1. Rujukan Kitab dan Referensi
- Nama Kitab: Al-Isti’ab fi Ma’rifat al-Ashab (الاستيعاب في معرفة الأصحاب).
- Penyusun: Ibn Abdil Bar al-Qurtubi, salah seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang bermazhab Maliki.
- Detail Sumber: Terbitan Darul Kutub al-Ilmiyah, Jilid 1, Cetakan Kedua (At-Thab’atus Tsaniyah), Tahun 2002 M / 1422 H, Halaman 437.
2. Biografi dan Keutamaan Imam Hasan bin Ali a.s.
Dalam pembahasan biografi Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib a.s., Ibn Abdil Bar memaparkan beberapa riwayat sahih mengenai keutamaan beliau:
- Hadis Mutawatir tentang Kepemimpinan dan Perdamaian:
Terdapat kemutawatiran riwayat-riwayat yang sahih dari Nabi SAW (Wa tawatarat al-atsaru as-shihahu ‘anin-Nabi SAW), di mana Rasulullah SAW bersabda mengenai Al-Hasan bin Ali:«إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَعَسَى اللهُ أَنْ يُبْقِيَهُ حَتَّى يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ» “Sungguh putraku (cucu) ini adalah seorang Sayyid (pemimpin), dan semoga Allah memanjangkan usianya hingga beliau dapat mendamaikan dua kelompok besar dari kaum muslimin.”
Riwayat ini menegaskan keutamaan istimewa yang dimiliki Imam Hasan a.s. sebagai sosok yang mendamaikan dua kelompok muslimin yang berselisih.
- Kedudukan Mutlak dan Sifat-Sifat Imam Hasan a.s.:
Berdasarkan riwayat dari jalur Abi Bakrah, Rasulullah SAW bersabda:«وَإِنَّهُ رَيْحَانَتِي مِنَ الدُّنْيَا» “Sesungguhnya Al-Hasan bin Ali adalah wewangianku di dunia.”
Disampaikan pula bahwa tidak ada yang lebih mulia daripada orang yang telah dinamai secara langsung oleh Rasulullah SAW sebagai seorang Sayyid (pemimpin).
Karakter Imam Hasan r.a. dijelaskan sebagai sosok yang:- Halim (sangat penyantun).
- Wara’ (sangat menjaga diri dari perkara yang syubhat/dosa).
- Fadhil (memiliki keutamaan yang agung).
3. Alasan Imam Hasan a.s. Memilih Berdamai dan Melepaskan Kekuasaan
Menjawab pertanyaan mengenai alasan Imam Hasan a.s. lebih memilih berdamai, pengajar menjelaskan bahwa sifat wara’ dan keutamaan beliaulah (da’aahu wara’uhu wa fadhluhu) yang mendorong beliau untuk meninggalkan kekuasaan dan urusan duniawi (ila qal’il-mulki wad-dunya) demi mengharapkan karunia di sisi Allah SWT.
Sikap ini dipertegas oleh pernyataan langsung dari Imam Hasan a.s. yang tercantum dalam kitab:
«وَاللهِ مَا أَحْبَبْتُ مُنْذُ عَلِمْتُ مَا يَنْفَعُنِي وَمَا يَضُرُّنِي أَنَّ إِلَيَّ أَمْرَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَنْ يُخْرَقَ فِي ذَلِكَ مَحْجَمَةُ دَمٍ» “Demi Allah, semenjak aku mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang mudarat bagiku, aku tidak berhasrat memegang urusan umat Muhammad SAW jika hal itu sampai menyebabkan tercurahnya walau setetes darah.”
Kesimpulan Utama:
Imam Hasan bin Ali a.s. menyerahkan tampuk kekuasaan semata-mata demi menghindari dan mencegah terjadinya pertumpahan darah di kalangan kaum muslimin.
Inilah pandangan dan catatan sejarah mengenai keutamaan beliau sebagaimana disampaikan oleh Ibn Abdil Bar al-Qurtubi dalam kitabnya.

Allahumma sholli ‘alaa muhammad wa aali muhammad
—
Video sumber: Dalil-dalil Channel

