21 October 2026
Kajian ini membahas kitab Misbahus Syariah karya Imam Ja’far ash-Sadiq terkait adab dalam memenuhi kebutuhan perut atau makan. Beliau menekankan bahwa sedikit makan adalah hal yang terpuji bagi setiap orang, apa pun bangsa atau agamanya. Hal ini dikarenakan sedikit makan membawa maslahat, baik secara lahir (kesehatan tubuh) maupun batin (kenyamanan jiwa). Sebagaimana perkataan Imam Ali as, penyakit bersumber dari apa yang kita konsumsi, dan penyembuhannya pun dimulai dari diri sendiri dengan cara mengurangi porsi makan. Bahkan, rahasia panjang umur dan kesehatan hewan pun terletak pada kebiasaan mereka berpuasa saat momen-momen tertentu.    

Empat Golongan Orang yang Terpuji dalam Hal Makan

Imam Ja’far ash-Sadiq membagi tingkatan orang yang terpuji cara makannya ke dalam empat kelompok:
  1. Ad-Dhoruroh (Darurat): Ini adalah tingkatan para Asfiya (orang-orang yang murni jiwanya) dan para Nabi. Mereka makan hanya pada batas yang sangat diperlukan agar tubuh tetap mampu tegak untuk beribadah kepada Allah SWT.
  2. Al-Uddah (Bekal): Tingkatan bagi orang-orang Bertaqwa (Atqiya). Mereka makan sesuai kebutuhan tubuh namun sangat menjaga kehalalan makanan tersebut. Mereka memiliki sensitivitas tinggi untuk menghindari hal-hal yang bersifat syubhat (ragu-ragu). Dicontohkan bagaimana seorang ulama, Syekh Muhammad Taqi Jafari, yang perutnya secara intuitif menolak makanan yang tidak disembelih sesuai syariat.
  3. Al-Qutu (Kebutuhan/Kekuatan): Tingkatan bagi orang-orang yang Bertawakkal (Mutawakkilin). Mereka menerima apa pun yang dihidangkan dengan rasa syukur dan ridho kepada Allah. Tidak peduli makanan itu sesuai selera atau tidak—bahkan jika terasa pahit—mereka tetap menikmatinya sebagai nikmat dari Allah.
  4. Al-Quwwat (Kekuatan): Tingkatan umum bagi Orang Beriman (Mukminin). Mereka makan dan minum sebagaimana masyarakat awam, namun tetap memiliki pengetahuan dan batasan yang jelas mengenai mana yang halal, haram, serta baik (thoyyib) untuk dikonsumsi.

Bahaya Banyak Makan dan Keutamaan Lapar

Banyak makan sangat berbahaya bagi hati orang beriman karena dapat mengakibatkan dua hal:
  • Qoswatul Qalb (Merasnya Hati): Hati menjadi keras bagaikan batu, kehilangan sensitivitas, cahaya ruhani, dan rasa empati. Orang yang hatinya keras tidak lagi merasa bersalah saat melakukan dosa.
  • Hayajanus Syahwat (Bangkitnya Syahwat): Banyak makan memicu dorongan ambisi dan syahwat yang liar, sehingga seseorang mudah dikendalikan oleh setan.
Sebaliknya, lapar adalah asupan bagi ruh, makanan bagi hati, dan kesehatan bagi tubuh. Nabi Daud as bahkan menyatakan bahwa meninggalkan satu suap makanan yang sebenarnya tidak diperlukan (hanya keinginan) lebih dicintai daripada melaksanakan shalat malam selama 20 malam.

Adab dan Simpulan

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa orang beriman makan dengan satu piring (secukupnya), sedangkan orang munafik makan dengan tujuh piring (berlebihan karena dikuasai syahwat). Adab makan yang diajarkan meliputi: berada dalam keadaan suci, memulai dengan Basmalah, menggunakan tangan kanan, dan berpakaian rapi sebagai bentuk penghormatan terhadap nikmat Allah. Pada akhirnya, aturan makan dalam Islam bertujuan untuk meningkatkan kualitas ruhani. Makanan yang thoyyib membantu jiwa naik ke derajat manusia sempurna, sementara melayani keinginan perut secara berlebihan hanya akan menarik manusia ke derajat hewani. Adab Makan dan Kesehatan Jiwa Bersama KH Dr. Kholid Al Walid M.Ag Kajian Hadis (Eps 28) Imam Ja’far Ash Hadis cicit Rasulullah Saw dan guru dari semua Imam Mazhab dalam Islam tentang Bab Adab Makan Kekasih Allah YouTube : Misykat TV SoundCloud : SoundCloud.com/misykat-bandung Spotify : Misykat Bandung Web : Misykat.net . Cp WA 0812 239 14000

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us