assiru) dan membebaskan manusia dari belenggu kebodohan serta kesyirikan.
Mengikuti Cahaya dan Meraih Keberuntungan
Pengikut setia Rasulullah adalah mereka yang membela beliau dengan penuh penghormatan (ta’zir) dan mengikuti “Cahaya” yang turun bersamanya, yaitu Al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah cahaya bagi hati, obat bagi penyakit mental, dan rahmat bagi kehidupan.
Rasulullah sendiri adalah “Al-Qur’an yang berjalan” karena seluruh akhlak beliau adalah perwujudan dari Al-Qur’an.
Orang-orang yang mengikuti, menghormati, dan membela Rasulullah serta Al-Qur’an itulah yang disebut sebagai Al-Muflihunโorang-orang yang benar-benar beruntung, sukses, dan bahagia di dunia dan akhirat.
Satu-satunya jalan keluar dari berbagai krisis kehidupan adalah dengan kembali kepada ittiba’ (mengikuti) Rasulullah SAW.

Oleh Ustadz Muhammad bin Alwi BSAย
Eps20 – seri Rasulullah SAW dalam Al Qur’an
Video source: DISKUSI FATHIMAH

