Makna Kebahagiaan (Surur, Farah, dan Busyro)
Kajian ini membahas tentang Manzilah al-Surur, yaitu suatu keadaan rohani di mana hati seseorang merasa sangat bahagia dan berbunga-bunga karena kedekatannya dengan Allah. Dalam Al-Qur’an, terdapat beberapa istilah terkait kebahagiaan:
- Farah:
Keadaan dada yang melapang (Insyirah) karena terlepas dari beban berat.
Namun, ada Farah yang dicela jika berkaitan dengan kesenangan duniawi yang melalaikan dari syukur. - Busyro (Basyaroh):
Kabar gembira yang seringkali tidak terbayangkan sebelumnya, seperti kebahagiaan bagi orang sabar atau kabar gembira saat kematian bagi orang beriman.
Kebahagiaan sejati (Surur) muncul karena karunia dan rahmat Allah, yang nilainya jauh lebih besar daripada apa pun yang dikumpulkan manusia di dunia.
Peran Manzilah al-Surur dalam Perjalanan Ruhani
Bagi seorang pejalan spiritual (salik), Manzilah al-Surur berfungsi sebagai penguat.
Perjalanan menyucikan diri dan melawan hawa nafsu adalah proses yang berat dan melelahkan.
Allah menurunkan rasa lezat dan bahagia ini agar proses yang sulit tersebut terasa nikmat, ibarat seorang olahragawan yang tetap merasa senang meskipun tubuhnya lelah saat bertanding.
Tiga Tingkatan Pelepasan Kedukaan Menuju Kebahagiaan
- Tingkat Pertama: Lepas dari Kesedihan Perpisahan
Penderitaan terbesar seorang pencinta adalah perpisahan dengan yang dicintai.
Kebahagiaan muncul ketika hamba keluar dari kegelapan kebodohan menuju cahaya makrifatullah.
Ketika pintu makrifat terbuka, kesedihan karena “perpisahan” dengan Tuhan berubah menjadi kebahagiaan karena merasakan kehadiran-Nya. - Tingkat Kedua: Lepas dari Hijab Cahaya (Hijabu Nur)
Ini adalah tahap yang lebih berat, di mana seorang hamba harus melepaskan kebanggaan atas ilmu, ibadah, dan kesalehannya sendiri.
Hal-hal tersebut bisa menjadi “hijab cahaya” yang membatasi dirinya dengan Allah jika menimbulkan kesombongan.
Pada tingkat ini, kewajiban tidak lagi dirasa sebagai beban perintah, melainkan suara Kekasih yang memanggil untuk bersama. - Tingkat Terakhir: Lepas dari Pilihan Pribadi
Hamba merasa sangat bahagia ketika ia tidak lagi memiliki keinginan sendiri. melainkan rida dengan apa yang dipilihkan Allah baginya.
Segala tindakan, ucapan, dan sikapnya merupakan manifestasi dari kehendak Ilahi, bukan dorongan hawa nafsu.
Ia merasakan keindahan luar biasa karena mendengar “jawaban” dari Allah atas segala kegelisahan spiritualnya.
Hakikat Kebahagiaan dalam Pandangan Tasawuf
Kebahagiaan sejati bukanlah sesuatu yang relatif, melainkan bersifat eksistensial dan nyata.
Kesenangan duniawi seringkali menipu (ibarat meminum air laut yang semakin diminum semakin haus), sedangkan kebahagiaan spiritual bersifat abadi di dalam hati.
Tanya Jawab: Makrifat dan Kematian
- Mencapai Makrifat:
Diperoleh melalui proses belajar (kasbi), pembersihan pikiran dari keburukan, dan zikir untuk mempersiapkan potensi diri menerima pemberian Allah. - Kabar Gembira Saat Wafat:
Orang beriman akan diperlihatkan keindahan alam barzakh saat ajalnya tiba, sehingga rasa sakit kematian terlupakan oleh rasa bahagia ingin segera bertemu Allah.

Bersama KH Dr. Kholid Al Walid M.Ag
Belajar Tasawuf seri #57: Manzilah al-Surur | Kebahagiaan Bersama Allah
LIVE STRAMING Senin 20 Februarii 2023 Jam 20.00 WIB
YouTube: Misykat TV
SoundCloud: SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify: Misykat Bandung
Web: Misykat.net
Cp WA 0812 239 14000
#MisykatTV #DiskusiDigital

