21 October 2026

Taslim merupakan manzilah (kedudukan) luar biasa dalam tasawuf yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah menerima dan tunduk sepenuhnya pada ketetapan Allah SWT.
Inti dari Taslim adalah ketundukan hati secara total kepada Sang Pencipta.

Teladan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Kisah paling agung tentang Taslim terlihat pada peristiwa Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.
Ketika Nabi Ibrahim menyampaikan wahyu untuk menyembelih Ismail, jawaban Ismail sangat luar biasa: “Wahai ayahku, lakukan apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Secara rasional, perintah ini sulit diterima, namun keduanya menunjukkan kepasrahan total (aslama) dan menyerahkan diri sepenuhnya pada ketetapan Ilahi.

Tiga Syarat Sahnya Taslim (Berdasarkan QS. An-Nisa: 65)

Agar sebuah penyerahan diri dianggap sebagai Taslim yang sah, terdapat tiga prasyarat utama:

  1. Menjadikan Allah dan Rasul sebagai Hakim: Menyerahkan segala keputusan hukum dan perkara hanya kepada Allah dan Rasul-Nya.
  2. Tidak Ada Keberatan (Bila Haraj): Tidak ada sedikit pun rasa berat atau ganjalan di hati atas keputusan yang telah ditetapkan, meskipun secara lahiriah mungkin tampak bertentangan dengan keinginan pribadi.
  3. Keridhaan Penuh: Menerima keputusan tersebut dengan rasa ridha yang mendalam.

Akar Munculnya Taslim

Taslim tidak muncul begitu saja, melainkan berakar dari tiga hal:

  • Ta’dzim: Kesadaran akan keagungan Allah dan Rasul-Nya.
  • Kecenderungan Hati (Qolbi Salim): Hati yang sudah terikat hanya kepada Allah, tidak lagi terikat pada harta, keturunan, atau duniawi lainnya.
  • Kecintaan (Mahabbah): Seorang pecinta akan melakukan apa pun yang diinginkan kekasihnya, meskipun ada risiko besar di baliknya.

Tiga Tingkatan Taslim

  1. Taslimul Aqliyah (Tingkat Intelektual/Ilmu): Tunduk pada kebenaran ilmu dan wahyu, meskipun bertentangan dengan nafsu. Contohnya adalah tetap mengikuti dalil yang kuat meskipun berbeda dengan pendapat umum.
  2. Taslimul Qolbiyah (Tingkat Hati/Intuisi): Ketundukan yang didasarkan pada firasat, ilham, atau penyaksian batin (mukashafah). Di sini, seseorang mengikuti pesan batinnya meskipun terkadang tidak masuk akal secara lahiriah.
  3. Taslimul Haqqiyah (Tingkat Hakiki): Tingkatan tertinggi di mana seseorang sudah kehilangan kesadaran akan dirinya (fana) dan hanya menyaksikan keagungan Allah (Al-Haq). Tidak ada lagi “aku”, yang ada hanyalah Dia.

Ciri Sikap Orang yang Taslim dalam Keseharian Orang yang mencapai derajat Taslim dapat dikenali dari perilakunya:

  • Mendahulukan kebenaran di atas segalanya.
  • Memiliki sikap rendah hati dan tidak mudah menghakimi orang lain.
  • Tidak terjebak pada pengejaran popularitas atau kekayaan duniawi.
  • Lisannya sibuk dengan dzikir dan hatinya selalu tertambat pada Allah.

Hakikat Taslim Kepada Ilahi

bersama Ustadz Dr. H. Kholid Al-Walid M.Ag
Belajar tasawuf seri 19 pada Bab Al-Taslim penyerahan diri kepada Ilahi.
Kajian berlangsung pada Ahad 1 Mei 2022 Jam 16.00 – 17.00 WIB di MISYKAT TV.

YouTube : Misykat TV
SoundCloud : SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify : Misykat Bandung
Web : Misykat.net

Cp 0812 239 14000

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us