19 October 2026

Sejarah Rasulullah (saww) [Bag.4] : Masa Perkembangan Nabi Muhammad (saww) Di Mekah

Sejarah Perkembangan Nabi Muhammad saw. di Mekah

oleh Sayyis Musthofa Qozwini 

Bismillahir-Rahmanir-Rahiim

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad

Silsilah dan Lingkungan Tauhid

Leluhur Nabi Muhammad saw. adalah orang-orang monoteis yang menyembah Tuhan Yang Maha Esa.
Hal ini terlihat jelas dari tindakan kakeknya, Abdul Muttalib, yang saat kota Mekah diserang oleh Abrahah, ia tidak meminta bantuan kepada berhala, melainkan berdoa dan memohon perlindungan langsung kepada Allah.
Rasulullah sendiri menegaskan bahwa garis keturunannya selalu berpindah dari “tulang rusuk yang suci ke rahim yang suci,” yang merujuk pada ayat Al-Quran bahwa beliau berada di antara orang-orang yang sujud dan beribadah.

Pengasuhan di Bawah Abu Thalib dan Fatima bint Asad

Setelah Abdul Muttalib wafat, Muhammad saw. berada di bawah asuhan pamannya, Abu Thalib.
Meskipun Abu Thalib adalah yang paling miskin di antara saudara-saudaranya, ia dipilih karena merupakan sosok yang paling mulia, jujur, dan bertakwa.
Di rumah tersebut, Nabi mendapatkan kasih sayang yang luar biasa dari istri Abu Thalib, Fatima bint Asad.
Beliau merawat kebutuhan fisik dan emosional Muhammad dengan sangat baik, sehingga saat Fatima wafat, Nabi menyebutnya sebagai “ibuku” karena pengorbanan dan perlindungannya yang luar biasa bagi seorang yatim piatu.

Perjalanan ke Syam dan Pertemuan dengan Pendeta Bahira

Pada masa muda, Nabi ikut serta dalam kafilah dagang Abu Thalib menuju Syam (Suriah).
Dalam perjalanan ini, beliau mulai mengenal dunia luar, cara berinteraksi dengan berbagai macam pelancong, serta kehidupan di padang pasir.
Di wilayah Syam, mereka bertemu dengan seorang pendeta bernama Bahira. Bahira mengenali tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad kecil, sebagaimana yang telah diramalkan dalam kitab-kitab suci terdahulu (Taurat dan Injil).
Bahira memperingatkan Abu Thalib agar menjaga keponakannya dengan sangat ketat karena adanya ancaman dari musuh-musuh yang mungkin mencelakainya.

Masa Muda: Menggembala dan Hilful Fudul

Terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi pernah menjadi pengembala ternak.
Hal ini dilakukan bukan untuk mencari upah, melainkan sebagai bentuk bantuan kepada orang lain dan sarana pelatihan dari Allah bagi para nabi untuk melatih kesabaran, toleransi, dan keteguhan hati sebelum memimpin manusia.

Salah satu peristiwa penting di masa mudanya (sekitar usia 20 tahun) adalah keikutsertaan beliau dalam Hilful Fudul (Aliansi Kebajikan).
Aliansi ini dibentuk oleh para pemimpin suku di Mekah untuk melawan ketidakadilan, membela orang-orang yang terzalimi, dan memastikan tidak ada perampasan hak milik.
Nabi Muhammad sangat mengapresiasi aliansi ini dan menyatakan bahwa nilai-nilai etika dan moral yang dijunjung di dalamnya—yaitu membela kebenaran tanpa memandang latar belakang—adalah standar tertinggi karakter manusia.

Kemitraan Dagang dengan Sayyidah Khadijah

Nabi Muhammad saw. kemudian terlibat dalam kemitraan bisnis dengan Sayyidah Khadijah.
Hubungan kerja ini bukanlah sebagai karyawan, melainkan bentuk Mudaraba (bagi hasil), di mana Khadijah menyediakan modal dan Nabi yang mengelola perniagaannya.

Pelayan Khadijah, Maisarah, yang ikut serta dalam perjalanan dagang ke Syam, merasa kagum dengan integritas, kejujuran (amanah), dan keramahan Nabi dalam berbisnis.
Kesaksian Maisarah tentang karakter mulia ini membuat Khadijah jatuh cinta pada kepribadian beliau.
Nabi terbukti bukan hanya seorang yang religius, tetapi juga seorang pebisnis yang sangat cerdas dan sukses.

Keimanan Sebelum Diutus Menjadi Rasul

Sebelum menerima misi kenabian secara resmi pada usia 40 tahun, Nabi Muhammad saw. tidak pernah mengikuti tradisi agama Yahudi atau Kristen.
Beliau adalah seorang monoteis yang mengikuti ajaran murni (Hanif) dan mendapatkan ilham langsung dari Allah sejak kecil.

Imam Ali bin Abi Thalib menjelaskan dalam Nahjul Balaghah bahwa Allah telah mengutus malaikat khusus untuk membimbing Nabi langkah demi langkah menuju standar etika dan kebajikan manusia yang paling tinggi.
Sejak hari pertama, beliau telah beribadah kepada Allah dengan syariat yang diwahyukan langsung kepadanya, dan Imam Ali selalu mengikuti jejak langkah beliau seperti seorang anak mengikuti ibunya.

Masa Muda Nabi Muhammad (saww)1

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us