19 October 2026

Kajian ini membahas tentang Manzilah al-Ghurbah, sebuah maqam atau kedudukan rohani di mana seorang hamba merasa terasing atau terpisah dari kerumunan manusia demi menjaga hubungan dengan Allah.
Berdasarkan Surah Hud ayat 116, Allah mengisyaratkan bahwa hanya segelintir orang yang memiliki keberanian untuk melarang kerusakan di muka bumi, sementara mayoritas manusia cenderung mengikuti kezaliman demi kepentingan diri sendiri.
Orang-orang yang memilih jalan berbeda dari mayoritas inilah yang disebut sebagai al-ghuraba atau orang-orang yang terasing.

Rasulullah SAW bersabda bahwa Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing; maka beruntunglah mereka yang dianggap asing karena berusaha memperbaiki kerusakan yang dilakukan manusia.
Mereka adalah orang-orang yang tetap memegang komitmen kepada Allah meski harus menanggung risiko dianggap aneh oleh lingkungannya.
Sosok-sosok seperti Nabi Isa AS, yang datang dengan membawa kebenaran namun difitnah dan dikhianati, serta Asiah (istri Firaun), yang tetap beriman di tengah lingkungan yang paling ingkar, merupakan contoh nyata dari keterasingan ini.

Tiga Tingkatan Keterasingan (Ghurbah):

  1. Keterasingan dari Lingkungan Buruk:
    Pada tingkat awal, seorang penempuh jalan spiritual (murid) dituntut untuk mampu melepaskan diri dari lingkungan atau bahkan kampung halaman yang memberikan pengaruh buruk bagi jiwanya.
    Karena jiwa pemula masih lemah, menjauh dari komunitas yang rusak adalah langkah krusial untuk menyelamatkan diri dan menguatkan batin agar tidak ikut terjerumus dalam keburukan.
  2. Ghurbatul Hal (Keterasingan Keadaan Batin):
    Pada tingkat ini, seseorang mungkin secara fisik berada di tengah masyarakat, namun batinnya merasa asing.
    Ia tetap menjaga kesalehan, kejujuran, dan imannya meskipun berada di lingkungan yang fasik atau di antara orang-orang yang bodoh (secara spiritual).
    Meskipun ia sering kali difitnah atau hak-haknya dirampas, hatinya tetap tertambat kepada Allah, dan kehadirannya justru memberikan ketenangan bagi orang lain meskipun jiwanya sendiri merasa lelah.
  3. Ghurbatul Himmah (Keterasingan Aspirasi Luhur):
    Ini adalah tingkat keterasingan tertinggi bagi seorang Arif (orang yang mengenal Allah).
    Ia telah menembus berbagai hijab yang membatasi dirinya dengan Allah dan tidak lagi memiliki perhatian kepada selain-Nya.
    Di mana pun ia berada, baik dalam penderitaan maupun kenikmatan, ia tidak lagi menyaksikan kecuali wajah Allah.
    Tokoh yang menjadi simbol tingkat ini adalah Imam Ali bin Musa ar-Rida, yang dikenal sebagai “Pemimpin orang-orang yang terasing” karena wafat dan dimakamkan jauh dari tanah leluhurnya di tengah keterasingan yang luar biasa.

Di bulan Ramadan, setiap mukmin diajak untuk berlatih memasuki maqam keterasingan ini dengan mengasingkan jiwa dari keinginan duniawi, membakar hawa nafsu melalui rasa lapar dan haus, serta memperpanjang waktu berdua dengan Allah melalui zikir dan doa.

Tasawuf 62 Infografis Perjalanan Ruhaniah al Ghurbah

Bersama KH Dr. Kholid Al Walid M.Ag
Belajar Tasawuf seri #62: Al-Khulq (Mengindahkan Perilaku di Hadapan Allah)
LIVE STRAMING Senin 27 Maret 2023 Jam 20.00 WIB

YouTube: Misykat TV
SoundCloud: SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify: Misykat Bandung
Web: Misykat.net

Cp WA 0812 239 14000

#MisykatTV #DiskusiDigital

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us