Teks Doa Kumail
> يَا رَبِّ يَا رَبِّ يَا رَبِّ
يَا إِلٰهِي وَسَيِّدِي وَمَوْلَايَ وَمَالِكَ رِقِّي
يَا مَنْ بِيَدِهِ نَاصِيَتِي
يَا عَلِيمًا بِضُرِّي وَمَسْكَنَتِي
يَا خَبِيرًا بِفَقْرِي وَفَاقَتِي
يَا رَبِّ يَا رَبِّ يَا رَبِّ
أَسْأَلُكَ بِحَقِّكَ وَقُدْسِكَ
وَأَعْظَمِ صِفَاتِكَ وَأَسْمَائِكَ
أَنْ تَجْعَلَ أَوْقَاتِي فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ بِذِكْرِكَ مَعْمُورَةً
وَبِخِدْمَتِكَ مَوْصُولَةً
وَأَعْمَالِي عِنْدَكَ مَقْبُولَةً
حَتَّىٰ تَكُونَ أَعْمَالِي وَأَوْرَادِي كُلُّهَا وِرْدًا وَاحِدًا
وَحَالِي فِي خِدْمَتِكَ سَرْمَدًا
يَا سَيِّدِي يَا مَنْ عَلَيْهِ مُعَوَّلِي
يَا مَنْ إِلَيْهِ شَكَوْتُ أَحْوَالِي
يَا رَبِّ يَا رَبِّ يَا رَبِّ
Yā Rabbi, yā Rabbi, yā Rabbi.
Yā Ilāhī wa Sayyidī wa Mawlāya wa Mālika riqqī.
Yā man biyadihi nāṣiyatī.
Yā ‘alīman biḍurrī wa maskanatī.
Yā khabīran bifaqrī wa fāqatī.
Yā Rabbi, yā Rabbi, yā Rabbi.
As’aluka biḥaqqika wa qudsika,
wa a‘ẓami ṣifātika wa asmā’ika,
an taj‘ala awqātī fī al-layli wa an-nahāri bidzikrika ma‘mūratan,
wa bikhidmatika mawṣūlatan,
wa a‘mālī ‘indaka maqbūlatan,
ḥattā takūna a‘mālī wa awrādī kulluhā wirdan wāḥidan,
wa ḥālī fī khidmatika sarmadan.
Yā Sayyidī, yā man ‘alayhi mu‘awwalī.
Yā man ilayhi syakawtu aḥwālī.
Yā Rabbi, yā Rabbi, yā Rabbi.
“Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku, wahai Tuhanku!
Wahai sembahanku, junjunganku, pelindungku, dan Pemilik penghambaan diriku. Wahai Dia yang di tangan-Nya seluruh arah kehidupanku. Wahai Yang mengetahui penderitaan dan kerendahanku. Wahai Yang sepenuhnya mengetahui kefakiran dan kebutuhanku.
Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku, wahai Tuhanku!
Aku memohon kepada-Mu dengan kebenaran dan kesucian-Mu, serta dengan sifat-sifat dan nama-nama-Mu yang teragung: jadikanlah seluruh waktuku pada malam dan siang dihidupkan oleh zikir kepada-Mu, disambungkan dengan pengabdian kepada-Mu, dan jadikanlah amal-amalku diterima di sisi-Mu—hingga seluruh amal dan wiridku menjadi satu wirid, dan keadaanku dalam mengabdi kepada-Mu menjadi terus-menerus.
Wahai Junjunganku, wahai Dia yang kepada-Nya aku bersandar. Wahai Dia yang kepada-Nya kuadukan seluruh keadaanku.
Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku, wahai Tuhanku!”
Tema utama
Kesempurnaan penghambaan bukan hanya memperbanyak waktu ibadah tertentu, melainkan menyatukan seluruh kehidupan—salat, pekerjaan, keluarga, istirahat, ilmu, dan pelayanan—ke dalam satu arah menuju Allah.
Bagian ini berbeda dari pembahasan zikir sebelumnya.
Di sini permohonannya bukan hanya agar lidah mengingat Allah, tetapi agar seluruh malam dan siang “dihuni” oleh zikir, setiap kegiatan disambungkan kepada pengabdian, dan semua amal diterima sebagai satu perjalanan yang utuh.
Ayat-ayat Al-Qur’an
- QS Al-An‘am 6:162
> قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
Tauhid tidak hanya mengarahkan salat kepada Allah. Ia mengarahkan seluruh hidup dan kematian kepada-Nya. Seorang mukmin berpindah dari salat menuju pekerjaan, tetapi tidak berpindah dari satu Tuhan menuju tuhan yang lain.
- QS An-Nur 24:37
> رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ
“Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan salat, dan menunaikan zakat.”
Al-Qur’an tidak memuji orang yang meninggalkan perdagangan, melainkan orang yang berdagang tanpa kehilangan Allah. Pekerjaannya berjalan, tetapi hatinya tidak diperbudak oleh keuntungan.
- QS Al-Baqarah 2:127
> وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail, keduanya berdoa: ‘Wahai Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’”
Nabi Ibrahim as sedang membangun Ka‘bah—amal yang sangat agung—tetapi tetap mengkhawatirkan penerimaannya.
Inilah adab para kekasih Allah: mereka tidak hanya bertanya, “Berapa banyak yang telah kulakukan?” Mereka bertanya, “Apakah Allah berkenan menerimanya?”
Riwayat Ahlul Bait
Al-Kulaini meriwayatkan melalui Imam Ja‘far ash-Shadiq as, dari para leluhurnya, dari Amirul Mukminin Ali as, bahwa Rasulullah saw bersabda:
> لَا قَوْلَ إِلَّا بِعَمَلٍ، وَلَا قَوْلَ وَلَا عَمَلَ إِلَّا بِنِيَّةٍ، وَلَا قَوْلَ وَلَا عَمَلَ وَلَا نِيَّةَ إِلَّا بِإِصَابَةِ السُّنَّةِ
“Tidak sempurna perkataan tanpa perbuatan; tidak sempurna perkataan dan perbuatan tanpa niat; dan tidak sempurna perkataan, perbuatan, serta niat tanpa kesesuaian dengan Sunnah.”
Riwayat ini menunjukkan bahwa niat baik saja tidak dapat mengubah perbuatan haram menjadi ibadah. Agar kehidupan menjadi satu wirid, niat, tindakan, dan jalan yang ditempuh harus sama-sama benar.
Kerangka pembahasan
- Makna pengulangan “Yā Rabbi” sebagai ketergantungan, bukan pengulangan kosong.
- Penghambaan kepada Allah membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu dan penilaian makhluk.
- Waktu dapat ramai oleh kegiatan tetapi tetap kosong dari zikir.
- Zikir yang sejati menyambungkan kegiatan sehari-hari kepada pelayanan kepada Allah.
- Banyaknya amal tidak menjamin penerimaannya.
- Niat baik harus disertai perbuatan yang benar dan sesuai petunjuk Ilahi.
- Satu wirid berarti satu orientasi hidup, bukan hanya satu ucapan yang terus diulang.
- Mengadukan keadaan kepada Allah berbeda dari mengeluhkan Allah.
Pembuka syarah
Kita sering membagi kehidupan menjadi dua ruangan.
Satu ruangan kita sebut ruang agama: salat, doa, zikir, tilawah, dan majelis ilmu. Ruangan lainnya kita sebut kehidupan biasa: pekerjaan, perdagangan, keluarga, perjalanan, percakapan, istirahat, dan berbagai urusan yang memenuhi malam serta siang.
Ketika berada di ruang pertama, kita merasa sedang bersama Allah.
Ketika memasuki ruang kedua, seakan-akan kita keluar dari penghambaan dan kembali mengurus dunia seorang diri.
Doa Kumail datang untuk meruntuhkan dinding pemisah itu.
> “Jadikanlah seluruh waktuku pada malam dan siang dihidupkan oleh zikir kepada-Mu, disambungkan dengan pengabdian kepada-Mu, dan jadikanlah amal-amalku diterima di sisi-Mu.”
Doa ini tidak meminta agar seluruh manusia meninggalkan pekerjaannya lalu duduk sepanjang hari sambil menggerakkan tasbih.
Ia meminta sesuatu yang lebih dalam: agar pekerjaan tidak memutus hubungan dengan Allah, perdagangan tidak melalaikan dari-Nya, istirahat tidak berubah menjadi kelengahan, dan kesibukan tidak mencuri tujuan hidup.
Seseorang dapat bekerja tanpa meninggalkan zikir apabila ia mencari rezeki melalui jalan yang halal, menjaga amanah, tidak menipu, dan meniatkan hasilnya untuk menunaikan tanggung jawab.
Seorang ibu dapat berada dalam pengabdian ketika merawat anaknya dengan kesabaran. Seorang ayah dapat berzikir melalui perjuangannya menjaga keluarga dari yang haram.
Seorang guru dapat menjadikan ruang kelas sebagai tempat ibadah ketika ilmu disampaikan dengan jujur dan penuh kasih.
Namun tidak semua kegiatan otomatis berubah menjadi ibadah hanya karena diberi niat yang indah.
Kebohongan tidak menjadi pengabdian karena dilakukan demi keluarga. Kezaliman tidak berubah menjadi amal saleh karena pelakunya mengaku sedang membela agama.
Harta haram tidak menjadi suci hanya karena sebagian darinya disedekahkan.
Niat harus benar, perbuatannya harus benar, dan jalan yang ditempuh pun harus benar.
Itulah sebabnya Doa Kumail tidak hanya meminta agar waktu dipenuhi zikir. Ia juga meminta agar waktu itu disambungkan dengan pelayanan dan amalnya diterima. Ketiga permohonan ini tidak dapat dipisahkan.
Zikir tanpa pelayanan dapat berubah menjadi pengalaman batin yang tidak melahirkan tanggung jawab. Pelayanan tanpa zikir dapat berubah menjadi kegiatan yang mencari pujian manusia.
Amal tanpa perhatian kepada penerimaan Allah dapat berubah menjadi kebanggaan ruhani.
Doa ini menyatukan semuanya.
Ungkapan “jadikanlah waktuku dipenuhi oleh zikir kepada-Mu” memakai kata ma‘mūrah—dihidupkan, diramaikan, dan dimakmurkan. Waktu kita selalu dihuni oleh sesuatu.
Jika tidak dihuni oleh kesadaran kepada Allah, ia akan dihuni oleh kecemasan, ambisi, kelalaian, penyesalan, atau keinginan untuk dipuji.
Manusia dapat mempunyai jadwal yang sangat penuh, tetapi kehidupan batinnya kosong.
Ia bergerak dari satu pertemuan menuju pertemuan lain, membalas banyak pesan, menyelesaikan banyak urusan, dan bertemu banyak manusia.
Namun sepanjang hari itu, ia tidak pernah sungguh-sungguh mengingat untuk siapa dirinya hidup.
Doa Kumail tidak hanya meminta waktu yang sibuk. Ia meminta waktu yang berpenghuni.
Penghuninya adalah ingatan kepada Allah.
Kemudian doa ini meminta:
> “Hingga seluruh amal dan wiridku menjadi satu wirid.”
Menjadi satu wirid tidak berarti kita hanya mengucapkan satu kalimat sepanjang hari. Ia berarti seluruh kegiatan mempunyai satu kiblat.
Salat menghadap kepada Allah. Pekerjaan juga menghadap kepada Allah. Cara mendapatkan harta menghadap kepada Allah. Cara memperlakukan keluarga menghadap kepada Allah.
Bahkan cara beristirahat pun diarahkan agar tubuh memperoleh kekuatan untuk kembali menunaikan amanah-Nya.
Bentuk kegiatannya bermacam-macam, tetapi tujuan terdalamnya satu.
Inilah kehidupan yang tidak terpecah.
Orang seperti ini tidak hanya menjadi hamba ketika berada di atas sajadah.
Ia tetap menjadi hamba ketika memegang uang, ketika mempunyai kekuasaan, ketika berbicara kepada orang lemah, ketika tidak ada seorang pun yang mengawasinya, dan ketika harus memilih antara keuntungan pribadi dan keridaan Allah.
Akan tetapi, setelah memohon seluruh waktu menjadi pengabdian, hamba itu tidak membanggakan amalnya. Ia segera berkata:
> “Jadikanlah amal-amalku diterima di sisi-Mu.”
Ia mengetahui adanya perbedaan antara amal yang dikerjakan dan amal yang diterima.
Nabi Ibrahim as meninggikan fondasi Ka‘bah bersama Nabi Ismail as. Mereka tidak berkata, “Kami telah membangun rumah-Mu; tentu amal kami diterima.” Mereka justru berdoa dengan rendah hati:
> “Wahai Tuhan kami, terimalah dari kami.”
Orang yang hanya memandang amalnya akan mudah merasa besar. Orang yang memandang penerimaan Allah akan selalu merasa membutuhkan rahmat.
Boleh jadi sebuah amal tampak besar di hadapan manusia, tetapi kosong karena riya. Sebaliknya, amal yang nyaris tidak terlihat dapat menjadi sangat besar karena keikhlasan. Manusia mengukur bentuk dan jumlah; Allah mengetahui niat, kesungguhan, serta rahasia hati.
Karena itu, bagian ini dibuka dan ditutup dengan seruan yang sama:
> “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.”
Pengulangan itu bukan karena Allah tidak mendengar seruan pertama. Pengulangan tersebut menggambarkan hati yang tidak mempunyai tempat bersandar selain Dia.
Sebelum meminta, hamba mengakui bahwa Allah mengetahui penderitaan, kehinaan, kefakiran, dan kebutuhannya. Sesudah meminta, ia kembali mengakui:
> “Wahai Dia yang kepada-Nya aku bersandar. Wahai Dia yang kepada-Nya kuadukan seluruh keadaanku.”
Mengadukan keadaan kepada Allah bukanlah mengeluhkan Allah.
Mengeluhkan Allah lahir dari prasangka bahwa Dia memperlakukan kita secara tidak adil. Mengadu kepada Allah lahir dari keyakinan bahwa hanya Dia yang sepenuhnya memahami luka, kelemahan, dan kebutuhan kita.
Nabi Ya‘qub as mengadukan kesedihan kepada Allah tanpa kehilangan kepercayaan kepada-Nya.
Demikian pula pembaca Doa Kumail: ia membawa seluruh keadaannya kepada Tuhan—bukan karena Tuhan tidak mengetahui, tetapi karena dirinya tidak lagi ingin memikul semuanya sendirian.
Pada akhirnya, hidup yang menjadi satu wirid bukanlah hidup tanpa pekerjaan dunia. Ia adalah hidup yang tidak mempunyai bagian tanpa Tuhan.
Kita tetap berpindah dari salat menuju pekerjaan, dari rumah menuju perjalanan, dari berbicara menuju diam, dan dari kesibukan menuju istirahat. Namun di dalam seluruh perpindahan itu, hati tidak berpindah kepada tuhan yang lain.
Tugas kita bermacam-macam, tetapi penghambaan kita satu.
Langkah kita menempuh banyak jalan, tetapi seluruhnya diarahkan kepada satu tujuan.
Dan ketika salat, pekerjaan, cinta, tanggung jawab, pelayanan, bahkan istirahat telah menghadap kepada kiblat yang sama, seluruh kehidupan perlahan menjadi satu wirid—panjang, utuh, dan tidak terputus—di hadapan Allah.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/18YWkHVJ8R/

