19 October 2026

Hakikat Ta’zim

Manzilah al-Ta’dzim adalah salah satu kedudukan rohani dalam tasawuf yang berarti mengagungkan atau membesarkan Allah SWT.
Kata Ta’dzim berasal dari adzama yang berarti Agung atau Besar.
Inti dari kedudukan ini adalah ketika seorang hamba melihat keagungan Allah yang luar biasa, maka pada saat yang sama ia harus melihat dirinya sendiri sebagai sosok yang kecil, rendah, hina, dan fakir (sangat membutuhkan).

Kefakiran manusia di sini bukan hanya sekadar butuh dalam pemenuhan hajat sehari-hari, melainkan fakir eksistensial.
Artinya, keberadaan kita sama sekali tidak bermakna kecuali karena diadakan dan ditopang sepenuhnya secara mutlak oleh Allah SWT.
Semakin seseorang merasa dirinya besar atau sombong (ananiah), maka semakin berkuranglah rasa ta’dzim-nya kepada Allah.
Sebaliknya, ta’dzim hanya muncul dalam hati yang merasakan kehinaan (dzillah) di hadapan Sang Maha Agung.

Tiga Tingkatan Ta’dzim

Tingkat 1: Ta’dzim al-Amr wa al-Nahi (Mengagungkan Perintah dan Larangan)

Pada tingkat dasar, seorang salik mengagungkan setiap syariat Allah.
Tanda seseorang mengagungkan Allah adalah ia akan segera melaksanakan perintah-Nya dengan sebaik-baiknya tanpa bermalas-malasan.

  • Ketaatan yang Tulus:
    Orang yang hatinya tidak mengagungkan Allah (seperti kaum munafik) akan merasa berat dan malas saat beribadah.
  • Keseimbangan:
    Ta’zim pada tingkat ini berarti menjalankan perintah sesuai batas yang ditetapkan Allah, tidak berlebih-lebihan (ifrad) dan tidak pula meremehkan (tafrid).
    Kita beribadah sesuai keinginan Allah, bukan mengikuti keinginan atau logika kita sendiri.

Tingkat 2: Ta’dzim al-Hukmi (Mengagungkan Ketetapan dan Hikmah Ilahi)

Tingkat kedua adalah menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, termasuk dalam kehidupan pribadi kita, mengandung hikmah yang luar biasa.

  • Ridho terhadap Qada:
    Menerima setiap ketetapan Allah sebagai hal yang terbaik untuk kita.
    Seringkali Allah menutup mata batin kita dari masa depan agar kita tetap bisa menjalani hidup dengan tenang tanpa rasa takut yang berlebihan.
  • Bersyukur dalam Keterbatasan:
    Menyadari bahwa kekurangan di dunia seringkali merupakan cara Allah memberikan kelebihan di akhirat.

Tingkat 3: Ta’dzim al-Haq (Mengagungkan Sang Kebenaran Mutlak)

Ini adalah tingkat tertinggi di mana seorang hamba tidak lagi melihat kebaikan atau sebab-sebab berasal dari dirinya sendiri.

  • Menghilangkan Peran Diri:
    Seorang hamba melihat bahwa seluruh kemuliaan dan keutamaan semata-mata adalah curahan Ilahi.
    Seperti Nabi Sulaiman AS yang berkata, “Hadza min fadhli Rabbi” (Ini adalah karunia Tuhanku), ia tidak melihat kekayaannya sebagai hasil ilmunya sendiri.
  • Menyaksikan Cahaya Allah:
    Pada tingkat ini, seseorang tenggelam dalam keagungan Allah sehingga tidak melihat sesuatu yang lain kecuali Allah (Wajhullah). Ia sadar sepenuhnya bahwa Allah adalah sumber dari segala sebab dan kebaikan.

Penutup: Jalan Menuju Ta’dzim

Kesadaran akan keagungan ini dapat dicapai melalui dua jalur: Pengetahuan (Ilmu) dan Pengalaman.
Pengetahuan jauh lebih ditekankan karena ilmu dapat membuka ruang kesadaran yang tidak terbatas tanpa harus melalui peristiwa-peristiwa pahit terlebih dahulu.
Ta’zim adalah modal utama dalam menempuh perjalanan rohani menuju Allah.

Tasawuf 40 Mendaki Tangga Pengagungan Ilahi

Bersama KH Dr. Kholid Al Walid M.Ag
Belajar Tasawuf seri #40: Manzilah al-Ta’zim (Kedudukan Ruhani Dalam Pengagungan Ilahi)
LIVE STRAMING Senin 17 Oktober 2022 Jam 20.00 WIB

YouTube: Misykat TV
SoundCloud: SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify: Misykat Bandung
Web: Misykat.net

Cp WA 0812 239 14000

#MisykatTV #DiskusiDigital

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us