Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Mengenal Keagungan Nabi Melalui Al-Quran
Di bulan Rabi’ul Awal ini, kita berhenti sejenak dari kajian rutin Tafsir Surah Al-Baqarah untuk mengkaji kedudukan Rasulullah SAW dalam Al-Quran.
Satu-satunya kunci yang bisa membawa kita untuk mengenal kebesaran dan keagungan beliau adalah Al-Quran, karena hanya Allah yang benar-benar mengenal Rasul-Nya.
Fokus kajian kita adalah bagaimana seharusnya sikap seorang mukmin terhadap perintah, larangan, dan ketetapan Rasulullah SAW.
Prinsip Utama: Nabi Lebih Utama dari Diri Sendiri
Dalam Surah Al-Ahzab ayat 6, Allah menegaskan bahwa “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri”.
Ayat ini menjelaskan bahwa kita harus meletakkan posisi Rasul di atas jiwa kita sendiri; perintah beliau harus melebihi segala perintah, dan kecintaan kepada beliau harus melebihi cinta pada diri sendiri.
Para mufassir menjelaskan bahwa hukum dan seruan Rasul berada di atas segala hukum serta seruan manusia, bahkan di atas keinginan diri kita sendiri.
Jika jiwa kita menginginkan sesuatu namun Rasulullah menginginkan hal yang berbeda, maka wajib mendahulukan keinginan beliau.
Rasulullah SAW memiliki wilayah kekuasaan mutlak (wilayah mutlaqah) atas seluruh makhluk, termasuk malaikat dan jin.
Sebagai contoh, Jibril AS merasa bangga jika dijadikan pelayan (khadim) bagi keluarga Nabi (Ahlul Kisa).
Meniadakan Pilihan Pribadi di Hadapan Ketetapan Rasul
Seorang mukmin tidak memiliki pilihan lain jika Rasulullah telah menetapkan suatu hukum.
Dalam Surah Al-Ahzab ayat 36, Allah berfirman bahwa tidak pantas bagi laki-laki maupun perempuan mukmin untuk memiliki pilihan sendiri atas urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara.
Barangsiapa yang mendahului pendapatnya atau mencari ketentuan di luar ketentuan Rasul, maka ia dianggap telah bermaksiat dan berada dalam kesesatan yang nyata.
Contoh nyata dari prinsip ini terlihat pada peristiwa Hijrah, di mana Imam Ali bin Abi Thalib bersedia tidur di tempat tidur Nabi demi keselamatan beliau.
Beliau tidak bertanya tentang keselamatan dirinya, karena menganggap dirinya “murah” demi keselamatan Rasulullah yang “mahal”.
Begitu pula dengan Abu Thalib yang rela menukarkan nyawa putranya sendiri demi melindungi keselamatan Muhammad SAW.
Adab dan Etika Terhadap Rasulullah SAW
Al-Quran mengatur adab berbicara dan memanggil Rasulullah:
- Cara Memanggil:
Dalam Surah An-Nur ayat 63, Allah melarang umat memanggil Rasul seperti memanggil sesama manusia.
Sayyidah Fatimah Zahra pun sempat merasa segan memanggil “Abah” dan menggantinya dengan “Ya Rasulullah” setelah ayat ini turun, meskipun kemudian Nabi tetap mengizinkan putri tercintanya memanggil beliau “Abah”. - Larangan Mendahului:
Kita dilarang mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam menentukan sesuatu (Surah Al-Hujurat: 1). - Volume Suara:
Allah melarang mengangkat suara di atas suara Nabi, karena hal itu dapat menghapuskan pahala amal ibadah seseorang tanpa ia sadari. Aturan ini tetap berlaku bahkan setelah beliau wafat, terutama saat sabda-sabda beliau (hadis) dibacakan.
Kunci Kesuksesan: Sami’na wa Atho’na
Dalam Surah An-Nur ayat 51, Allah menyebutkan bahwa ucapan orang mukmin saat diseru kepada Allah dan Rasul-Nya hanyalah: “Kami dengar dan kami taat” (Sami’na wa Atho’na).
Mereka yang memiliki sikap inilah yang disebut sebagai orang-orang yang sukses dan beruntung (muflihun) di dunia maupun akhirat.
Segala perintah dan larangan Rasulullah sebenarnya adalah demi kebaikan dan kehidupan kita sendiri (Surah Al-Anfal: 24).
Rasulullah adalah “dokter” bagi ruh dan jasad kita; mengikuti arahan beliau adalah untuk kemaslahatan kita, bukan untuk keuntungan pribadi beliau.
Iman seseorang belum sempurna sampai ia menjadikan Rasulullah sebagai hakim dalam setiap perselisihan dan menerima keputusannya dengan lapang dada tanpa rasa keberatan sedikit pun.
Dampak Pelanggaran Terhadap Ketentuan Nabi
Perang Uhud menjadi pelajaran berharga dalam sejarah. Kekalahan dan musibah yang menimpa kaum muslimin saat itu terjadi karena sebagian pasukan melanggar perintah Rasulullah dengan turun dari gunung demi harta rampasan.
Allah menegaskan bahwa musibah tersebut datang dari kelakuan mereka sendiri yang mempunyai pendapat di atas ketentuan Rasul.
Cinta yang Mengalahkan Segalanya
Sejarah mencatat banyak contoh cinta yang luar biasa kepada Nabi:
- Putra Abdullah bin Ubay:
Meskipun ayahnya adalah pemimpin kaum munafik, ia lebih memilih Rasulullah dan bahkan menawarkan diri untuk mengeksekusi ayahnya jika itu perintah Nabi. - Wanita di Perang Uhud:
Seorang wanita yang kehilangan suami, saudara, dan anaknya tetap hanya bertanya, “Bagaimana keadaan Rasulullah?”.
Baginya, segala musibah tidak berarti asalkan Rasulullah selamat. - Kisah Tuan Rumah Anshar:
Seorang ibu yang kehilangan dua anaknya dalam sebuah kecelakaan di rumahnya tetap berusaha melayani Rasulullah dengan tenang karena tidak ingin mengganggu kesenangan beliau saat bertamu.
Penutup: Syafaat di Hari Akhir
Pada hari kiamat, ketika semua nabi angkat tangan, hanya Rasulullah SAW yang akan memberikan pembelaan dan syafaat.
Beliau akan bersujud dan tidak mengangkat kepalanya sampai Allah memberikan izin kepadanya untuk memberi syafaat kepada siapa pun yang dikehendakinya.
Oleh karena itu, kejayaan hidup kita bergantung pada sejauh mana kita menjadikan beliau sebagai yang terdepan dalam segala aspek kehidupan kita.

Bersama Ustadz Muhammad bin Alwi BSA
Eps 2. Mengutamakan (seri Rasulullah SAW dalam Al Qur’an)
Video source: DISKUSI FATHIMAH

