Hakikat Air dan Dahaga
Dahaga atau atsh dalam bahasa Arab adalah kondisi alamiah saat tubuh membutuhkan air.
Air sendiri merupakan sumber kehidupan utama; segala sesuatu menjadi hidup karena air. Dalam perspektif spiritual, air dipandang sebagai tajalli (penampakan) dari sifat atau nama Allah “Al-Hayyu” (Yang Maha Hidup) karena fungsinya yang menghidupkan bumi setelah kematiannya.
Namun, istilah dahaga tidak hanya merujuk pada konteks jasmani, melainkan juga simbolis bagi keadaan batin dan rohani seseorang yang sangat menginginkan sesuatu.
Sumber Dahaga: Mahabbah (Cinta)
Setiap orang mengalami dahaga rohaniah, namun objek yang diinginkan berbeda-beda.
Sumber utama dari dahaga ini adalah mahabbah atau cinta.
Seseorang yang jatuh cinta akan selalu merasakan rindu untuk berjumpa dengan kekasihnya dan tidak pernah merasa puas dalam perjumpaan tersebut.
Waktu yang panjang terasa singkat, dan setiap perpisahan mendorong kerinduan untuk kembali menyempurnakan perjumpaan.
Dua Jenis Dahaga menurut Imam Ali bin Abi Thalib
Terdapat dua jenis dahaga yang disebabkan oleh keterikatan hati:
- Dahaga Terhadap Dunia:
Orang yang hatinya tertambat pada hal duniawi tidak akan pernah puas.
Rasulullah SAW mengibaratkan pecinta dunia seperti orang yang meminum air laut; semakin diminum, semakin haus, hingga akhirnya “mati” karena kehausan tersebut.
Mereka sering kali terbuai oleh angan-angan panjang dan melupakan kematian. - Dahaga Terhadap Akhirat/Ruhaniah:
Ini adalah dahaga terhadap ilmu, ibadah, dan perjumpaan dengan Allah.
Contohnya adalah kerinduan yang terus-menerus untuk mengunjungi Baitullah atau makam suci Rasulullah SAW, di mana seseorang selalu merasa kurang dan ingin kembali lagi.
Kisah Nabi Ibrahim as. sebagai Simbol Pencarian
Dalam Surah Al-An’am (ayat 76-78), kisah Nabi Ibrahim as. yang melihat bintang, bulan, dan matahari lalu berkata “Inilah Tuhanku” ditafsirkan oleh para sufi sebagai bentuk dahaga akan hakikat kebenaran Ilahi.
Beliau ingin menunjukkan bahwa segala sesuatu yang sirna bukanlah Tuhan.
Dahaga Nabi Ibrahim adalah keinginan kuat untuk melepaskan hijab-hijab (pembatas) manifestasi alamiah guna sampai pada hakikat wujud yang mutlak.
Tiga Tingkatan Manzilah al-Atsh
- Dahaga Sang Murid (Atshul Murid):
Tahap awal perjalanan rohani yang penuh dengan kekaguman terhadap makrifat yang disampaikan guru.
Di sini muncul campuran rasa cemas, haru, dan harapan.
Seorang murid akan selalu rindu berada di dekat mursyidnya, seperti para sahabat yang rindu memandang wajah Rasulullah SAW.
Pengetahuan yang didapat justru menambah rasa haus akan makrifat yang lebih dalam. - Dahaga Sang Pejalan (Atshul Salik):
Dahaga untuk segera sampai pada tujuan. Seorang salik mengerahkan seluruh energi, harta, dan jiwanya melalui ibadah dan ketentuan spiritual.
Mereka sering merasa lelah namun terus berlari karena takut tidak sampai pada tujuan Ilahi.
Segala hal yang tidak terkait dengan tujuan (termasuk keterikatan pada keluarga atau anak) dipandang sebagai ujian atau “fitnah” yang bisa menghambat perjalanan. - Dahaga Sang Pecinta (Atshul Muhib):
Tingkat tertinggi di mana yang diinginkan hanyalah kebersamaan mutlak dengan Kekasih.
Bagi mereka, surga dan neraka pun bisa menjadi hijab karena mereka hanya ingin memandang wajah Allah.
Mereka berada dalam keadaan fana (leburnya kesadaran diri), tidak lagi menyaksikan apapun kecuali dalam pandangan Allah.
Penutup: Lentera Hati
Penderitaan karena rindu dan dahaga kepada Allah justru menjadi kenikmatan bagi para pecinta.
Hati diibaratkan seperti bahtera yang memiliki lentera.
Kita harus terus “memompa” dan menjaga cahaya lentera tersebut agar tidak padam oleh kegelapan dunia.
Jika lentera itu terjaga, cahayanya akan terus menerangi jiwa menuju petunjuk-Nya.

Bersama KH Dr. Kholid Al Walid M.Ag
Belajar Tasawuf seri #49 Manzilah al-Atsh [ Dahaga Ruhaniah dalam perjumpaan dengan Allah ]
LIVE STRAMING Senin 19 Desember 2022 Jam 20.00 WIB
YouTube: Misykat TV
SoundCloud: SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify: Misykat Bandung
Web: Misykat.net
Cp WA 0812 239 14000
#MisykatTV #DiskusiDigital

