20 October 2026

Makna Al-Mustafa

Kajian ini membahas tentang Manzilah al-Shafa, sebuah kedudukan rohani yang berkaitan dengan ketulusan, kebersihan, dan kemurnian jiwa dalam perjalanan menuju Allah.
Berdasarkan Surah Shad ayat 47, Allah menyebutkan orang-orang pilihan dengan istilah Al-Mustafa.

Secara bahasa, istofa atau Mustofa berarti sesuatu yang terpilih setelah melalui proses penyaringan atau pembersihan dari segala kotoran.
Ibarat menampi beras dari sekam atau mendulang emas dari pasir, seorang hamba disebut Sofi (suci/jernih) jika ia telah terlepas dari segala bentuk kontaminasi, termasuk syirik dan ketergantungan pada selain Allah.
Derajat ini dicapai setelah seseorang tetap teguh dalam ketaatan meskipun diguncang berbagai ujian dan musibah.

Tiga Tingkatan Manzilah al-Shafa

  • Tingkat Pertama: Sofa al-Ilm (Kemurnian Ilmu)
    Pada tahap awal, seorang pejalan rohani (salik) membutuhkan ilmu yang murni sebagai peta perjalanannya.
    Ilmu ini bukan sekadar teori, melainkan cahaya yang membuka pintu kebodohan dan membimbing jiwa melewati tahap syariat, tarekat, hingga hakikat.
    Sumber ilmu yang paling murni berasal dari Rasulullah SAW dan keluarganya yang suci (Ahlul Bait), karena merekalah yang paling mengetahui rahasia wahyu.
    Penting untuk waspada agar ilmu tidak menjadi hijab nuri (tabir cahaya) yang justru melahirkan kesombongan atau merasa paling tahu seperti iblis.
  • Tingkat Kedua: Sofa al-Hal (Kemurnian Keadaan Rohani)
    Tingkat ini melampaui aspek kognitif. Seluruh batin hamba telah menyaksikan tajali (penampakan) Ilahi sehingga ia merasakan kelezatan luar biasa dalam berkomunikasi dengan Allah (Munajat).
    Pada tahap ini, hamba tidak lagi memiliki keperluan kepada dunia, sebagaimana kisah Imam Musa al-Kazim yang merasa tidak memiliki hutang karena tidak membutuhkan apa pun selain Allah.
    Kesadarannya telah dipenuhi oleh Cahaya Makrifat dan Nama-nama Ilahi (Hadrah Al-Asma’iyah), sehingga tidak ada lagi ruang bagi selain-Nya.
  • Tingkat Ketiga: Sofa al-Ittishal (Kemurnian dalam Kefanaan)
    Ini adalah derajat tertinggi di mana seorang hamba fana (lebur) di hadapan Allah dan menjadi media Tajalli Ilahi.
    Segala tindakan (Af’al), sifat, dan perkataannya merupakan manifestasi dari kehendak Allah.
    Hamba pada tingkat ini melihat dengan cahaya Allah (basirah); kemarahan mereka adalah kemarahan Allah, dan kasih sayang mereka adalah kasih sayang Allah.
    Mereka telah terbebas dari dorongan hawa nafsu dan menjadi “taman” Allah di bumi, di mana doa-doa dikabulkan.

Persiapan Memasuki Bulan Sya’ban

Memasuki bulan Sya’ban, yang merupakan bulan Rasulullah SAW, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak shalawat dan berpuasa dengan dasar kecintaan.
Sya’ban adalah masa persiapan rohani untuk menyambut Ramadhan, di mana terdapat malam istimewa seperti Nisfu Sya’ban untuk pengangkatan catatan amal dan penetapan takdir.

Penutup

Membersihkan batin adalah jalan utama agar Cahaya Ilahi terpancar dalam diri.
Hati orang beriman yang suci adalah tempat di mana Allah “bersemayam” dalam makna kemuliaan-Nya.
Kajian diakhiri dengan doa memohon kelezatan ibadah dan pertemuan dengan bulan suci Ramadhan dalam keadaan yang terpuji.

Tasawuf 57 Meraih Kejernihan Bersama Allah

Bersama KH Dr. Kholid Al Walid M.Ag
Belajar Tasawuf seri #57: Al-Khulq (Mengindahkan Perilaku di Hadapan Allah)
LIVE STRAMING Senin 20 Februarii 2023 Jam 20.00 WIB

YouTube: Misykat TV
SoundCloud: SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify: Misykat Bandung
Web: Misykat.net

Cp WA 0812 239 14000

#MisykatTV #DiskusiDigital

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us