Ketika Rakyat Tidak Memerlukan Perantara untuk Menemui Kekuasaan
Pagi baru saja menyentuh Makkah.
Cahaya turun perlahan di atas bukit-bukit batu. Para peziarah mulai memenuhi jalan menuju Baitullah. Pedagang membuka tempat dagangannya. Musafir mencari air. Orang-orang miskin berdiri di tepi keramaian, berharap hari itu membawa sedikit kemudahan.
Di salah satu bangunan pemerintahan, beberapa penjaga telah berdiri di dekat pintu.
Di balik pintu itulah Qutsam bin Abbas menjalankan tugasnya sebagai gubernur Makkah.
Ia bukan sekadar pengurus kota. Makkah adalah pusat ibadah, tempat manusia datang dari berbagai negeri, membawa bahasa, suku, kebutuhan, dan persoalan yang berbeda. Kesalahan kecil dalam mengelolanya dapat melukai ribuan orang.
Pagi itu, seorang lelaki tua datang dengan pakaian berdebu.
Langkahnya pelan. Di tangannya terdapat bungkusan kecil. Ia telah berjalan jauh dan berharap dapat berbicara langsung kepada gubernur.
Seorang penjaga mengangkat tangan.
“Tunggu.”
Lelaki itu berhenti.
Ia mencoba menjelaskan kebutuhannya, tetapi penjaga itu menunjuk ke sisi halaman. Masih ada orang lain. Masih ada petugas yang harus ditemui. Masih ada waktu yang harus ditunggu.
Begitulah kekuasaan mulai menjauh dari rakyat.
Bukan selalu karena penguasanya membenci mereka.
Kadang-kadang hanya karena terlalu banyak pintu, penjaga, pembantu, penyeleksi, dan perantara yang berdiri di antara penguasa dan orang yang membutuhkan pertolongannya.
Namun, sebuah surat dari Kufah datang membawa perintah yang akan membuka semua pintu itu.
Duduklah Bersama Mereka
Surat tersebut dikirimkan Imam Ali bin Abi Thalib a.s. kepada Qutsam bin Abbas. Dalam Nahjul Balaghah, ia tercatat sebagai Surat 67.
Ali memulai dengan tanggung jawab Qutsam terhadap pelaksanaan ibadah haji:
“Laksanakanlah haji bersama manusia dan ingatkan mereka kepada hari-hari Allah.”
Seorang gubernur Makkah tidak boleh hanya mengatur jalan, keamanan, dan pemasukan. Ia harus menjaga agar kota suci tetap mengantarkan manusia menuju Allah.
Namun, Imam Ali tidak berhenti pada urusan ritual.
Beliau memerintahkan:
“Duduklah untuk mereka pada pagi dan petang.”
Duduklah untuk rakyat.
Bukan sekadar duduk di dalam ruangan yang dijaga pasukan. Bukan menunggu laporan dari para pembantu. Bukan menerima ringkasan masalah yang telah dipilih dan diperhalus oleh orang-orang di sekelilingnya.
Qutsam harus hadir.
Ia harus menyediakan waktunya.
Pagi dan petang.
Rakyat tidak boleh hanya melihat gubernurnya ketika ada upacara. Mereka harus dapat menemuinya ketika membawa persoalan.
Karena penguasa yang hanya mengenal rakyat melalui laporan akan melihat manusia sebagai angka. Ia mengetahui jumlah penduduk, tetapi tidak mengetahui air mata mereka. Ia mengetahui banyaknya orang miskin, tetapi tidak pernah mendengar suara orang yang kelaparan.
Ali menginginkan pemimpin yang tidak hanya mengetahui keadaan rakyat.
Pemimpin harus melihat wajah mereka.
Jawablah, Ajarlah, dan Berdiskusilah
Imam Ali kemudian menjelaskan apa yang harus dilakukan Qutsam dalam pertemuan itu:
“Berilah jawaban kepada orang yang meminta fatwa. Ajarkan orang yang belum mengetahui. Berdiskusilah dengan orang yang berilmu.”
Tiga kelompok datang kepada pemimpin.
Pertama, orang yang membutuhkan jawaban.
Ia tidak boleh dibiarkan pulang membawa kebingungan.
Kedua, orang yang belum mengetahui.
Ia tidak boleh dihina karena ketidaktahuannya. Tugas seorang pemimpin bukan menertawakan kebodohan rakyat, melainkan membuka jalan agar mereka memahami.
Ketiga, orang yang mempunyai ilmu.
Ia tidak boleh dijauhkan karena pemimpin takut dikoreksi. Qutsam diperintahkan berdiskusi dengannya.
Pemerintahan Ali bukan pemerintahan yang hanya berbicara kepada rakyat.
Ia juga mendengarkan.
Pemimpin menjawab orang yang bertanya, mengajar orang yang belum tahu, dan belajar melalui dialog dengan orang yang berilmu.
Di hadapan masyarakat awam, ia tidak boleh sombong.
Di hadapan ulama, ia tidak boleh merasa terancam.
Kekuasaan tidak membuatnya menjadi manusia yang paling mengetahui segala sesuatu. Justru semakin besar tanggung jawabnya, semakin besar kebutuhannya kepada ilmu dan nasihat.
Jangan Letakkan Seseorang di Antara Dirimu dan Rakyat
Lalu tibalah perintah yang mengubah seluruh wajah kekuasaan:
“Jangan ada utusan antara dirimu dan rakyat selain lidahmu sendiri.”
Qutsam tidak boleh hanya berbicara melalui juru bicara.
Ia tidak boleh sepenuhnya menyerahkan hubungan dengan rakyat kepada pembantu.
Perantara mungkin diperlukan untuk mengatur pekerjaan, tetapi ia tidak boleh berubah menjadi dinding yang menentukan siapa yang boleh didengar dan siapa yang harus disingkirkan.
Sebab perantara kekuasaan mempunyai bahaya.
Ia dapat menyembunyikan keluhan yang dianggap mengganggu.
Ia dapat hanya membawa berita yang menyenangkan penguasa.
Ia dapat menjual akses kepada orang yang sanggup membayar.
Ia dapat membuat rakyat percaya bahwa untuk menemui pemimpin, mereka harus mengenal seseorang, membawa surat dari seseorang, atau menjadi bagian dari kelompok tertentu.
Akhirnya, rakyat tidak lagi datang kepada pemerintah sebagai pemilik hak.
Mereka datang sebagai pemohon belas kasihan.
Ali menghancurkan budaya itu.
Qutsam harus mendengar dengan telinganya sendiri dan menjawab dengan lidahnya sendiri.
Rakyat tidak boleh hanya mengenal suara gubernur dari jauh.
Gubernur harus mendengar suara rakyat dari dekat.
Jangan Ada Penjaga selain Wajahmu
Perintah berikutnya bahkan lebih dahsyat:
“Jangan ada penghalang antara dirimu dan mereka selain wajahmu sendiri.”
Wajah seorang pemimpin adalah satu-satunya “pintu” yang boleh ditemui rakyat.
Bukan barisan penjaga.
Bukan gerbang yang terkunci.
Bukan ruangan-ruangan panjang yang melelahkan.
Bukan orang-orang yang berdiri sambil bertanya, “Siapa engkau sehingga ingin menemui gubernur?”
Ali memahami bahwa setiap lapis penghalang akan menyaring manusia berdasarkan kekuasaan.
Orang kaya dapat melewatinya dengan hadiah.
Orang terpandang dapat melewatinya dengan nama keluarga.
Orang kuat dapat melewatinya dengan pengaruh.
Tetapi orang miskin akan berhenti di pintu pertama.
Karena itu, pintu pemerintahan harus dibuka terutama bagi orang yang tidak mempunyai jalan lain.
Lelaki tua yang berdiri di pintu pagi itu tidak membawa rekomendasi. Ia tidak mengenal pejabat. Ia tidak mempunyai uang untuk membeli akses.
Ia hanya membawa kebutuhan.
Dan dalam pemerintahan Ali, kebutuhan sudah cukup menjadi alasan untuk mengetuk pintu.
Jangan Pulangkan Orang yang Membutuhkan
Imam Ali memperingatkan Qutsam:
“Jangan menghalangi seseorang yang mempunyai kebutuhan untuk menemuimu.”
Lalu beliau memberikan alasan yang sangat manusiawi:
Jika orang itu diusir dari pintumu pada kedatangannya yang pertama, kemudian kebutuhannya baru dipenuhi setelah itu, engkau tidak patut dipuji karena telah memenuhinya.
Mengapa?
Karena luka pertama telah terjadi.
Orang itu datang dengan harapan, lalu dipulangkan dalam kehinaan. Ia mungkin harus meminjam biaya untuk kembali. Ia mungkin menunggu berhari-hari. Ia mungkin terpaksa mencari orang dalam. Ia mungkin harus merendahkan dirinya di hadapan banyak petugas sebelum akhirnya didengar.
Ketika kebutuhannya kemudian dipenuhi, pemerintah hanya memberikan sesuatu yang sejak awal merupakan haknya.
Pelayanan yang terlambat setelah penghinaan bukanlah kemurahan hati.
Hak yang diberikan setelah rakyat dipaksa mengemis bukanlah prestasi.
Ali sedang mengajarkan bahwa cara memenuhi kebutuhan sama pentingnya dengan pemenuhan kebutuhan itu sendiri.
Rakyat tidak cukup hanya memperoleh haknya.
Mereka harus memperolehnya tanpa kehilangan kehormatan.
Pintu Itu Pun Terbuka
Penjaga di pintu melihat Qutsam.
Gubernur mengangkat tangannya, bukan untuk mengusir lelaki tua itu, tetapi memerintahkan agar jalan dibuka.
Tombak diturunkan.
Penjaga menepi.
Lelaki tua melangkah masuk.
Ia mungkin membayangkan akan berdiri di hadapan kursi tinggi. Namun, Qutsam tidak duduk di atas singgasana. Ia berada di atas tikar yang sama dengan rakyatnya.
Tidak ada meja besar yang memisahkan.
Tidak ada tirai.
Tidak ada suara yang berkata, “Bicaralah melalui kami.”
Qutsam mempersilahkannya mendekat.
Lelaki itu duduk.
Kemudian gubernur Makkah mendengarkan.
Adegan ini merupakan penghidupan sastra dari perintah Imam Ali, bukan rincian peristiwa yang dicatat sebagai riwayat tersendiri.
Namun, beginilah sebuah surat pemerintahan seharusnya menjelma: bukan berhenti sebagai tulisan, melainkan berubah menjadi pintu yang terbuka dan manusia yang kembali memperoleh martabatnya.
Harta Allah untuk Orang yang Membutuhkan
Dalam surat yang sama, Imam Ali memerintahkan Qutsam memperhatikan harta Allah yang terkumpul di tangannya.
Harta itu harus diberikan kepada orang-orang yang mempunyai tanggungan keluarga, mereka yang kelaparan, dan mereka yang berada dalam kesulitan.
Ali tidak berkata bahwa harta tersebut harus ditumpuk agar gubernur terlihat berhasil menjaga kas.
Kas negara bukan benda keramat yang dibanggakan karena jumlahnya.
Ia adalah alat untuk memenuhi hak manusia.
Di luar pintu gubernur mungkin ada seorang ayah yang tidak dapat memberi makan anaknya. Ada musafir yang kehabisan bekal. Ada keluarga yang tidak mempunyai pakaian memadai. Ada orang yang bekerja keras, tetapi keadaan tetap membuatnya terjatuh.
Harta negara harus menemukan jalan menuju mereka.
Apa yang dibutuhkan masyarakat setempat digunakan untuk masyarakat setempat. Jika masih ada kelebihan, Qutsam diperintahkan mengirimkannya kepada Imam Ali agar dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan di wilayah lain.
Tidak ada ruang untuk menimbun anggaran demi kebanggaan pejabat.
Tidak ada kesempatan menjadikan bantuan sebagai alat membeli kesetiaan.
Harta itu milik Allah.
Pejabat hanya penjaga alirannya.
Bahkan Penginapan Para Peziarah
Imam Ali juga memerintahkan Qutsam agar meminta penduduk Makkah tidak mengambil bayaran dari para pendatang yang tinggal untuk menunaikan haji.
Beliau merujuk kepada firman Allah tentang Masjidil Haram:
“Sama bagi orang yang bermukim di dalamnya dan orang yang datang dari luar.”
Di dalam penjelasan surat, orang yang bermukim adalah penduduk Makkah, sedangkan orang yang datang dari luar adalah peziarah yang menuju kota itu untuk berhaji.
Ali tidak hanya memikirkan kemegahan ibadah haji.
Beliau memikirkan tempat tinggal jamaah.
Beliau tidak hanya berbicara tentang thawaf.
Beliau memikirkan beban orang yang datang dari jauh.
Agama yang agung tidak hanya terlihat pada banyaknya manusia mengelilingi Ka‘bah. Ia juga terlihat pada cara kota suci memperlakukan orang asing, orang miskin, dan musafir yang tidak mempunyai perlindungan.
Kekuasaan yang Mudah Ditemui
Dalam banyak pemerintahan, kemuliaan pemimpin diukur dari sulitnya ia ditemui.
Semakin banyak penjaga, semakin dianggap berwibawa.
Semakin jauh rakyat darinya, semakin dianggap tinggi kedudukannya.
Semakin rumit jalan untuk berbicara dengannya, semakin besar kekuasaannya.
Ali membalik ukuran itu.
Kemuliaan pemimpin bukan karena ia tidak dapat disentuh rakyat.
Kemuliaannya adalah karena kekuasaan tidak menghalanginya menyentuh penderitaan rakyat.
Pemimpin yang jauh hanya melihat masyarakat melalui jendela istana.
Pemimpin yang hadir mengetahui bagaimana suatu keputusan terasa di meja makan orang miskin, di tubuh para pekerja, dan di langkah musafir yang kelelahan.
Pintu yang terbuka bukan tanda lemahnya kekuasaan.
Ia adalah tanda bahwa kekuasaan tidak takut kepada suara rakyat.
Mengapa Tidak Mengikuti Ali?
Kita mudah mengagumi surat Imam Ali.
Namun, bersediakah kita membangun pemerintahan seperti yang diperintahkannya?
Semua penguasa mengaku dekat dengan rakyat. Tetapi berapa banyak rakyat yang dapat datang tanpa perantara?
Semua pejabat berkata siap mendengar. Tetapi berapa banyak keluhan yang berhenti di meja pembantu?
Semua kantor memasang tulisan pelayanan. Tetapi berapa banyak orang miskin yang pulang karena tidak mempunyai hubungan, uang, atau keberanian untuk melewati penjaga?
Mengikuti Ali bukan memasang namanya di ruang kerja.
Mengikuti Ali berarti membuka pintu ruang kerja itu.
Mengikuti Ali berarti seorang pemimpin berani duduk di lantai yang sama dengan rakyatnya, mendengar tanpa perantara, menjawab tanpa juru bicara, dan memberikan hak tanpa terlebih dahulu merendahkan orang yang memintanya.
Ali tidak meminta Qutsam membiarkan pemerintahan berjalan tanpa aturan.
Beliau meminta agar aturan tidak berubah menjadi tembok.
Keamanan diperlukan, tetapi penjaga tidak boleh menjadi pemilik pintu.
Administrasi diperlukan, tetapi prosedur tidak boleh membunuh keadilan.
Pejabat pembantu diperlukan, tetapi mereka tidak boleh menggantikan wajah dan telinga pemimpin.
Hari semakin terang.
Pintu kediaman gubernur Makkah berdiri terbuka.
Di luar, rakyat tidak lagi bertanya siapa yang harus mereka kenal agar dapat masuk.
Mereka hanya membawa kebutuhan.
Di dalam, Qutsam menunggu bukan sebagai penguasa yang sedang membagikan kemurahan hatinya, melainkan sebagai pelayan yang sedang mengembalikan hak manusia.
Di hadapannya duduk seorang lelaki tua.
Tidak ada penjaga di antara mereka.
Tidak ada perantara.
Hanya dua wajah yang saling memandang.
Sebab dalam pemerintahan Ali, rakyat tidak harus berteriak dari luar tembok agar didengar oleh kekuasaan.
Pintunya harus sudah terbuka.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Rujukan utama:
Nahjul Balaghah, Surat 67, surat Imam Ali a.s. kepada Qutsam bin Abbas selaku gubernur Makkah.
Perintahnya mencakup pelaksanaan haji, pertemuan pagi dan petang dengan masyarakat, pelayanan langsung tanpa perantara dan penghalang, penyaluran harta kepada keluarga yang membutuhkan, serta pelayanan bagi para peziarah. “Teks Surat 67”. Lihat pula QS al-Hajj [22]:25.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1DhirwFU4D/

