Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada cahaya di atas cahaya, rahasia dari segala rahasia, yaitu Baginda Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabat beliau.
Pertemuan kita dalam suasana mengingat Allah dan menyebut nama Rasulullah SAW adalah sebuah karunia besar yang patut kita syukuri.
Harapannya, nikmat semacam ini akan terus bertambah dan mengantarkan kita pada kebahagiaan di dunia maupun akhirat.
Peringatan Maulid Nabi yang rutin diadakan memiliki tujuan mulia: mengisi hidup dengan perintah-perintah beliau, mengenal lebih dekat sosok Sayyidul Wujud Muhammad SAW, serta menanamkan kecintaan kepada beliau di dalam hati.
Selain itu, peringatan ini bertujuan mempererat persaudaraan sesama umat, karena Rasulullah sangat senang melihat umatnya rukun, saling menghormati, dan saling mencintai.
Keagungan Nabi Muhammad SAW dan Nikmat Menjadi Umatnya
Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling agung yang telah dinanti oleh para nabi terdahulu, mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Isa.
Para nabi tersebut telah bertugas mengenalkan kepada umat masing-masing akan datangnya nabi penutup yang membawa rahmat dan akan memberikan syafaat di hari kiamat.
Menjadi umat Nabi Muhammad adalah nikmat yang luar biasa besar.
Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau khawatir jika seseorang tidak mensyukuri nikmat menjadi umatnya, maka Allah akan mencabut nikmat-nikmat lainnya.
Keistimewaan umat ini sangat besar; Allah mengharamkan siapa pun masuk surga sebelum Rasulullah SAW dan umatnya masuk terlebih dahulu.
Bahkan, Nabi Musa AS pun pernah bermunajat agar dijadikan bagian dari umat Muhammad SAW karena melihat keagungan umat ini.
Mengikuti Konsep Hidup Rasulullah SAW
Bukti syukur kita sebagai umat beliau adalah dengan mengikuti seluruh ajarannya.
Segala konsep kehidupan, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, urusan rumah tangga, masyarakat, hingga hubungan dengan Allah, telah beliau sampaikan.
Tidak ada satu pun hal yang mendekatkan ke surga atau menjauhkan dari neraka kecuali telah beliau jelaskan.
Maka, menghadiri acara Maulid seharusnya menjadi sarana untuk mengkaji biografi beliau agar kita bisa mengubah hidup menjadi lebih dekat dengan tuntunannya.
Klasifikasi Manusia Menurut Rasulullah SAW (Aksamun Nas)
Berdasarkan sabda-sabda Rasulullah SAW, manusia dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok berikut:
- Ahli Ibadah Sejati (Abadun Nas):
Orang yang paling beribadah adalah mereka yang melaksanakan seluruh kewajiban (fardu) yang ditetapkan Allah. - Orang Paling Dermawan (Askhon Nas):
Bukan sekadar memberi, tetapi mereka yang menunaikan kewajiban zakat hartanya terlebih dahulu. - Orang Paling Zuhud (Azhodun Nas):
Mereka yang menjauhi segala yang diharamkan Allah. Zuhud bukan berarti tidak punya harta, melainkan tidak dikuasai atau dimiliki oleh harta tersebut. - Orang Paling Bertakwa (Atqon Nas):
Mereka yang selalu berani menyuarakan kebenaran (haq) meskipun berisiko bagi dirinya sendiri. - Orang Paling Adil (Adalun Nas):
Mereka yang menginginkan kebaikan bagi orang lain sebagaimana ia menginginkannya untuk diri sendiri, dan membenci keburukan bagi orang lain sebagaimana ia membencinya untuk diri sendiri. - Orang Paling Cerdas (Akyasun Nas):
Mereka yang paling banyak mengingat kematian, sehingga amal perbuatannya selalu terkontrol. - Orang Paling Berbahagia (Aghbotun Nas):
Mereka yang ketika di dalam kubur selamat dari siksaan dan tengah menanti pahala. - Orang Paling Lalai (Aghfalun Nas):
Mereka yang tidak mau mengambil pelajaran dari perubahan dan peristiwa yang terjadi di dunia. - Orang Paling Berani (Asyjaโun Nas):
Mereka yang mampu menaklukkan hawa nafsunya sendiri. - Manusia Paling Berharga:
Mereka yang memiliki banyak ilmu dan mengamalkannya.
Sebaliknya, orang yang paling rendah nilainya adalah yang sedikit ilmunya. - Orang yang Paling Sedikit Menikmati Hidup:
Orang yang memiliki sifat hasad (dengki), karena hatinya selalu sakit melihat kenikmatan orang lain. - Orang yang Paling Kurang Ketenangannya:
Orang yang kikir (bakhil), karena ia selalu merasa tidak tenang dan takut hartanya berkurang. - Orang Paling Bodoh/Bahlul:
Orang yang kikir dalam mengeluarkan apa yang telah Allah wajibkan atas dirinya. - Orang Paling Miskin:
Orang yang tamak, karena sebanyak apa pun yang ia miliki, ia akan selalu merasa kurang. - Orang Paling Kaya:
Orang yang tidak menjadi tawanan dari kerakusannya sendiri. - Orang Paling Sempurna Imannya:
Mereka yang paling baik budi pekertinya atau akhlaknya. - Orang Paling Mulia di Sisi Allah:
Mereka yang paling bertakwa. - Orang dengan Kedudukan Paling Agung:
Mereka yang meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat atau bukan urusannya. - Usaha/Jihad yang Paling Berat:
Usaha untuk meninggalkan dosa-dosa. - Orang Paling Beruntung:
Mereka yang bergaul dengan orang-orang mulia. - Orang Paling Berakal:
Mereka yang mampu hidup rukun dan sabar dalam menghadapi manusia lainnya (mudharah). - Orang Paling Hina (Adzallun Nas):
Mereka yang suka menghina dan merendahkan orang lain. - Manusia Terbaik (Khairunnas):
Mereka yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain. - Orang Paling Waraโ:
Mereka yang menjauhi perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar, demi menjaga kedamaian.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengamalkan sabda-sabda beliau dan mendapatkan syafaatnya di akhirat kelak

Oleh Ustadz Muhammad bin Alwi BSA
Eps28 – seri Rasulullah SAW dalam Al Qur’an
Video source: DISKUSI FATHIMAH

