Makna Angka 40 (Arbain)
Peringatan Arbain adalah tradisi mengenang 40 hari wafatnya seseorang.
Dalam tradisi Islam, angka 40 memiliki signifikansi spiritual dan mistikal yang mendalam.
Banyak riwayat menyebutkan angka ini, seperti hadis tentang memurnikan niat selama 40 pagi untuk memancarkan hikmah dari hati ke lisan, atau hadis tentang mengumpulkan 40 hadis untuk bersama Rasulullah di surga.
Bahkan, Rasulullah SAW dilantik menjadi nabi pada usia 40 tahun, yang dianggap sebagai puncak kematangan seseorang.
Dalam dunia tasawuf, angka ini juga dikaitkan dengan tradisi khalwat atau uzlah (mengasingkan diri untuk ibadah) selama 40 hari guna membersihkan batin.
Sejarah dan Peristiwa Karbala
Ziarah Arbain secara khusus merujuk pada peringatan 40 hari setelah syahidnya Imam Husein AS di Padang Karbala.
Penziarah pertama yang tercatat adalah sahabat senior Rasulullah, Jabir bin Abdullah Al-Anshari, yang saat itu sudah berusia lanjut dan kehilangan penglihatannya.
Peristiwa ini jatuh pada tanggal 20 Safar, yang juga dikenal sebagai hari kembalinya kepala para syuhada untuk dimakamkan bersama jasad mereka.
Meski sempat dilarang oleh berbagai rezim penguasa sepanjang sejarah karena kekhawatiran akan semangat perlawanan terhadap penindasan, tradisi ziarah ini tidak pernah terhenti hingga sekarang.
Fenomena Arus Cinta dan Pelayanan
Ziarah Arbain saat ini telah menjadi prosesi kolosal yang dihadiri oleh sekitar 20 juta manusia dari seluruh dunia, tanpa memandang mazhab bahkan agama.
Para penziarah melakukan Long March (perjalanan kaki), biasanya dari Najaf ke Karbala sejauh 80-90 km selama sekitar tiga hari.
Fenomena paling dahsyat dalam perjalanan ini adalah pengalaman rohaniah berupa pelayanan (khidmat) yang luar biasa dari penduduk Irak.
Mereka berebut melayani penziarah dengan menyediakan makanan, minuman, tempat istirahat di rumah pribadi, layanan medis, hingga menjahit sepatu yang rusak secara gratis.
Semua ini dilakukan atas dasar cinta kepada Imam Husein AS. Perjalanan ini digambarkan sebagai “Muara Cinta” di mana semua orang datang untuk melayani, bukan untuk dilayani.
Esensi Perjuangan Imam Husein
Tujuan utama Imam Husein melakukan pengorbanan di Karbala bukanlah untuk mencari kekuasaan atau berbuat kerusakan, melainkan untuk memperbaiki umat (Al-Muslihun).
Beliau menyaksikan kerusakan agama yang jika tidak diperbaiki melalui pengorbanannya, maka Islam hanya akan tersisa secara lahiriah saja di bawah kendali penguasa zalim.
Ziarah ini menjadi momentum bagi umat untuk menanamkan penolakan terhadap kezaliman dan berkomitmen menjadi pribadi yang damai dan menebar kasih sayang.
Adab dan Keutamaan (Fadilah) Ziarah
Secara batin, penziarah diharapkan berangkat dengan harta yang halal dan telah menyelesaikan urusan hak orang lain (seperti utang). Keutamaan ziarah ini sangat besar, di antaranya:
- Setiap langkah kaki dihitung sebagai kebaikan dan penghapus dosa.
- Mendapatkan salam dari Rasulullah SAW melalui para malaikat.
- Jaminan keselamatan dari bencana di dunia dan akhirat.
Bagi yang belum berkesempatan berangkat langsung ke Karbala, kerinduan tersebut dapat disalurkan dengan membaca doa ziarah dari rumah, mempelajari kisah perjuangan keluarga suci, atau menziarahi makam para ulama dan wali Allah di sekitar kita.

Bersama KH Dr. Kholid Al Walid M.Ag
Belajar Tasawuf seri #79: Belajar Tasawuf Seri 79 | Ziarah Arbain
LIVE STRAMING 1 Agustus 2023 Jam 20.00 WIB
YouTube: Misykat TV
SoundCloud: SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify: Misykat Bandung
Web: Misykat.net
Cp WA 0812 239 14000
#MisykatTV #DiskusiDigital

