Kajian ini membahas tentang Manzilah al-Waqt atau kedudukan “Waktu” dalam perjalanan rohani seorang hamba.
Waktu bukan sekadar putaran jam, menit, atau detik, melainkan sebuah dimensi krusial dalam kehidupan manusia.
Al-Qur’an menggunakan berbagai istilah untuk waktu seperti hiin, ajal, dan as-sa’ah, bahkan Allah SWT sering bersumpah demi waktu (seperti Wal Ashri dan Wal Fajr) untuk menunjukkan betapa pentingnya hal ini.
Waktu vs. Kelalaian (Ghaflah)
Dalam tasawuf, lawan dari “waktu” adalah ghaflah (kelalaian).
Ghaflah adalah kondisi di mana hati seorang hamba kosong dari ingatan atau kehadiran Allah SWT.
Bagi seorang pejalan rohani (salik), kelalaian adalah dosa terbesar karena ketika manusia melupakan Allah, maka Allah akan membuat manusia itu lupa akan dirinya sendiri.
Sebaliknya, Al-Waqt dalam makna spiritual adalah kesadaran batin, ingatan, dan perasaan kebersamaan yang terus-menerus dengan Allah SWT.
Empat Kelompok Manusia Terkait Waktu
Berdasarkan kitab Madarijus Salikin, manusia dibagi menjadi empat kelompok dalam memandang waktu:
- Ashabul Sawabiq:
Kelompok yang selalu terpaku pada masa lalu.
Mereka terus mengenang keburukan masa lalu dalam penyesalan dan pertobatan yang mendalam. - Ashabul Ukhba:
Kelompok yang sibuk memikirkan masa depan, terutama mengenai ancaman hukuman atau ganjaran di akhirat.
Fokus mereka adalah keselamatan di masa yang akan datang. - Ashabul Waqt (Arif Ibnul Waqt):
Mereka yang tidak menyibukkan diri dengan masa lalu maupun masa depan.
Bagi mereka, yang terpenting adalah “saat ini”. Mereka fokus pada apa yang harus dilakukan sekarang sesuai perintah Allah.
Imam Syafi’i menyebutkan bahwa waktu itu bagaikan pedang; jika kita tidak memutusnya (memanfaatkannya), maka waktu yang akan memenggal kita. - Ashabul Haq:
Tingkatan di mana seseorang tidak lagi memedulikan siang atau malam.
Kesadaran mereka telah tenggelam sepenuhnya dalam mengingat Allah, sehingga dimensi waktu selain Allah menjadi tiada.
Tiga Tingkatan Manzilah al-Waqt
Terdapat tiga tingkatan bagi seorang salik dalam kedudukan waktu ini:
- Tingkat Pertama:
Terbukanya cahaya Ilahi yang memunculkan isyarat batin.
Hal ini bisa berupa perasaan harapan (roja’), ketundukan yang luar biasa (haibah), atau kerinduan yang mendalam (syauq) kepada Allah. - Tingkat Kedua:
Kondisi di mana seorang salik mulai tersingkap hakikat Ilahi, namun ia masih memiliki dualitas kesadaran.
Di satu sisi ia tenggelam dalam kesadaran Ilahi, namun di sisi lain ia masih menyadari dirinya sebagai seorang hamba yang sedang menempuh perjalanan. - Tingkat Tercinggi:
Kesadaran hamba tersebut telah lenyap (fana) dan tenggelam sepenuhnya dalam wujud Al-Haq.
Tidak ada lagi waktu, batas, atau jarak; yang ada hanyalah kehadiran Ilahi semata.
Pesan Penutup
Waktu bersama Allah bisa terjadi dalam keadaan apa pun.
Penting bagi kita untuk selalu menjaga hati dalam kesadaran akan hakikat-Nya.
Janganlah kita menjadi orang yang lalai, karena sambutan kita terhadap “panggilan” Allah—sekecil apa pun itu—akan menentukan kedekatan rohani kita dengan-Nya.

Bersama KH Dr. Kholid Al Walid M.Ag
Belajar Tasawuf seri #54: Waktu Bersama Allah
YouTube: Misykat TV
SoundCloud: SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify: Misykat Bandung
Web: Misykat.net
Cp WA 0812 239 14000
#MisykatTV #DiskusiDigital
#misykattv

