3 September 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Kekaguman pada Rasulullah SAW

Segala puji bagi Allah, selawat dan salam tercurahkan kepada rahmat bagi alam semesta, penyembuh hati, dan pemberi syafaat bagi dosa-dosa kita, yakni Al-Mustafa Muhammad SAW.
Hari kelahiran beliau adalah hari kelahiran manusia terbesar, yang karena beliaulah Allah menciptakan segala makhluk-Nya.
Seluruh nabi terdahulu telah menantikan kehadirannya, dan kelak di akhirat, semua akan mengharapkan syafaat beliau. Surga pun tidak akan dibuka sebelum beliau yang membukanya.
Tiada yang bisa diandalkan oleh seorang Muslim untuk menghadap Allah kecuali syafaat dari Sayyidul Wujud Muhammad SAW.

Mengenal Hakikat Keagungan Nabi Melalui Al-Qur’an

Meskipun Rasulullah SAW sangat terkenal, beliau adalah sosok yang sulit dipahami hakikat kebesaran dan keagungan-Nya oleh akal manusia biasa.
Tidak ada satu pun manusia yang mampu menyifati seluruh kebesarannya karena keagungan beliau tidak terjangkau.
Hanya Allah melalui Al-Qur’an dan lisan suci Nabi sendiri yang bisa mengenalkan siapa sesungguhnya beliau.

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa beliau adalah penghulu seluruh anak Adam, manusia pertama yang dibangkitkan, manusia pertama yang menyampaikan khotbah di Padang Mahsyar, serta yang pertama mengetuk pintu surga.
Bahkan, Nabi Adam dan nabi-nabi lainnya akan berteduh di bawah bendera beliau pada hari kiamat.

Makna Kata “Adzim” (Agung) dalam Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an, Allah sering menggunakan kata “Adzim” (Agung) saat berbicara tentang Rasulullah SAW.
Allah menyebutkan bahwa ilmu yang diajarkan-Nya kepada Nabi adalah agung, dan akhlak beliau pun disifati sebagai “Khuluqin Adzim” (akhlak yang agung).

Padahal, Al-Qur’an sendiri adalah kitab yang agung, yang jika diturunkan kepada gunung, maka gunung itu akan hancur.
Namun, Al-Qur’an yang agung tersebut hanya mampu diterima dan ditampung oleh hati Nabi yang juga agung.
Begitu pula dengan Arsy, singgasana Allah yang agung, yang ternyata tidak mampu diangkat oleh 70.000 malaikat meskipun mereka telah bertasbih dan bertahmid.
Allah kemudian memerintahkan para malaikat tersebut untuk berselawat kepada kekasih-Nya, Muhammad SAW.
Barulah setelah berselawat, mereka mampu mengangkat Arsy tersebut. Allah menegaskan bahwa berselawat kepada Nabi nilainya setara dengan bertasbih dan bertakbir kepada-Nya.

Kesaksian Imam Ali bin Abi Thalib

Imam Ali bin Abi Thalib, pintu kota ilmu, memberikan gambaran yang indah mengenai keagungan Nabi.
Beliau menjelaskan bahwa seluruh nikmat dunia ini di mata Allah disebut “Khalil” (sedikit), sedangkan akhlak Nabi disebut “Adzim” (agung).

Imam Ali menyifati Rasulullah dengan tiga kalimat kunci:

  1. Al-Khatim lima sabaq:
    Penutup kemuliaan para nabi sebelumnya.
  2. Al-Fatih lima ughliq:
    Pembuka segala kebesaran yang belum pernah dibuka oleh manusia atau nabi mana pun.
  3. Nasirul Haqqi bil Haqqi:
    Penegak kebenaran dengan cara yang benar.

Sebagai Khataman Nabiyyin, posisi spiritual beliau adalah yang tertinggi dan tidak akan pernah bisa dilewati oleh makhluk lain, bahkan Malaikat Jibril sekalipun.
Selain itu, laporan dakwah seluruh nabi di akhirat kelak baru akan diterima Allah setelah “distempel” atau disaksikan oleh Rasulullah SAW.

Mukjizat dan Keluhuran Akhlak

Semua mukjizat nabi-nabi terdahulu, seperti Nabi Sulaiman yang bicara dengan binatang atau Nabi Isa yang menghidupkan orang mati, juga dimiliki oleh Rasulullah SAW.
Ada sebuah kisah tentang sepasang suami istri yang menjamu Nabi, namun kedua anak mereka meninggal karena kecelakaan tragis di rumah saat sang ayah sedang menjemput Nabi.
Karena cinta dan hormat yang luar biasa, sang ibu menyembunyikan kematian anaknya agar tidak mengganggu kedatangan Rasulullah.
Namun, atas petunjuk Allah, Nabi meminta anak-anak itu dihadirkan. Lewat doa Rasulullah, kedua anak tersebut dihidupkan kembali oleh Allah.

Meskipun memiliki keagungan luar biasa, Rasulullah tetap mengedepankan kebenaran dan kejujuran.
Saat putranya, Ibrahim, wafat dan terjadi gerhana matahari, banyak orang mengaitkan gerhana tersebut dengan kematian putra Nabi.
Namun, Nabi segera meluruskan bahwa gerhana adalah tanda kekuasaan Allah, bukan karena kelahiran atau kematian seseorang.
Beliau tidak mengambil kesempatan secara batil untuk kepentingan pribadinya.

Pesan untuk Umat: Meneladani Akhlak Nabi

Memperingati hari kelahiran Nabi tidak cukup hanya dengan memuji keagungannya, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Rasulullah adalah Uswatun Hasanah (suri tauladan yang baik) yang penuh keramahan.
Beliau tidak pernah bersikap kasar, bahkan kepada orang yang belum beriman.

Islam tersebar dengan rahmat dan akhlak, bukan dengan pedang.
Contoh nyatanya adalah ketika seorang Baduy kencing di dalam masjid. Saat para sahabat marah, Nabi justru melarang mereka bertindak kasar, membiarkan orang itu selesai, lalu menasihatinya dengan lembut.
Sikap lembut ini juga diperintahkan Allah kepada Nabi Musa dan Harun saat menghadapi Firaun.

Kesimpulannya,

Keagungan sejati seorang Muslim bukan terletak pada membuat orang lain takut, melainkan pada kemampuannya menebar cinta, kasih sayang, dan tawaduk (rendah hati) sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Mari hadirkan akhlak Rasulullah dalam setiap aspek kehidupan kita agar kelak kita layak mendapatkan syafaatnya.

Keagungan Hakikat Nabi Muhammad SAW

Bersama Ustadz Muhammad bin Alwi BSA
Eps 9. Keagungan (seri Rasulullah SAW dalam Al Qur’an)

Video source: DISKUSI FATHIMAH

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us