Fatimah a s : ” Apa Yang Dibisikkan Nabi saw kepada Fatimah a s ?”
1. Riwayat Utama: Bisikan Nabi SAW kepada Sayyidatu Fatimah a.s.
Identitas Rujukan Kitab:
Pelajaran ini merujuk pada kitab Al-Jami’ us-Sahih (lebih dikenal sebagai Sahih Al-Bukhari), yang ditahqiq oleh Syu’aib Al-Arna’uth, diterbitkan oleh Ar-Risalah Al-‘Alamiyyah (Cetakan I, 2011 M / 1432 H, Jilid 4, hlm. 464–465).
Jalan Cerita Riwayat (Diriwayatkan oleh Aisyah Ummul Mukminin r.a.):
- Kedatangan Sayyidatu Fatimah a.s.:
Suatu ketika, seluruh istri Nabi SAW sedang berkumpul di sisi beliau tanpa ada seorang pun yang absen. Lalu datanglah Sayyidatu Fatimah a.s. dengan berjalan kaki.
Aisyah r.a. bersumpah demi Allah bahwa cara berjalan Sayyidatu Fatimah a.s. sangat persis dengan cara berjalan Rasulullah SAW. - Penyambutan Nabi SAW:
Ketika melihat kedatangan Sayyidatu Fatimah a.s., Rasulullah SAW menyambutnya dengan gembira seraya bersabda, “Marhaban biibnati” (Selamat datang wahai putriku).
Beliau kemudian mendudukkannya di sebelah kanan atau kiri beliau. - Dua Bisikan dan Reaksi Sayyidatu Fatimah a.s.:
- Rasulullah SAW membisikkan sesuatu kepada Sayyidatu Fatimah a.s., lalu Sayyidatu Fatimah a.s. menangis tersedu-sedu.
- Melihat kesedihan putrinya, Rasulullah SAW membisikkan sesuatu untuk kedua kalinya, hingga Sayyidatu Fatimah a.s. tersenyum.
Penjelasan Rahasia Bisikan:
Saat Rasulullah SAW masih hidup dan beranjak pergi dari tempat tersebut, Aisyah r.a. bertanya kepada Sayyidatu Fatimah a.s. tentang rahasia bisikan itu.
Namun Sayyidatu Fatimah a.s. menjawab: “Ma kuntu liufsya ‘ala rasulillahi shallallahu ‘alaihi sirrahu” (Aku tidak akan menyebarkan rahasia yang telah dibisikkan oleh Rasulullah SAW kepadaku).
Setelah Rasulullah SAW wafat, Aisyah r.a. kembali bertanya demi hak yang dimilikinya atas Fatimah. Sayyidatu Fatimah a.s. pun bersedia menjelaskan isinya:
- Isi Bisikan Pertama (Penyebab Menangis):
Rasulullah SAW memberitahukan bahwa Malaikat Jibril biasanya memperlihatkan Al-Qur’an kepada beliau satu kali dalam setahun, namun pada tahun itu Jibril memperlihatkannya dua kali.
Beliau bersabda: “Aku tidak melihat ajalku melainkan telah dekat. Maka bertakwalah engkau wahai Fatimah dan bersabarlah, sesungguhnya sebaik-baik pendahulu bagimu adalah aku.”
Mendengar berita mendekatnya ajal sang ayahanda, Sayyidatu Fatimah a.s. menangis sedih. - Isi Bisikan Kedua (Penyebab Tersenyum):
Melihat kesedihan putrinya, Rasulullah SAW membisikkan sabda untuk menghiburnya: “Wahai Fatimah, apakah engkau tidak rida menjadi sayyidatu nisa’il mu’minin (penghulu/pemimpin wanita kaum mukminin) atau sayyidatu nisa’i hadzihil ummah (penghulu/pemimpin wanita umat ini)?”.
Mendengar kabar gembira mengenai kedudukan mulia ini, Sayyidatu Fatimah a.s. tersenyum.
2. Riwayat Pelengkap: Kedudukan Kemuliaan Sayyidatu Fatimah a.s.
Sebagai penjelas atas kedekatan, kecintaan, dan kemuliaan Sayyidatu Fatimah a.s., pelajaran dalam video ini mengutip riwayat pelengkap dari kitab lain:
Identitas Kitab dan Pengarang:
- Kitab: Fara’idus Simthain (Fara’idus Simthain fi Fadhil’il Murtadha wal Batul wal Hasanaen) diterbitkan oleh Mu’assasah Al-Mahmudi, Beirut, Lebanon.
- Pengarang: Al-Juwaini Al-Khurasani. Berdasarkan keterangan dalam kitab Mu’jamul Mu’allifin karya Umar Ridha Kahhalah (Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, Jilid 1–2, hlm. 89), nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakr Al-Juwaini (lahir 644 H, wafat 722 H), seorang pakar hadis dari Khurasan yang bermazhab Asy-Syafi’i.
Matan Hadis Keutamaan (Jilid 2, hlm. 68):
Rasulullah SAW bersabda mengenai pribadi Sayyidatu Fatimah a.s.:
“Walau kanal husnu syakhshan lakana Fatimah, bal hiya a’dham. Inna Fatimata ibnati khairu ahlil ardhi ‘unsuran wa karama.”
(Artinya: “Jikalau kebaikan itu berupa sosok wujud manusia, niscaya Fatimah-lah orangnya, bahkan ia lebih agung dari kebaikan itu sendiri. Sesungguhnya putriku Fatimah adalah sebaik-baik penduduk bumi dari sisi asal keturunan, kemuliaan, maupun kehormatan.”)

Allahumma sholli ‘alaa muhammad wa aali muhammad
—
Video sumber: Dalil-dalil Channel

