Peristiwa al-Ghadir Dalam Perspektif Ahlussunnah”
dari kanal Alhurr TV:
1. Kedudukan Peristiwa Ghadir bagi Seluruh Umat Islam
Peristiwa Ghadir Khumm bukanlah isu yang hanya milik kelompok Syiah, melainkan peristiwa sejarah yang menyangkut seluruh umat Islam, baik Sunni, Syiah, Zaidiyah, maupun Syafiiyah.
Hadits Ghadir memiliki jumlah perawi yang sangat banyak, bahkan lebih banyak daripada hadits Rasulullah lainnya.
Peristiwa ini menandai pengangkatan Imam Ali sebagai pemimpin (imam) dan pelindung (wali) umat berdasarkan perintah Allah SWT.
2. Kronologi dan Lokasi Kejadian
- Waktu dan Tempat:
Peristiwa ini terjadi pada tanggal 18 Dzulhijjah, bertepatan dengan hari Kamis, saat Rasulullah saw. kembali dari Haji Wada (Haji Perpisahan).
Lokasinya adalah Ghadir Khumm, sebuah titik di wilayah al-Juhfah yang merupakan persimpangan jalan bagi para musafir yang menuju Irak, Yaman, Madinah, dan wilayah gurun lainnya. - Konteks Suasana:
Rasulullah menghentikan sekitar 120.000 jemaah haji di bawah terik matahari siang yang sangat panas untuk menyampaikan pesan penting ini.
3. Landasan Al-Quran: Ayat Tabligh
Pengangkatan Imam Ali berawal dari turunnya Surat Al-Ma’idah ayat 67: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu), maka berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya…”.
- Urgensi Pesan:
Ayat ini mengandung ancaman dan peringatan keras dari Allah; jika Rasulullah tidak menyampaikannya, maka seluruh risalah kenabian selama 23 tahun dianggap tidak sempurna. - Jaminan Perlindungan:
Allah juga menjamin akan menjaga Rasulullah dari gangguan manusia yang mungkin menolak pesan ini.
4. Deklarasi Rasulullah di Ghadir Khumm
Setelah melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah di bawah naungan pohon, Rasulullah mengangkat tangan Imam Ali bin Abi Thalib dan bertanya kepada jemaah:
“Bukankah aku lebih berhak atas diri kalian (memiliki otoritas lebih tinggi) daripada diri kalian sendiri?”. Seluruh jemaah menjawab: “Benar, wahai Rasulullah”. Rasulullah kemudian bersabda:
“Barangsiapa yang menjadikanku sebagai pemimpinnya (Mawla), maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, dan musuhilah orang yang memusuhinya…”.
5. Makna Sejati Kata “Mawla”
Para ulama menjelaskan bahwa kata Mawla dalam konteks ini tidak bisa diartikan secara dangkal hanya sebagai “teman” atau “penolong”.
- Otoritas Mutlak:
Makna Mawla di sini adalah otoritas kepemimpinan yang sama dengan otoritas Rasulullah atas umatnya (Awla).
Ali adalah penerus fungsi-fungsi kenabian dalam hal penjelasan syariat, penyucian jiwa, dan kepemimpinan politik/sosial. - Kesesuaian Balaghah: Jika hanya diartikan sebagai “teman”, maka tidak masuk akal jika Allah memberikan peringatan keras melalui ayat Al-Quran hanya untuk memberitahu bahwa Ali adalah teman kaum mukmin.
6. Respon Sahabat dan Rekam Jejak Sejarah
- Ucapan Selamat:
Sesaat setelah deklarasi, para sahabat termasuk Abu Bakar dan Umar bin Khattab datang memberikan selamat kepada Imam Ali dengan berkata: “Selamat untukmu wahai putra Abu Thalib, engkau kini menjadi pemimpin (Mawla) bagiku dan bagi setiap mukmin serta mukminah”. - Kesaksian Penyair:
Hassan bin Thabit, penyair Rasulullah, langsung mengabadikan momen tersebut dalam bait-bait puisi yang menegaskan posisi Ali sebagai Imam dan pemberi petunjuk setelah Nabi. - Validitas Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh 110 sahabat terkemuka dan 84 tabiin. Bahkan ulama kontemporer seperti Syekh Al-Albani telah menshahihkan hadits ini dalam kitabnya Silsilah al-Ahadits al-Shahihah.
Hadits ini tercatat dalam banyak kitab rujukan utama seperti Musnad Ahmad, Sunan Ibnu Majah, Tirmidzi, dan kitab sejarah Ibnu Katsir serta At-Thabari.
Kesimpulan
Imam Ali adalah sosok yang memiliki “ilmu kitab” sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran. Kepemimpinannya adalah perpanjangan dari risalah kenabian dan merupakan kunci persatuan umat jika dipahami sesuai dengan konteks asli saat perintah tersebut diturunkan.


