Kajian ini membahas seri ke-71 tentang Manzilah Al-Basith, yaitu tingkatan kelegaan atau kelapangan bersama Allah SWT.
Al-Basith (Yang Maha Melapangkan) merupakan pasangan dari sifat Al-Qabidh (Yang Maha Menyempitkan).
Keadaan ini diibaratkan seperti proses bernapas; jika Al-Qabidh adalah saat kita menarik dan menahan napas, maka Al-Basith adalah saat kita menghembuskan napas yang mendatangkan rasa lega luar biasa.
Hakikat Al-Basith dalam Perjalanan Ruhani
Dalam Al-Qur’an (Surah Asy-Syura: 11), Allah digambarkan sebagai Pencipta yang membuat segala sesuatu berkembang biak dan meluas.
Dalam konteks tasawuf, Manzilah Al-Basith terjadi ketika seseorang merasakan keterbukaan dan perkembangan diri yang membuatnya merasakan rahmat Allah mengalir deras.
Syekh Abdullah Al-Anshari menjelaskan bahwa dalam tingkatan ini, Allah memberikan beragam kebaikan, kemudahan, dan pengetahuan yang sebelumnya tersembunyi.
Tiga Tingkatan Manzilah Al-Basith
Terdapat tiga tingkatan dalam tingkatan kelapangan ini:
- Tingkat Dasar:
Allah meliputi hamba dengan cahaya ketakwaan yang tampak secara lahiriah dan memberikan ketentraman batin.
Pada tahap ini, beban-beban berat yang hampir mematahkan semangat tiba-tiba diangkat oleh Allah (seperti dalam Surah Al-Insyirah).
Orang pada tingkat ini merasa bahagia saat berbagi kepada sesama tanpa mengharapkan imbalan, seperti teladan Imam Ali Zainal Abidin yang tidak pernah menolak permintaan siapa pun. - Tingkat Menengah (Kasyf):
Terjadinya penyingkapan rahasia-rahasia makrifat dan pengetahuan ilahi yang selama ini tertutup.
Keadaannya seperti seseorang yang keluar dari lorong gelap menuju cahaya terang benderang.
Contoh nyata adalah pengalaman Imam Al-Ghazali atau seseorang yang menjalani uzlah (pengasingan diri) selama 40 hari hingga mencapai rasa cinta yang dahsyat kepada Allah. - Tingkat Para Nabi dan Wali:
Ini adalah puncak kesadaran di mana segala tindakan seseorang bukan lagi berasal dari kehendak pribadinya, melainkan dibimbing oleh cahaya Allah.
Mereka menjadi magnet yang menarik manusia menuju kesempurnaan dan kesucian, layaknya air hujan yang membersihkan kotoran di bumi.
Peringatan terhadap Jebakan Ruhani
Penting untuk dibedakan antara rasa lega biasa yang merupakan rahmat umum dari Allah dengan Manzilah Al-Basith yang dicapai melalui perjalanan ruhani yang konsisten.
Seseorang harus waspada terhadap “jebakan ruhani,” yaitu ketika ia merasa kesuksesan atau kedekatannya dengan Allah adalah hasil usaha dirinya sendiri, bukan semata-mata karunia-Nya.
Kaitan dengan Imam Al-Baqir dan Ibadah Haji
Sosok Imam Muhammad Al-Baqir dikenal memiliki keluasan pengetahuan (Al-Baqir berarti yang membelah/membuka pengetahuan).
Beliau mengajarkan bahwa bekerja untuk keluarga juga merupakan bentuk ketaatan dan jihad di jalan Allah.
Terakhir, esensi Haji dan Wukuf di Arafah adalah puncak pengakuan dan penyaksian hamba di hadapan Allah, di mana diharapkan setiap jamaah kembali menjadi sosok seperti Nabi Ibrahim (Khalilullah) yang memiliki ketauhidan kuat sekaligus kepedulian sosial yang tinggi.

Bersama KH Dr. Kholid Al Walid M.Ag
Belajar Tasawuf seri #71: Manzilah al-Basith: Kelegaan/Kelapangan Bersama Allah
LIVE STRAMING Senin 26 Juni 2023 Jam 20.00 WIB
YouTube: Misykat TV
SoundCloud: SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify: Misykat Bandung
Web: Misykat.net
Cp WA 0812 239 14000
#MisykatTV #DiskusiDigital

