22 October 2026

Informasi Kitab dan Kedudukan Perawi

  • Kitab Referensi Biografi:
    Siyar A’lam An-Nubala’ karya Imam Az-Zahabi (salah satu ulama Ahlussunnah), Jilid 7, diterbitkan oleh Darul Hadits Al-Qahirah (cetakan 2006 M / 1427 H), halaman 64.
  • Perawi yang Dibahas:
    Imam Az-Zahabi mengomentari biografi Ibrahim bin Thahman bin Syu’bah (Al-Imam Abu Sa’id Al-Harawi).
  • Penilaian Para Ulama Hadis terhadap Ibrahim bin Thahman:
    • Abdullah bin Ahmad meriwayatkan dari Yahya bin Ma’in: “La ba’sa bih” (tidak apa-apa / dapat diterima).
    • Abu Hatim menyatakan: “Hasanul hadits, shaduq” (hadisnya baik dan beliau seorang yang jujur).
    • Utsman bin Sa’id juga memberikan penilaian positif terhadap keandalan riwayatnya.
  • Kesimpulan Biografi:
    Ibrahim bin Thahman merupakan perawi yang terpercaya dan riwayatnya layak dijadikan hujjah.

Pembacaan Teks dan Isi Riwayat Hadis

  • Kitab Sumber Riwayat:
    Masyikhat bin Thahman (karya Ibrahim bin Thahman), ditahqiq oleh Dr. Muhammad Thahir Malik, diterbitkan di Dimasyq (Damsyik) pada tahun 1983 M / 1403 H, halaman 55.
  • Jalur Sanad Utama:
    Diriwayatkan dari Sayyidah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha.
  • Matan / Alur Riwayat:
    1. Rasulullah SAW masuk ke rumah Ummu Salamah dan berpesan agar tidak membiarkan seorang pun masuk menemui beliau.
    2. Ummu Salamah kemudian mendengar suara tangisan. Ketika ia melihat, ternyata di sisi Rasulullah SAW ada Al-Husain bin Ali alaihis salam dan beliau (Nabi SAW) sedang menangis.
    3. Ummu Salamah bertanya:
      “Ma laka tabki ya Rasulullah?”
      (Apa yang membuatmu menangis, wahai Rasulullah?)
    4. Rasulullah SAW menjawab:
      “Akhbarani Jibrilu anna ummati taqtulu hadza ba’di”
      (Malaikat Jibril telah memberitahukan kepadaku bahwa umatku akan membunuh anak/cucu ini setelah aku).
    5. Ummu Salamah bertanya kembali:
      “Wa man yaqtuluh?”
      (Dan siapakah yang akan membunuhnya?)
    6. Rasulullah SAW mengambil segenggam tanah (madharah) lalu bersabda:
      “Ahlu hadzihil madharah taqtuluh”
      (Penduduk/penghuni daerah tanah inilah yang akan membunuhnya).
  • Kualitas Keterangan Sanad:
    Dituliskan bahwa “Isnaduhu hasan, rijaluhu tsiqat” (Sanad riwayat ini bernilai hasan dan para perawinya adalah orang-orang yang tsiqah/terpercaya).

Kesimpulan & Catatan Kajian 

  • Pengetahuan Nabi SAW:
    Dari riwayat ini disimpulkan bahwa Rasulullah SAW sudah mengetahui peristiwa kesyahidan Imam Husain (a.s.) jauh sebelum Tragedi Karbala terjadi.
  • Catatan Kritis Terhadap Narasi Lain:
    Riwayat-riwayat yang menceritakan bahwa ada sebagian sahabat yang melarang Imam Husain (a.s.) berangkat ke Karbala perlu dipertimbangkan atau dikaji ulang.
    Sebab, narasi tersebut dapat mengarah pada kesan merendahkan sahabat—seolah-olah mereka tidak mengetahui atau tidak mengindahkan apa yang telah disabdakan oleh Nabi SAW mengenai cucunya.

Dalil2 Pengetahuan Nabi atas Kesyahidan Husain

Allahumma sholli ‘alaa muhammad wa aali muhammad

—

Video sumber: Dalil-dalil Channel

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us