Pembahasan ini memasuki seri ke-38 dalam perjalanan tasawuf, yang berfokus pada Manzilah al-Bashirah. Bashirah atau Bashorak secara umum dimaknai sebagai penglihatan hati atau mata batin dalam tradisi sufi.
Menurut Syekh Abdur Razzaq al-Qasyani, Bashirah adalah daya yang ada di dalam hati yang bercahaya karena cahaya kesucian (Al-Quds), sehingga seseorang mampu menyaksikan hakikat segala sesuatu secara batiniah.
Perbedaan Bashar (Lahir) dan Bashirah (Batin)
Manusia memiliki dua cara pandang:
- Bashar:
Penglihatan lahiriah menggunakan mata fisik.
Pandangan ini terbatas pada objek material, rupa, pakaian, dan hal-hal yang tampak di permukaan.
Seseorang mungkin tampak menawan secara fisik namun batinnya penuh tipu daya, atau sebaliknya, seseorang mungkin tampak kasar secara lahiriah namun memiliki batin yang sangat lembut dan suci, seperti sahabat Bilal bin Rabah. - Bashirah:
Penglihatan batin yang memancar dari kedalaman rohani.
Ini adalah kemampuan untuk melihat ketulusan, kasih sayang, dan kedekatan seseorang kepada Allah.
Para filosof menyebutnya sebagai Al-Quwwatul Qudsiyah, yaitu daya rohaniah untuk menyingkap tirai antara alam lahir dan alam batin dengan petunjuk Allah.
Butanya Mata Hati
Al-Quran dan Hadis menekankan bahwa kebutaan yang sesungguhnya bukanlah kebutaan mata fisik, melainkan kebutaan hati.
Hati yang buta adalah hati yang mengeras seperti batu, tidak lagi memancarkan cahaya kesucian, dan tidak mampu merasakan penderitaan orang lain.
Sebaliknya, hati yang hidup akan sangat sensitif terhadap cahaya rohaniah dan penuh kasih sayang, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Tiga Tingkatan Bashirah
- Tingkat Pertama: Tersingkapnya Hakikat Ibadah dan Syariat
Pada tingkat dasar ini, ibadah tidak lagi dilakukan karena rasa takut akan siksa, melainkan karena rasa cinta dan kemesraan kepada Allah. Seseorang mulai merasakan kelezatan dan “getaran” saat membaca Al-Quran atau melaksanakan salat khusyuk. Mereka merasakan kenikmatan yang begitu dahsyat sehingga tidak ingin terpisah dari ibadah tersebut. - Tingkat Kedua: Menyaksikan Keselarasan Alam sebagai Pesan Ilahi
Pada tingkat ini, seseorang melihat segala sesuatu sebagai manifestasi atau pesan dari Allah yang sempurna.
Ia tidak lagi terjebak dalam dualitas baik dan buruk yang dangkal, melainkan memahami bahwa segala keadaan (kaya, miskin, sehat, sakit) adalah bagian dari harmoni dan kebijaksanaan Ilahi.
Ia merasakan adanya “tali Allah” (hablullah) yang terus menarik batinnya untuk semakin dekat kepada Sang Pencipta. - Tingkat Ketiga: Puncaknya Makrifat, Isyarat, dan Firasat
Inilah tingkatan tertinggi di mana Allah mengajarkan ilmu Ladunni (pengetahuan langsung dari sisi-Nya).- Makrifat:
Munculnya pengetahuan luar biasa yang tidak dipelajari lewat buku, seperti Ibnu Arabi yang mendapatkan rahasia kitab Fusus al-Hikam dalam satu malam melalui perjumpaan ruhani dengan Rasulullah. - Isyarat:
Kemampuan menangkap sinyal-sinyal atau simbol-simbol Ilahi dalam kehidupan sehari-hari. - Firasat:
Puncak dari Bashirah, di mana seseorang melihat dengan cahaya Allah sehingga mampu mengetahui rahasia takdir atau keadaan batin seseorang sebelum hal itu tampak secara nyata.
- Makrifat:
Kesimpulan
Menyucikan batin memungkinkan manusia untuk tidak hanya melihat dengan mata yang terbatas, tetapi mampu melihat jauh menembus hakikat yang tidak terbatas.

Bersama KH Dr. Kholid Al Walid M.Ag
Belajar Tasawuf seri #38 | Manzilah al-Bashirah Kedudukan Ruhani Pandangan Batin
Senin 3 Oktober 2022 Jam 20.00 WIB
YouTube: Misykat TV
SoundCloud: SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify: Misykat Bandung
Web: Misykat.net
Cp WA 0812 239 14000
#MisykatTV #DiskusiDigital

