21 October 2026

Hakikat Ujub

Ujub adalah perasaan bangga terhadap diri sendiri, baik itu karena prestasi, keindahan fisik, kekuatan tubuh, maupun kenikmatan yang diperoleh.
Seseorang dikategorikan ujub ketika ia merasa bangga dan menisbatkan (mengakui) kelebihan tersebut sebagai milik atau hasil usahanya sendiri.
Sebaliknya, jika seseorang menyadari bahwa segala nikmat tersebut adalah kemurahan dan pemberian dari Allah SWT, maka itu bukanlah ujub, melainkan bagian dari rasa syukur.

Ketidaktahuan Manusia akan Akhir Hayat

Imam Ja’far ash-Shodiq menyatakan bahwa hal yang paling mengherankan adalah orang yang berbangga (ujub) atas amal-amalnya, padahal ia tidak mengetahui bagaimana akhir kehidupannya (suul khatimah atau husnul khatimah).
Banyak orang yang di masa mudanya berjaya atau kaya raya, namun mengakhiri hidupnya dalam keadaan fakir atau menderita penyakit yang menghabiskan seluruh hartanya.
Hukum kehidupan tidak selamanya menempatkan manusia di atas; ada kalanya roda berputar dan manusia akan “terlindas” di bawah.

Mengingat Asal Usul dan Akhir Kehidupan

Al-Qur’an mengingatkan manusia melalui Surah Abasa untuk melihat dari apa mereka diciptakan: dari setetes nutfah (air mani) yang hina, lalu Allah membentuknya, memudahkan rezekinya, dan akhirnya mematikannya untuk dimasukkan ke dalam kubur.
Kehidupan manusia hanyalah rentang antara air mani yang tidak berharga hingga liang kubur yang gelap.
Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk merasa lebih hebat, lebih berilmu, atau lebih kuat dari orang lain, karena di atas orang berilmu masih ada yang lebih berilmu, dan di atas orang kuat ada yang lebih kuat.

Ujub sebagai Bentuk Kedustaan

Segala yang ada pada kita, termasuk diri kita sendiri, adalah titipan Allah SWT.
Barangsiapa yang merasa bangga atas dirinya seolah-olah itu miliknya sendiri, maka ia telah keluar dari jalan petunjuk dan menjadi seorang pendusta.
Kita hanyalah pemilik yang relatif; harta, pasangan, bahkan jabatan bisa berpindah tangan atau hilang dalam sekejap mata sesuai hukum kehidupan.

Bahaya Ujub: Belajar dari Kisah Iblis dan Para Aulia

  • Kisah Iblis:
    Iblis adalah makhluk yang telah beribadah sangat lama, namun terusir dan terlaknat selamanya hanya karena satu sifat: kesombongan dan ujub yang membuatnya enggan bersujud kepada Nabi Adam.
  • Teladan Imam Ja’far ash-Shodiq:
    Seorang ulama besar dan keturunan Rasulullah yang kedudukannya sangat mulia, namun beliau tidak segan menyusun sandal para jamaah di depan masjid untuk menghancurkan bibit kesombongan dalam dirinya.
  • Pentingnya Khidmah (Pelayanan):
    Untuk mengobati ujub, seseorang perlu melayani orang lain, terutama kaum fakir dan miskin, tanpa perlu diberitakan atau dipamerkan.

Perumpamaan Pohon Ujub

Ujub digambarkan sebagai sebuah pohon yang mengerikan:

  • Benihnya: Kesombongan.
  • Tanahnya: Kemunafikan.
  • Airnya: Keangkuhan (tidak adanya sifat tawadhu).
  • Cabangnya: Kebodohan (ketiadaan ma’rifat kepada Allah).
  • Daunnya: Kesesatan.
  • Buahnya: Laknat Allah dan keabadian di dalam neraka.

Penutup: Bersandar Hanya kepada Allah

Ujub muncul karena seseorang bersandar pada dirinya sendiri, bukan pada Allah.
Dr. Kholid menceritakan kisah seorang rahib yang mencoba meniru mukjizat Nabi Isa AS berjalan di atas air.
Rahib tersebut tenggelam karena saat itu ia merasa mampu atas kekuatannya sendiri (ujub), bukan karena bersandar kepada Allah.
Pesan kuncinya adalah: Hilangkan rasa “aku” dalam hati, karena kita hanyalah hamba yang fakir (sangat butuh) di hadapan Allah SWT.

Bahaya Ujub dan Solusinya

bersama Dr. Kholid Al-Walid
Kajian Hadis (Eps 27) dari Imam Ja’far Ash Shadiq cicit Rasulullah Saw dan guru dari semua Imam Mazhab dalam Islam.
Membaca kitabnya Pelita Syariat dan Gerbang Hakikat Bab Ujub pintu bagi syaitan

YouTube : Misykat TV
SoundCloud : SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify : Misykat Bandung
Web : Misykat.net

Cp WA 0812 239 14000

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us