Teks Doa Kumail
> اللّٰهُمَّ وَمَنْ أَرَادَنِي بِسُوءٍ فَأَرِدْهُ
وَمَنْ كَادَنِي فَكِدْهُ
وَاجْعَلْنِي مِنْ أَحْسَنِ عَبِيدِكَ نَصِيبًا عِنْدَكَ
وَأَقْرَبِهِمْ مَنْزِلَةً مِنْكَ
وَأَخَصِّهِمْ زُلْفَةً لَدَيْكَ
فَإِنَّهُ لَا يُنَالُ ذَلِكَ إِلَّا بِفَضْلِكَ
وَجُدْ لِي بِجُودِكَ
وَاعْطِفْ عَلَيَّ بِمَجْدِكَ
وَاحْفَظْنِي بِرَحْمَتِكَ
وَاجْعَلْ لِسَانِي بِذِكْرِكَ لَهِجًا
وَقَلْبِي بِحُبِّكَ مُتَيَّمًا
وَمُنَّ عَلَيَّ بِحُسْنِ إِجَابَتِكَ
وَأَقِلْنِي عَثْرَتِي
وَاغْفِرْ زَلَّتِي
فَإِنَّكَ قَضَيْتَ عَلَى عِبَادِكَ بِعِبَادَتِكَ
وَأَمَرْتَهُمْ بِدُعَائِكَ
وَضَمِنْتَ لَهُمُ الْإِجَابَةَ
فَإِلَيْكَ يَا رَبِّ نَصَبْتُ وَجْهِي
وَإِلَيْكَ يَا رَبِّ مَدَدْتُ يَدِي
فَبِعِزَّتِكَ اسْتَجِبْ لِي دُعَائِي
وَبَلِّغْنِي مُنَايَ
وَلَا تَقْطَعْ مِنْ فَضْلِكَ رَجَائِي
وَاكْفِنِي شَرَّ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ مِنْ أَعْدَائِي
يَا سَرِيعَ الرِّضَا
اغْفِرْ لِمَنْ لَا يَمْلِكُ إِلَّا الدُّعَاءَ
فَإِنَّكَ فَعَّالٌ لِمَا تَشَاءُ
يَا مَنْ اسْمُهُ دَوَاءٌ
وَذِكْرُهُ شِفَاءٌ
وَطَاعَتُهُ غِنًى
ارْحَمْ مَنْ رَأْسُ مَالِهِ الرَّجَاءُ
وَسِلَاحُهُ الْبُكَاءُ
يَا سَابِغَ النِّعَمِ
يَا دَافِعَ النِّقَمِ
يَا نُورَ الْمُسْتَوْحِشِينَ فِي الظُّلَمِ
يَا عَالِمًا لَا يُعَلَّمُ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
وَافْعَلْ بِي مَا أَنْتَ أَهْلُهُ
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ وَالْأَئِمَّةِ الْمَيَامِينِ مِنْ آلِهِ
وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
Allāhumma wa man arādanī bisū’in fa-aridhu.
Wa man kādanī fakidhu.
Waj‘alnī min aḥsani ‘abīdika naṣīban ‘indaka.
Wa aqrabihim manzilatan minka.
Wa akhaṣṣihim zulfatan ladayka.
Fa innahu lā yunālu dzālika illā bifaḍlika.
Wa jud lī bijūdika.
Wa‘ṭif ‘alayya bimajdika.
Waḥfaẓnī biraḥmatika.
Waj‘al lisānī bidzikrika lahijan.
Wa qalbī biḥubbika mutayyaman.
Wa munna ‘alayya biḥusni ijābatika.
Wa aqilnī ‘atsratī.
Waghfir zallatī.
Fa innaka qaḍayta ‘alā ‘ibādika bi‘ibādatika.
Wa amartahum bidu‘ā’ika.
Wa ḍaminta lahumu al-ijābata.
Fa ilayka yā Rabbi naṣabtu wajhī.
Wa ilayka yā Rabbi madadtu yadī.
Fa bi‘izzatika istajib lī du‘ā’ī.
Wa ballighnī munāya.
Wa lā taqṭa‘ min faḍlika rajā’ī.
Wakfinī syarra al-jinni wa al-insi min a‘dā’ī.
Yā sarī‘a ar-riḍā.
Ighfir liman lā yamliku illā ad-du‘ā’a.
Fa innaka fa‘‘ālun limā tasyā’u.
Yā man ismuhu dawā’un.
Wa dzikruhu syifā’un.
Wa ṭā‘atuhu ghinā.
Irḥam man ra’su mālihi ar-rajā’u.
Wa silāḥuhu al-bukā’u.
Yā sābigha an-ni‘ami.
Yā dāfi‘a an-niqami.
Yā nūra al-mustawḥisyīna fī aẓ-ẓulami.
Yā ‘āliman lā yu‘allamu.
Ṣalli ‘alā Muḥammadin wa Āli Muḥammadin.
Waf‘al bī mā anta ahluhu.
Wa ṣallā Allāhu ‘alā Rasūlihi wa al-a’immati al-mayāmīna min ālihi.
Wa sallama taslīman katsīran.
“Ya Allah, siapa pun yang menghendaki keburukan bagiku, gagalkanlah kehendak buruknya. Siapa yang membuat tipu daya terhadapku, patahkanlah tipu dayanya.
Jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang memperoleh bagian terbaik di sisi-Mu, yang paling dekat kedudukannya kepada-Mu, dan yang paling khusus kedekatannya di hadapan-Mu. Sebab semua itu tidak dapat dicapai kecuali dengan karunia-Mu.
Bermurah hatilah kepadaku dengan kemurahan-Mu. Limpahkan kelembutan-Mu kepadaku dengan kemuliaan-Mu. Jagalah aku dengan rahmat-Mu. Jadikanlah lidahku senantiasa menyebut-Mu dan hatiku tenggelam dalam cinta kepada-Mu.
Karuniakanlah kepadaku jawaban-Mu yang baik. Bangkitkanlah aku dari ketergelinciranku dan ampunilah kesalahanku. Sesungguhnya Engkau telah menetapkan pengabdian kepada-Mu atas hamba-hamba-Mu, memerintahkan mereka agar berdoa kepada-Mu, dan menjanjikan jawaban bagi mereka.
Maka kepada-Mu, wahai Tuhanku, kuhadapkan wajahku. Kepada-Mu, wahai Tuhanku, kuulurkan tanganku. Demi kemuliaan-Mu, jawablah doaku, sampaikanlah aku kepada cita-citaku, dan janganlah Engkau memutus harapanku terhadap karunia-Mu. Lindungilah aku dari kejahatan musuh-musuhku, baik dari golongan jin maupun manusia.
Wahai Yang Mahacepat rida-Nya, ampunilah orang yang tidak memiliki apa pun selain doa. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa melakukan apa pun yang Engkau kehendaki.
Wahai Dia yang nama-Nya adalah obat, mengingat-Nya adalah penyembuhan, dan menaati-Nya adalah kekayaan. Kasihanilah orang yang modalnya hanyalah harapan dan senjatanya hanyalah tangisan.
Wahai Yang melimpahkan dan menyempurnakan nikmat. Wahai Yang menolak hukuman dan malapetaka. Wahai Cahaya bagi mereka yang merasa sendiri di tengah berbagai kegelapan. Wahai Yang Maha Mengetahui tanpa pernah diajari.
Limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Perlakukanlah aku dengan sesuatu yang layak bagi-Mu—bukan menurut apa yang layak bagiku.
Semoga Allah melimpahkan salawat kepada Rasul-Nya dan kepada para Imam penuh berkah dari keluarganya, serta melimpahkan salam yang sebanyak-banyaknya.”
Tema utama
Setelah mengakui dosa, menangisi keterpisahan, memohon kekuatan, dan berjanji mengabdi, seorang hamba tetap tidak menjadikan amalnya sebagai modal keselamatan.
Modal terakhirnya hanyalah harapan, senjatanya air mata, dan sandarannya ialah kemurahan Allah serta salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
Puncak bagian ini terdapat pada kalimat:
> وَافْعَلْ بِي مَا أَنْتَ أَهْلُهُ
“Perlakukanlah aku sesuai dengan apa yang layak bagi-Mu.”
Hamba tidak berkata, “Perlakukanlah aku sesuai dengan amal baikku.” Ia mengetahui bahwa amalnya terlalu kecil dan bercampur kekurangan. Ia memohon agar Allah memperlakukannya menurut keluasan rahmat, kemurahan, dan kemuliaan-Nya.
Ayat-ayat Al-Qur’an
- QS Ghafir 40:60
> وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku menjawab kalian.”
Doa Kumail menggemakan ayat ini secara langsung: Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa dan menjanjikan jawaban. Namun jawaban Allah tidak harus selalu mengambil bentuk dan waktu yang kita tentukan.
Doa adalah penyerahan kepada hikmah-Nya, bukan kontrak yang memaksa kehendak-Nya.
- QS Yusuf 12:87
> وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Janganlah kalian berputus asa dari pertolongan dan rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang ingkar.”
Harapan bukan khayalan orang yang menolak kenyataan. Nabi Ya‘qub as mengucapkan ayat ini ketika kesedihannya telah berlangsung lama. Harapan justru merupakan keteguhan untuk tetap mencari jalan di tengah keadaan yang tampak tertutup.
- QS Al-Ahzab 33:56
> إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kepadanya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”
Doa Kumail tidak ditutup dengan salawat yang terputus. Muhammad saw disebut bersama Āli Muhammad, lalu penutupnya kembali menegaskan para Imam penuh berkah dari keluarganya.
Dalam jalan Ahlul Bait, mendekat kepada Rasulullah saw tidak dilakukan dengan memisahkan beliau dari keluarga suci yang menjadi pewaris ilmu dan penjaga risalahnya.
Riwayat Ahlul Bait
Diriwayatkan dari Imam Ja‘far ash-Shadiq as:
> مَنْ كَانَتْ لَهُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَاجَةٌ فَلْيَبْدَأْ بِالصَّلَاةِ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ، ثُمَّ يَسْأَلُ حَاجَتَهُ، ثُمَّ يَخْتِمُ بِالصَّلَاةِ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
“Barang siapa mempunyai kebutuhan kepada Allah Yang Mahamulia, hendaklah ia memulai dengan salawat kepada Muhammad dan keluarganya, kemudian menyampaikan kebutuhannya, lalu menutupnya dengan salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.”
Riwayat tersebut melanjutkan bahwa Allah terlalu pemurah untuk menerima kedua ujung doa—salawat pembuka dan penutup—lalu meninggalkan permohonan yang berada di tengahnya.
Kerangka pembahasan
- Perlindungan Ilahi membebaskan hati dari obsesi membalas musuh.
- Kedudukan ruhani tidak dicapai dengan tuntutan, melainkan karunia Allah.
- Kesatuan antara lidah yang berzikir dan hati yang dipenuhi cinta.
- Doa merupakan perintah Allah dan pengakuan akan kefakiran manusia.
- Jawaban Allah selalu berada di dalam ilmu dan hikmah-Nya.
- Nama Allah sebagai obat, zikir sebagai penyembuhan, dan ketaatan sebagai kekayaan.
- Harapan merupakan modal terakhir, sedangkan air mata adalah senjata melawan kekerasan hati.
- Doa berakhir dengan salawat lengkap kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
- Puncak kepasrahan: meminta Allah memperlakukan kita sesuai dengan kemurahan-Nya, bukan sesuai dengan kekurangan kita.
Pembuka syarah
Setelah seratus bagian, Doa Kumail membawa kita kembali ke tempat perjalanan ini bermula: berdiri di hadapan Allah dengan tangan kosong.
Namun kekosongan pada akhir perjalanan berbeda dari kekosongan pada awalnya.
Pada awal doa, seorang hamba baru menyadari betapa besar rahmat Allah. Sepanjang perjalanan, ia mengenali dosa-dosanya, menyaksikan kelemahannya, menangisi hijab yang memisahkan, memohon pengampunan, lalu meminta kekuatan untuk mengabdi.
Setelah melalui semuanya, apakah ia akhirnya merasa mempunyai banyak amal untuk dibanggakan?
Tidak.
Ia justru berkata:
> “Kasihanilah orang yang modalnya hanyalah harapan dan senjatanya hanyalah tangisan.”
Itulah hasil pendidikan Doa Kumail.
Semakin jauh seorang hamba berjalan menuju Allah, semakin kecil dirinya di dalam pandangannya sendiri. Bukan karena ia kehilangan martabat, melainkan karena ia semakin mengenal keagungan Tuhannya.
Ia tidak lagi datang membawa daftar amal seolah-olah Allah mempunyai utang kepadanya. Ia datang membawa kebutuhan, harapan, dan air mata.
Bagian penutup ini mula-mula meminta perlindungan dari orang-orang yang menghendaki keburukan:
> “Siapa yang menghendaki keburukan bagiku, gagalkanlah kehendak buruknya. Siapa yang membuat tipu daya terhadapku, patahkanlah tipu dayanya.”
Ini bukan pendidikan untuk hidup dalam kecurigaan atau kegemaran membalas. Justru hamba menyerahkan urusan musuhnya kepada Allah agar dirinya tidak dihabiskan oleh dendam.
Ia tidak meminta izin untuk menjadi zalim kepada orang yang menzaliminya. Ia memohon agar Allah mencukupinya dari kejahatan mereka.
Ada saat ketika membela diri menjadi kewajiban. Namun ada pula saat ketika memikirkan musuh terlalu lama membuat musuh itu memperoleh tempat tinggal di dalam hati kita.
Doa membebaskan hati dari penjajahan tersebut.
Kita melakukan apa yang benar, menjaga diri dengan ikhtiar yang wajar, lalu menyerahkan bagian yang tidak mampu kita kuasai kepada Allah. Sebab kemenangan terbesar bukan hanya ketika rencana musuh gagal.
Kemenangan terbesar adalah ketika keburukan mereka gagal mengubah kita menjadi manusia yang serupa dengan mereka.
Setelah meminta perlindungan, hamba memohon bagian terbaik, kedudukan terdekat, dan kedekatan paling khusus di sisi Allah. Permohonan ini terdengar sangat tinggi. Namun segera setelah mengucapkannya, ia mengakui:
> “Semua itu tidak dapat dicapai kecuali dengan karunia-Mu.”
Inilah perbedaan antara cita-cita ruhani dan kesombongan ruhani.
Kita boleh menginginkan kedekatan tertinggi kepada Allah. Kita boleh memohon agar dihimpunkan bersama Rasulullah saw dan Ahlul Baitnya. Namun kita tidak boleh menganggap ibadah kita telah menjadikan Allah berkewajiban memberikan kedudukan tersebut.
Bahkan kemampuan untuk bersujud adalah pemberian.
Waktu yang digunakan untuk berdoa adalah pemberian.
Hati yang masih dapat menyesal adalah pemberian.
Kerinduan untuk mendekat pun merupakan pemberian.
Kita berjalan, tetapi Allah yang memberikan kaki. Kita mengetuk, tetapi Allah yang menciptakan pintu. Kita memohon, tetapi Allah pula yang mengajarkan kata-kata permohonan.
Karena itu, hamba kemudian meminta:
> “Jadikanlah lidahku senantiasa menyebut-Mu dan hatiku tenggelam dalam cinta kepada-Mu.”
Lidah dan hati kembali dipertemukan.
Lidah dapat menyebut Allah sementara hati mencintai dunia secara berlebihan. Hati dapat mengaku mencintai Allah sementara lidah terus melukai manusia. Doa Kumail meminta agar zikir dan cinta saling membenarkan.
Zikir menjaga cinta agar tidak kehilangan arah.
Cinta menjaga zikir agar tidak menjadi pengulangan tanpa jiwa.
Kemudian hamba mengingat janji Tuhannya:
> “Engkau memerintahkan mereka agar berdoa kepada-Mu dan menjanjikan jawaban bagi mereka.”
Allah tidak memerlukan doa kita. Kitalah yang memerlukan doa agar tidak terperangkap dalam anggapan bahwa kita dapat mengurus kehidupan seorang diri.
Doa bukan pemberitahuan kepada Tuhan yang tidak mengetahui keadaan kita. Doa adalah pembongkaran kesombongan manusia.
Ketika tangan diangkat, manusia sedang mengakui bahwa seluruh kekuatannya mempunyai batas. Ketika wajah diarahkan kepada Allah, ia sedang meninggalkan seluruh arah yang selama ini dianggap sebagai sumber keselamatan mutlak.
Namun janji jawaban tidak berarti Allah harus mengikuti susunan keinginan kita.
Kadang-kadang Allah memberikan apa yang diminta. Kadang Dia menundanya. Kadang Dia menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Kadang jawaban-Nya berbentuk perlindungan dari sesuatu yang tidak pernah kita ketahui.
Hamba meminta berdasarkan pandangannya yang pendek. Allah menjawab berdasarkan ilmu-Nya yang tidak terbatas.
Karena itu, doa yang belum terwujud bukan alasan untuk memutus harapan:
> “Janganlah Engkau memutus harapanku terhadap karunia-Mu.”
Harapan kepada Allah bukan keyakinan bahwa semua keinginan kita pasti dipenuhi sesuai jadwal yang kita tetapkan. Harapan adalah keyakinan bahwa apa pun keputusan Allah, kita tidak pernah dikeluarkan dari pemeliharaan-Nya.
Lalu sampailah doa ini pada salah satu kalimatnya yang paling indah:
> “Wahai Dia yang nama-Nya adalah obat, mengingat-Nya adalah penyembuhan, dan menaati-Nya adalah kekayaan.”
Nama Allah disebut sebagai obat. Namun ini tidak boleh diturunkan menjadi formula magis yang dipisahkan dari iman, akhlak, ikhtiar, dan ketaatan.
Doa tidak berkata hanya nama-Nya obat. Ia langsung melanjutkan:
> “Mengingat-Nya adalah penyembuhan, dan menaati-Nya adalah kekayaan.”
Nama, zikir, dan ketaatan merupakan satu kesatuan.
Zikir menyembuhkan hati dari anggapan bahwa dunia adalah segala-galanya. Ketaatan menyembuhkan kehidupan dari kekacauan yang lahir ketika hawa nafsu menjadi penguasa.
Cinta kepada Allah menyembuhkan manusia dari kebutuhan yang tidak berkesudahan untuk diakui makhluk.
Ini juga tidak berarti orang beriman harus meninggalkan pengobatan ketika sakit. Dokter, ilmu, obat-obatan, dan perawatan merupakan bagian dari sebab-sebab yang disediakan Allah.
Hanya saja, hati tidak menjadikan sebab sebagai Tuhan. Kesembuhan tetap berasal dari Allah, meskipun datang melalui tangan manusia dan ilmu kedokteran.
Setelah itu, hamba menyebut seluruh kekayaannya:
> “Modalnya hanyalah harapan.”
Seorang pedagang membawa modal untuk memperoleh keuntungan. Seorang penguasa membawa kekuatan. Seorang yang merasa saleh mungkin membawa amalnya.
Namun pendosa yang telah melihat dirinya dengan jujur tidak berani membawa semua itu sebagai tuntutan di hadapan Allah.
Modalnya hanyalah harapan.
Harapan bukan alasan untuk terus bermaksiat. Harapan yang benar justru mendorong manusia meninggalkan dosa karena ia percaya bahwa kepulangan masih mungkin dilakukan.
Kemudian ia berkata:
> “Senjatanya hanyalah tangisan.”
Air mata tidak digunakan untuk mengalahkan Allah. Tidak ada seorang pun dapat memaksa-Nya melalui tangisan.
Air mata adalah senjata untuk mengalahkan kekerasan di dalam diri sendiri.
Ia meruntuhkan kesombongan yang membuat kita enggan mengaku salah. Ia melunakkan hati yang telah lama membela dosa. Ia membersihkan mata yang terlalu lama silau oleh dunia.
Tidak semua tangisan mengeluarkan air mata. Ada hati yang menangis ketika mata tidak mampu mengalirkannya. Allah mengetahui tangisan yang bersuara dan kesedihan yang tidak pernah menemukan kata.
Lalu terdengar sebuah seruan yang sangat lembut:
> “Wahai Cahaya bagi mereka yang merasa sendiri di tengah berbagai kegelapan.”
Kegelapan disebut dalam bentuk jamak.
Ada kegelapan dosa. Ada kegelapan kehilangan. Ada kegelapan fitnah, ketidakpastian, pengkhianatan, penyakit, dan ketakutan. Ada pula kegelapan yang dialami seseorang ketika ia dikelilingi banyak manusia, tetapi tidak seorang pun sungguh memahami keadaan hatinya.
Allah adalah cahaya bagi orang yang sendirian di tengah semua kegelapan itu.
Dia tidak selalu langsung menghilangkan malam. Kadang-kadang Dia memberikan cahaya yang cukup agar hamba dapat menempuh satu langkah berikutnya.
Dan satu langkah bersama cahaya Allah lebih aman daripada perjalanan panjang dengan cahaya kesombongan sendiri.
Doa kemudian sampai pada salawat:
> “Limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.”
Doa Kumail tidak mengakhiri perjalanan dengan memisahkan Rasulullah saw dari keluarganya. Salawatnya bukan salawat yang terpotong. Muhammad dan Āli Muhammad berdiri dalam satu tarikan doa.
Bahkan kalimat berikutnya kembali menegaskan:
> “Dan kepada para Imam penuh berkah dari keluarganya.”
Seakan-akan Doa Kumail memperlihatkan jalan pulang itu secara lengkap: menuju Allah, melalui petunjuk Rasul-Nya, bersama keluarga suci yang mewarisi ilmu, akhlak, dan cahaya risalahnya.
Namun puncak kepasrahan doa ini terdapat pada satu kalimat:
> “Perlakukanlah aku sesuai dengan apa yang layak bagi-Mu.”
Kalimat ini mengubah seluruh dasar permohonan.
Jika Allah memperlakukan kita semata-mata berdasarkan apa yang layak bagi amal kita, apa yang dapat kita banggakan?
Berapa banyak ibadah yang tercampur kelalaian?
Berapa banyak kebaikan yang diam-diam menginginkan pujian?
Berapa banyak taubat yang kemudian dilanggar kembali?
Berapa banyak nikmat yang diterima tanpa syukur yang sepadan?
Karena itu, hamba tidak berkata:
> “Ya Allah, perlakukanlah aku sesuai dengan apa yang pantas kuterima.”
Ia berkata:
> “Perlakukanlah aku sesuai dengan apa yang layak bagi-Mu.”
Yang layak bagi Allah adalah kemurahan.
Yang layak bagi Allah adalah rahmat.
Yang layak bagi Allah adalah menutupi aib, menerima kepulangan, menyembuhkan hati, dan mengangkat hamba yang terjatuh ketika ia kembali mengetuk pintu-Nya.
Doa Kumail dimulai dengan rahmat yang meliputi segala sesuatu dan berakhir dengan penyerahan kepada kemurahan yang hanya layak bagi Allah.
Di antara awal dan akhirnya, seorang hamba telah mengaku, menangis, takut, berharap, mencintai, dan memohon kekuatan untuk berubah.
Namun pada kalimat terakhir, ia tetap tidak membawa dirinya sebagai pusat.
Ia menyerahkan semuanya kepada Allah, kemudian menitipkan doanya dalam salawat kepada Muhammad, keluarga Muhammad, serta para Imam penuh berkah dari keturunan Rasulullah saw.
Itulah akhir Doa Kumail.
Bukan keputusasaan.
Bukan pula kebanggaan atas amal.
Ia berakhir dengan harapan, air m
Bukan keputusasaan.
Bukan pula kebanggaan atas amal.
Ia berakhir dengan harapan, air mata, cahaya, salawat, dan penyerahan.
Seakan-akan hamba itu berkata:
“Ya Allah, setelah seluruh pengakuan ini, aku tetap tidak mempunyai sesuatu yang layak kubawa kepada-Mu. Maka jangan perlakukan aku menurut kecilnya amal dan besarnya kesalahanku. Perlakukanlah aku menurut keluasan rahmat dan kemuliaan-Mu.”
Sebab modal terakhir seorang hamba adalah harapan.
Senjata terakhirnya adalah air mata.
Dan pintu terakhir yang diketuknya tetaplah rahmat Allah—dengan salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn. Dengan ini, rangkaian Syarah Doa Kumail—100 Bagian telah selesai untuk Sementara

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19jRympUgH/

