21 October 2026

Kajian ini melanjutkan penjelasan dari kitab Misbahus Syariah karya Imam Ja’far as-Shodiq mengenai hakikat attafakur atau berpikir.
Imam Ja’far as-Shodiq mengajak kita untuk mengambil pelajaran dari apa yang telah berlalu di dunia ini.
Kita menyaksikan hukum alam semesta di mana satu generasi silih berganti menjemput kematiannya; baik mereka orang mulia atau hina, kaya atau fakir, semuanya akan hilang.
Apa yang terjadi di masa lalu akan terulang di masa depan karena polanya serupa, diibaratkan seperti kesamaan antara air dengan air.

Nasihat Rasulullah SAW

Rasulullah SAW bersabda bahwa cukuplah kematian sebagai penasihat, akal sebagai petunjuk, ketakwaan sebagai bekal, dan ibadah sebagai aktivitas utama.
Beliau menekankan bahwa hubungan mesra dengan Allah adalah bentuk kecintaan tertinggi, dan Al-Qur’an adalah sumber penjelasan yang nyata.
Dunia ini tidak menyisakan apa pun kecuali ujian (bala) dan fitnah (guncangan).
Kita hidup untuk berproses dari satu persoalan ke persoalan berikutnya, sebagaimana isyarat Al-Qur’an: “Jika kamu telah selesai dari suatu urusan, maka bersiaplah untuk urusan berikutnya”.

Analogi Dunia menurut Nabi Nuh AS

Nabi Nuh AS memberikan gambaran yang sangat menyentuh bahwa dunia ini bagaikan sebuah rumah yang hanya memiliki dua pintu.
Kita masuk melalui satu pintu dan akan segera keluar melalui pintu lainnya.
Jika seorang Nabi saja memiliki kekhawatiran dan terus mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah dunia, maka sungguh celaka bagi manusia yang merasa terlalu nyaman dan tenggelam dalam kesenangan duniawi hingga mengabaikan agamanya.

Hakikat dan Manfaat Tafakur

Berpikir didefinisikan sebagai proses pergerakan akal dari ketidaktahuan menuju pengetahuan. Tafakur adalah:

  • Cermin kebaikan dan pelita bagi hati.
  • Penghapus segala jenis keburukan.
  • Sarana untuk memperindah perilaku dan memperbaiki kehidupan di akhirat.
  • Cara untuk memahami konsekuensi atau akibat dari setiap peristiwa.

Dengan pengetahuan yang diperoleh melalui tafakur, seseorang tidak akan menyembah Allah dalam kebodohan.
Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa berpikir sesaat itu lebih baik daripada ibadah selama satu tahun penuh.
Namun, derajat tafakur ini hanya diberikan kepada mereka yang dikhususkan Allah dengan cahaya makrifat dan tauhid.
Melalui tafakur, manusia dapat memahami hakikat ketunggalan Ilahi dalam segala sesuatu.

Pelajaran dari Ibnu Sina

Sebagai penutup, dikisahkan tentang Ibnu Sina di saat sakratul maut.
Dalam keadaan kritis, ia masih bertanya kepada muridnya mengenai hukum geometri (segitiga).
Ketika ditanya mengapa ia masih memikirkan hal itu di saat terakhirnya, Ibnu Sina menjawab bahwa ia lebih memilih menghadap Allah dalam keadaan memiliki pengetahuan daripada dalam keadaan bodoh.
Proses tafakur inilah yang mengangkat nilai hakikat diri manusia di hadapan Allah SWT.

Hakikat Al Tafakur Melalui Berpikir

bersama Dr. Kholid Al Walid.

Kajian hadis Imam Ja’far Ash Shadiq guru dari semua mazhab dalam Islam Pelita Syariat Gerbang Hakikat bab al-Tafakur

YouTube : Misykat TV
SoundCloud : SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify : Misykat Bandung
Web : Misykat.net

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us