Keutamaan Mengingat Rasulullah
Segala puji bagi Allah yang dengan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya kita dapat berkumpul dalam majelis untuk menyebut nama Allah dan mengagungkan Sayyidul Wujud, Muhammad SAW.
Tidak ada waktu yang lebih indah selain waktu yang kita luangkan untuk beliau, dan tidak ada tempat yang lebih mulia selain tempat di mana nama beliau disebut.
Kehidupan kita tidak boleh terpisah dari Rasulullah SAW karena beliau adalah cahaya dan rahmat Allah.
Bahkan, ibadah shalat pun tidak akan diterima oleh Allah jika kita tidak menyebutkan salam kepada beliau dalam tahiyat: “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh”.
Berpisah dengan Rasulullah berarti berpisah dengan rahmat Allah, dan itu adalah kerugian atau kesialan terbesar dalam hidup.
Makna Keberkahan (Barokah)
Secara bahasa, barokah berarti sesuatu yang langgeng, tetap, dan terus-menerus (al-istisrar wal istimror).
Para ahli bahasa mengibaratkan keberkahan seperti air yang tetap menetap di dalam wadahnya (tsubutul khair fil syai).
Dalam kehidupan, keberkahan bukan sekadar soal jumlah.
Ada orang yang memiliki harta berlimpah namun tidak nampak manfaatnya, dan ada yang memiliki umur panjang namun tidak meninggalkan kesan kebaikan.
Sebaliknya, ada orang dengan harta sedikit atau umur pendek, namun hidupnya penuh warna dan memberikan manfaat besar bagi sesama karena adanya keberkahan.
Sumber Segala Keberkahan
Al-Qur’an menegaskan bahwa keberkahan mutlak milik Allah SWT. Namun, Allah memberikan keberkahan tersebut kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya.
Makhluk yang paling dekat dengan Allah, yaitu Nabi Muhammad SAW, adalah pemikul dan sumber keberkahan terbesar bagi seluruh alam.
Segala sesuatu yang berkaitan dengan Rasulullah SAW pasti memancarkan berkah, mulai dari para nabi terdahulu, tempat tinggal beliau (Makkah), hingga mukjizat yang beliau bawa.
- Nabi-nabi Terdahulu:
Nabi Nuh diselamatkan melalui tawasul kepada Rasulullah dan keluarganya (Ahlul Kisa). Nabi Ibrahim dan keluarganya memperoleh keberkahan karena dari garis keturunan itulah lahir Rasulullah. - Tempat dan Benda:
Kakbah dan kota Makkah menjadi mulia karena merupakan tempat lahir dan tempat tinggal beliau. Al-Qur’an disebut sebagai kitab yang penuh berkah karena diturunkan kepada Nabi yang penuh berkah.
Bukti Keberkahan dalam Riwayat Hidup Nabi
Sejak kelahirannya, keberkahan Rasulullah SAW telah nampak nyata:
- Halimah Sadiyah:
Saat menyusui bayi Muhammad, unta yang tadinya kurus dan lemah menjadi kuat, pohon yang kering menjadi hijau kembali, dan tetangga yang miskin mendapatkan kecukupan. - Mukjizat Fisik:
Air memancar dari sela-sela jari beliau untuk mencukupi kebutuhan air para sahabat.
Bahkan, para sahabat berebut air bekas wudhu beliau dan menyimpan rambut beliau sebagai wasilah kesembuhan. - Keamanan dari Azab:
Allah menjamin tidak akan menyiksa suatu kaum selama Rasulullah ada di tengah-tengah mereka.
Penghalang Keberkahan dalam Rumah Tangga
Ustadz Muhammad bin Alwi mengutip hadis yang menyebutkan empat perkara yang jika salah satunya masuk ke dalam rumah, maka keberkahan akan hilang dan rumah tersebut akan hancur secara maknawi:
- Pengkhianatan (Al-Khianat): Baik antar pasangan maupun orang tua dan anak.
- Pencurian (As-Sariqah).
- Minuman Keras (Syurbul Khamr).
- Perzinaan (Az-Zina).
Jika pengkhianatan merajalela, maka Allah akan mencabut keberkahan dari kehidupan hamba-Nya.
Cara Meraih Keberkahan di Masa Sekarang
Meskipun Rasulullah SAW telah wafat secara fisik, keberkahan beliau tetap ada sepanjang zaman bagi umatnya. Cara untuk meraihnya adalah dengan:
- Menjaga Ikatan:
Tetap berpegang teguh pada syariat dan sunnah beliau. - Menjadikan Beliau Panutan:
Jangan memaksakan hawa nafsu atau mencari alasan untuk membenarkan kesalahan, melainkan kembalilah kepada pintu Allah melalui Rasulullah. - Berlaku Adil:
Keadilan dalam memimpin (baik negara maupun rumah tangga) akan melipatgandakan keberkahan. - Ketaatan pada Allah:
Ketaatan akan mendatangkan keridhaan Allah, dan keridhaan Allah adalah sumber keberkahan yang tidak terbatas.
Penutup
Kebanggaan sejati seorang Muslim bukan hanya pada identitasnya, tetapi pada usahanya untuk mempraktikkan ajaran Rasulullah SAW. Hanya dengan menjadikan Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi secara nyata dalam perilaku, seseorang dapat merasakan manisnya iman.

Oleh Ustadz Muhammad bin Alwi BSA
Eps18 – seri Rasulullah SAW dalam Al Qur’an
Video source: DISKUSI FATHIMAH

