27 Oktober 2026

Teks Doa Kumail

> أَفَتُرَاكَ، سُبْحَانَكَ يَا إِلَهِي وَبِحَمْدِكَ، تَسْمَعُ فِيهَا صَوْتَ عَبْدٍ مُسْلِمٍ

سُجِنَ فِيهَا بِمُخَالَفَتِهِ

وَذَاقَ طَعْمَ عَذَابِهَا بِمَعْصِيَتِهِ

وَحُبِسَ بَيْنَ أَطْبَاقِهَا بِجُرْمِهِ وَجَرِيرَتِهِ

وَهُوَ يَضِجُّ إِلَيْكَ ضَجِيجَ مُؤَمِّلٍ لِرَحْمَتِكَ

وَيُنَادِيكَ بِلِسَانِ أَهْلِ تَوْحِيدِكَ

وَيَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِرُبُوبِيَّتِكَ

A-fa turāka, subḥānaka yā Ilāhī wa biḥamdika, tasma‘u fīhā ṣawta ‘abdin muslimin, sujina fīhā bimukhālafatihi, wa dzāqa ṭa‘ma ‘adzābihā bima‘ṣiyatihi, wa ḥubisa bayna aṭbāqihā bijurmihi wa jarīratihi, wa huwa yaḍijju ilayka ḍajīja mu’ammilin liraḥmatika, wa yunādīka bilisāni ahli tawḥīdika, wa yatawassalu ilayka birubūbiyyatika.

“Apakah mungkin—Mahasuci Engkau, wahai Tuhanku, dan segala puji bagi-Mu—Engkau mendengar di dalamnya suara seorang hamba yang berserah diri; yang dipenjarakan di sana karena pelanggarannya, merasakan azabnya karena kemaksiatannya, dan ditahan di antara lapisan-lapisannya karena dosa serta kejahatannya; sementara ia merintih kepada-Mu dengan rintihan orang yang mengharapkan rahmat-Mu, memanggil-Mu dengan lisan ahli tauhid, dan bertawasul kepada-Mu dengan rububiyah-Mu?”

Catatan kesinambungan teks

Bagian ini tepat melanjutkan panggilan pada Bagian 90 yang berakhir dengan:

> وَيَا إِلَهَ الْعَالَمِينَ

“Wahai Tuhan seluruh alam.”

Bagian 91 berakhir pada:

> وَيَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِرُبُوبِيَّتِكَ

“Dan ia bertawasul kepada-Mu dengan rububiyah-Mu.”

Bagian berikutnya akan dimulai tepat dengan:

> يَا مَوْلَايَ فَكَيْفَ يَبْقَى فِي الْعَذَابِ وَهُوَ يَرْجُو مَا سَلَفَ مِنْ حِلْمِكَ

“Wahai Pelindungku, bagaimana mungkin ia tetap berada dalam azab, sedangkan ia mengharapkan kelembutan-Mu yang telah dikenalnya sejak dahulu?”

Tema utama

Dosa dapat menyeret seorang hamba menuju penderitaan, tetapi pengakuan, tauhid, kepasrahan, dan harapan menunjukkan bahwa hatinya belum sepenuhnya kehilangan hubungan dengan Allah.

Penggalan ini sama sekali tidak membela dosa. Hamba menyebut dengan terang sebab-sebab penderitaannya:

– Mukhālafah: melanggar dan menyalahi perintah.

– Ma‘ṣiyah: mendurhakai Allah.

– Jurm: dosa atau kejahatan yang dilakukan dengan tanggung jawab.

– Jarīrah: kesalahan yang membawa akibat buruk kepada pelakunya.

Tidak ada upaya memindahkan kesalahan kepada takdir, lingkungan, keadaan, ataupun manusia lain.

Namun, setelah seluruh pengakuan itu, doa menyebutnya:

> عَبْدٍ مُسْلِمٍ

“Seorang hamba yang berserah diri.”

Ia berdosa, tetapi tidak menganggap dosanya benar. Ia jatuh, tetapi tidak mengubah kebatilan menjadi kebenaran.
Ia merasakan akibat perbuatannya, tetapi masih mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan Pemeliharanya.

“Hamba yang berserah diri”

Kata muslim dalam penggalan ini tidak boleh dipersempit menjadi sekadar identitas sosial atau nama kelompok. Makna dasarnya adalah orang yang menyerahkan diri kepada Allah.

Karena itu, Doa Kumail tidak sedang berkata bahwa siapa pun yang memiliki label “Muslim” pasti aman tanpa memedulikan amalnya. Penggalan ini berbicara tentang seorang hamba yang:

– mengakui kesalahannya;

– tidak menyalahkan Allah;

– tetap berharap kepada rahmat-Nya;

– memanggil-Nya dengan bahasa tauhid;

– dan kembali kepada hubungan kehambaan serta rububiyah.

Tauhidnya bukan slogan untuk menutupi dosa. Tauhid menjadi jalan untuk keluar dari dosa.

Ayat Al-Qur’an

  1. QS Al-Baqarah 2:112

> بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Benar! Barang siapa menyerahkan dirinya kepada Allah dan ia berbuat baik, maka baginya pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidak pula bersedih.”

Al-Qur’an menyatukan dua hal: penyerahan diri kepada Allah dan perbuatan baik. Pengakuan lisan tanpa kepasrahan dan amal belum menggambarkan Islam dalam pengertiannya yang utuh.

  1. QS Az-Zumar 39:54

> وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

“Kembalilah kepada Tuhan kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum azab datang kepada kalian; kemudian kalian tidak akan memperoleh pertolongan.”

Doa Kumail menggambarkan suara seorang hamba di dalam azab agar kita bertobat sekarang—bukan agar kita menunda kepulangan hingga akhirat. Pintu amal masih terbuka selama manusia hidup.
Karena itu, gambaran akhirat dalam doa merupakan peringatan untuk mengubah kehidupan hari ini.

  1. QS An-Nisa 4:110

> وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Barang siapa melakukan keburukan atau menzalimi dirinya sendiri, kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat ini tidak menghapus tanggung jawab manusia. Ia terlebih dahulu menyebut keburukan dan kezaliman terhadap diri, lalu menunjukkan jalan kepulangan: menghadap Allah dan memohon ampun.

Riwayat Ahlul Bait

Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali as:

> اَلْإِسْلَامُ هُوَ التَّسْلِيمُ، وَالتَّسْلِيمُ هُوَ التَّصْدِيقُ، وَالتَّصْدِيقُ هُوَ الْيَقِينُ، وَالْيَقِينُ هُوَ الْأَدَاءُ، وَالْأَدَاءُ هُوَ الْعَمَلُ

“Islam adalah penyerahan diri. Penyerahan diri adalah pembenaran. Pembenaran adalah keyakinan. Keyakinan adalah penunaian, dan penunaian adalah amal.”

Kalimat ini membawa Islam dari nama menuju kehidupan. Islam tidak berhenti pada identitas, tetapi bergerak menuju keyakinan, penunaian tanggung jawab, dan amal.

Catatan verifikasi: Riwayat tersebut terdapat dalam Ma‘ānī al-Akhbār karya Syekh ash-Shaduq, Bab 171, dengan sanad melalui Imam Ja‘far ash-Shadiq as, dari ayah dan leluhur beliau, hingga Imam Ali as.
Halaman daring itu tidak menampilkan penilaian khusus atas derajat sanadnya. Redaksi paralel juga terdapat dalam Nahj al-Balāghah dengan susunan yang sedikit lebih panjang menurut sebagian edisi.
Karena itu, secara akademis lebih hati-hati disebut “diriwayatkan dari Imam Ali as”; rincian sanad dan perbandingan redaksi masih perlu diteliti sebelum penerbitan ilmiah.

Bertawasul dengan rububiyah Allah

Penggalan ini mengatakan:

> وَيَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِرُبُوبِيَّتِكَ

“Ia bertawasul kepada-Mu dengan rububiyah-Mu.”

Rububiyah bukan hanya berarti kekuasaan Allah. Kata Rabb juga mengandung makna menciptakan, memiliki, memelihara, mendidik, dan membawa sesuatu menuju kesempurnaannya.

Seakan-akan hamba berkata:

“Ya Allah, Engkau yang menciptakanku ketika aku belum ada. Engkau memeliharaku sebelum aku mampu menyebut nama-Mu. Engkau memberiku akal, memperingatkanku, menutupi aibku, dan membuka jalan taubat. Aku datang kepada-Mu melalui kenyataan bahwa Engkau adalah Rabb-ku—dan aku adalah hamba-Mu yang membutuhkan perbaikan.”

Tawasul ini tidak menempatkan sesuatu di luar kekuasaan Allah. Hamba memohon kepada Allah melalui sifat rububiyah yang hanya dimiliki-Nya secara mutlak.
Bahkan setiap wasilah yang diridai—termasuk Rasulullah saw dan Ahlul Baitnya—memiliki kemuliaan karena Allah memilih dan memberikannya.

Didengar tidak selalu berarti dibenarkan

Allah mendengar suara setiap makhluk, termasuk pendosa. Namun didengar tidak otomatis berarti bahwa seluruh perbuatannya diridai.

Doa Kumail tidak berkata:

“Aku telah bertauhid, maka dosaku tidak penting.”

Ia justru berkata:

“Aku bersalah. Aku melanggar. Aku mendurhakai. Aku menanggung akibat perbuatanku. Namun aku masih mengetahui bahwa hanya Engkau Tuhanku, dan hanya kepada-Mu aku dapat kembali.”

Di sinilah perbedaan antara harapan dan kesombongan.

Kesombongan berkata: “Allah pasti mengampuniku, jadi aku boleh terus melakukan dosa.”

Harapan berkata: “Allah Maha Pengampun, maka aku tidak boleh berhenti bertobat dan memperbaiki diri.”

Kerangka pembahasan

  1. Doa menyebut secara terbuka sebab-sebab penderitaan hamba.
  2. Pengakuan dosa tidak diikuti pembelaan diri atau penyalahgunaan takdir.
  3. ‘Abd muslim berarti hamba yang berserah, bukan sekadar pemilik identitas.
  4. Tauhid sejati mengalir menuju keyakinan, tanggung jawab, dan amal.
  5. Allah mendengar pendosa, tetapi mendengar tidak sama dengan meridai dosanya.
  6. Tawasul dengan rububiyah berarti memohon kepada Allah sebagai Pencipta, Pemilik, dan Pemelihara.
  7. Gambaran azab dalam doa merupakan panggilan untuk bertobat sekarang, bukan menunda taubat hingga akhirat.

Pembuka syarah

Ada orang yang kehilangan harta, kedudukan, sahabat, dan seluruh tempat berlindungnya—tetapi belum kehilangan Tuhannya.

Inilah suara yang terdengar dalam penggalan Doa Kumail ini.

Seorang hamba digambarkan berada di tengah akibat paling berat dari perbuatannya. Doa tidak menyembunyikan sebab keberadaannya di sana:

> “Ia dipenjarakan karena pelanggarannya.”

“Ia merasakan azab karena kemaksiatannya.”

“Ia ditahan karena dosa dan kejahatannya.”

Tidak ada satu kalimat pun yang menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah.

Ia tidak berkata bahwa keadaan memaksanya. Ia tidak menuduh takdir. Ia tidak menyalahkan setan, keluarga, masyarakat, ataupun kelemahan orang lain. Ia tahu bahwa setan dapat menggoda, tetapi keputusan akhirnya tetap dilakukan oleh dirinya sendiri.

Pengakuan seperti ini sangat berat bagi manusia.

Kita lebih mudah mengakui bahwa kita sedang menderita daripada mengakui bahwa sebagian penderitaan itu mungkin berkaitan dengan pilihan kita. Kita mudah menangisi akibat, tetapi sering enggan menyentuh sebabnya.

Doa Kumail tidak membiarkan hamba berhenti pada tangisan.

Ia menuntunnya menyebut pelanggaran, kemaksiatan, dosa, dan tanggung jawabnya. Namun setelah seluruh pengakuan itu, doa masih menyebutnya sebagai:

> “Seorang hamba yang berserah diri.”

Ia bukan hamba yang menganggap dirinya suci. Ia adalah hamba yang masih mengakui Allah sebagai Tuhannya.

Dosa telah melukai ketaatannya, tetapi ia tidak menjadikan dosa sebagai agama baru. Nafsu pernah menguasainya, tetapi ia tidak mengubah hawa nafsu menjadi kebenaran. Ia mungkin telah berjalan jauh, tetapi masih mengetahui ke arah mana ia harus pulang.

Di sinilah tauhid memperlihatkan kekuatannya.

Tauhid bukan sekadar pernyataan bahwa Allah itu satu. Tauhid berarti tidak mempunyai tempat kembali selain Dia. Ketika bersalah, kita menghadap kepada-Nya. Ketika malu, kita tidak melarikan diri dari-Nya. Ketika seluruh alasan runtuh, kita tetap berkata:

“Engkau Tuhanku.”

Hamba itu kemudian merintih dengan harapan kepada rahmat Allah.

Harapannya tidak dibangun di atas kesucian dirinya. Justru dirinya mengakui telah kotor oleh dosa.
Harapannya dibangun di atas pengenalannya terhadap Allah: Allah adalah Rabb yang menciptakan, memelihara, mendidik, menutup aib, memperingatkan, dan menyediakan jalan kepulangan.

Ia tidak berkata:

“Selamatkan aku karena aku tidak bersalah.”

Ia berkata:

“Selamatkan aku karena Engkau adalah Rabb-ku dan aku tidak mempunyai Rabb selain Engkau.”

Inilah makna bertawasul dengan rububiyah Allah.

Seorang hamba datang membawa hubungan paling mendasar dalam keberadaannya: Engkau Penciptaku dan aku ciptaan-Mu; Engkau Pemilikku dan aku hamba-Mu; Engkau Mahakaya dan aku sepenuhnya fakir kepada-Mu.

Namun Doa Kumail tidak sedang mengajarkan keberanian menunda taubat.

Al-Qur’an memerintahkan:

> “Kembalilah kepada Tuhan kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum azab datang.”

Doa ini dibaca di dunia, ketika tangan masih dapat mengembalikan hak yang dirampas, lidah masih dapat meminta maaf, tubuh masih dapat bersujud, dan hidup masih dapat diarahkan kembali.

Gambaran seorang hamba yang merintih di dalam azab dimaksudkan agar kita tidak menunggu hingga penyesalan tidak lagi dapat diubah menjadi amal.

Jika kelak kita ingin memanggil Allah dengan “lisan ahli tauhid”, maka sejak hari ini tauhid harus memasuki perbuatan kita.

Jangan mengucapkan bahwa Allah Maha Melihat, lalu melakukan dosa seakan-akan tidak ada yang menyaksikan.

Jangan mengakui bahwa Allah Maha Mendengar, lalu menggunakan lidah untuk melukai manusia.

Jangan menyebut Allah sebagai Rabb, lalu menolak didikan, perintah, dan batas-batas yang ditetapkan-Nya.

Sebab Islam bukan sekadar nama yang melekat pada diri. Seperti yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali as, Islam adalah penyerahan; penyerahan menjadi keyakinan; keyakinan menuntut penunaian; dan penunaian harus tampak dalam amal.

Meski demikian, ketika kita gagal menjalankan semuanya, jangan biarkan kegagalan itu berubah menjadi keputusasaan.

Akuilah dosa tanpa menyebut diri suci.

Tangisilah kesalahan tanpa membenci diri sendiri.

Perbaikilah yang masih dapat diperbaiki.

Lalu panggillah Allah dengan jujur:

“Ya Allah, aku tidak datang karena telah menjadi hamba yang sempurna. Aku datang karena meskipun aku telah melanggar, aku masih mengetahui bahwa hanya Engkau Tuhanku.”

Seorang hamba dapat kehilangan banyak hal karena dosanya.

Namun selama ia masih mengakui kesalahan, kembali kepada tauhid, dan menyerahkan dirinya kepada Allah, ia belum kehilangan jalan pulang.

Doa kumail

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1FWuALETQe/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us