Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Syukur dan Kecintaan kepada Rasulullah SAW
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan selawat serta salam tercurah bagi kekasih pilihan kita, Nabi Muhammad SAW.
Malam ini kita berkumpul dalam kebahagiaan untuk memperingati dan menyambut kelahiran manusia teragung, sosok yang karenanya Allah menciptakan segala sesuatu.
Di bulan Rabiul Awal ini, banyak acara digelar dengan satu tujuan utama: menampakkan rasa cinta kita kepada Rasulullah SAW dan mengucapkan syukur kepada Allah karena telah menjadikan kita sebagai umat beliau.
Kita ingin menunjukkan bahwa sebagai umatnya, kita adalah satu kesatuan (ummatan wahidah) yang saling menjaga persaudaraan, sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an agar kita menyembah-Nya sebagai umat yang satu.
Hakikat Nur Muhammad: Ciptaan Pertama Allah
Seringkali dalam peringatan Maulid, kita mendengar riwayat mengenai cahaya atau Nur Muhammad.
Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah al-Anshari, ketika ia bertanya mengenai apa yang pertama kali diciptakan oleh Allah, Rasulullah SAW menjawab bahwa sebelum Allah menciptakan segala sesuatu, yang pertama kali diciptakan adalah Cahaya Nabimu, wahai Jabir.
Allah memuliakan seluruh alam semesta ini dengan cahaya Muhammad, yang memberikan kegembiraan dan keindahan pada segala wujud.
Tiada kesempurnaan dan anugerah yang lebih mulia daripada kehadiran beliau di dunia ini.
Proses Penciptaan Makhluk dari Cahaya Rasulullah
Dalam kitab Yanabiโul Mawaddah, dijelaskan secara lebih rinci bahwa dari Nur Muhammad inilah Allah menciptakan segala kebaikan dan makhluk-Nya.
Proses ini melalui beberapa tahapan waktu (masing-masing 12.000 tahun) di berbagai kedudukan spiritual:
- Kedudukan Kedekatan (Qurbah):
Dari sini Allah menciptakan Arasy, Kursi, serta malaikat pemikul Arasy dan penjaga Kursi. - Kedudukan Cinta Mutlak (Al-Hubb):
Allah menciptakan Kalam (Pena), Lauhul Mahfudz, dan surga beserta segala kenikmatannya. - Kedudukan Takut (Al-Khauf):
Allah menciptakan para malaikat, matahari, bulan, dan bintang-bintang. - Kedudukan Pengharapan (Ar-Rajaโ):
Allah menciptakan akal, ilmu, bimbingan (taufiq), dan penjagaan (‘ismah).
Setelah itu, Allah menciptakan 124.000 para nabi, serta ruh para wali dan syuhada dari percikan cahaya tersebut.
Cahaya ini kemudian diletakkan di bumi hingga menyinari segalanya, lalu dipindahkan dari sulbi Nabi Adam hingga akhirnya sampai ke rahim Ibunda Aminah, dan Rasulullah dilahirkan ke dunia sebagai penutup para nabi serta rahmat bagi semesta alam.
Rasulullah sebagai Lampu yang Terang Benderang
Al-Qur’an menegaskan posisi Rasulullah sebagai cahaya. Dalam Surah Al-Ma’idah, disebutkan telah datang “Cahaya dan Kitab yang terang” (Nur wa Kitabun Mubin), di mana para mufassir menyebut cahaya tersebut adalah Muhammad SAW.
Dalam Surah Al-Ahzab, beliau dijuluki sebagai Sirojan Muniro, yaitu lampu atau matahari yang terang benderang.
Beliau adalah “Bapak dari segala ruh” (Abul Arwah), sementara Nabi Adam adalah bapak dari segala jasad.
Tanpa cahaya Muhammad, tidak akan ada satu pun makhluk yang bernilai di alam wujud ini.
Tiga Sumber Cahaya dalam Kehidupan Muslim
Seorang muslim sejatinya hidup dalam naungan tiga cahaya utama:
- Allah SWT
sebagai sumber segala cahaya (Nurussamawati wal Ardh). - Al-Qur’an
sebagai kitab yang penuh cahaya. - Rasulullah SAW
sebagai pembawa cahaya.
Barangsiapa yang mengikuti Al-Qur’an dan Rasulullah, maka Allah akan melapangkan dadanya dengan cahaya.
Sebaliknya, jika seorang muslim hidup dalam kebingungan dan kegelapan, itu pertanda ia menjauh dari ketiga sumber cahaya tersebut.
Kelak di hari kiamat, orang-orang mukmin akan dibangkitkan dengan cahaya yang mengelilingi mereka karena selama di dunia mereka berpegang teguh pada cahaya Allah.
Selawat sebagai Penjemput Cahaya
Allah dan para malaikat-Nya berselawat kepada orang-orang yang berselawat kepada Nabi.
Tujuan dari selawat ini, sebagaimana dalam Surah Al-Ahzab ayat 43, adalah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.
Mencintai dan menyebut nama Rasulullah akan mendatangkan nur ke dalam hati, sehingga tidak ada lagi ruang bagi penyakit hati seperti sombong, dengki, atau fitnah.
Pujangga Pakistan, Iqbal, dalam sebuah syairnya menggambarkan bahwa Iblis hanya takut pada satu hal: jika nama Muhammad tertanam di hati seorang muslim. Jika cinta kepada Rasulullah dicabut, maka hati akan menjadi gersang dan hancur.
Peran Rasulullah di Hari Akhir
Di hari kiamat nanti, saat matahari dan bulan tidak lagi berfungsi, alam akhirat akan menjadi terang benderang berkat keindahan Nur Muhammad.
Segala bentuk syafaat yang diberikan oleh para nabi atau wali pada hari itu hanyalah percikan dari syafaat utama Rasulullah SAW.
Beliau akan terus memberikan pembelaan bagi umatnya hingga beliau merasa puas dan rela, sesuai janji Allah bahwa Dia akan memberikan karunia-Nya sampai Rasulullah merasa rida.
Penutup: Meneladani Sang Pembawa Cahaya
Memasuki akhir bulan Rabiul awal, tidak cukup bagi kita hanya hanyut dalam cerita kebesaran beliau.
Kita harus memulai dari diri sendiri untuk meniru dan mempraktikkan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah.
Dengan mendekat kepada beliau, kita akan terhindar dari kegelapan kerusakan dan bencana. Semoga Allah menyatukan hati kaum muslimin dan menaungi kita semua dengan cahaya Rasulullah SAW.

Bersama Ustadz Muhammad bin Alwi BSA
Eps 10. Nur (seri Rasulullah SAW dalam Al Qur’an)
Video source: DISKUSI FATHIMAH

