Kajian ini membahas adab dan sikap dalam berdoa berdasarkan riwayat dari Imam Ja’far as-Sodiq yang tertuang dalam kitab Misbahus Syariah.
Imam Sodiq menekankan pentingnya menjaga etika saat kita memohon kepada Allah SWT.
Tiga Pilar Utama dalam Berdoa
Dalam berdoa, terdapat tiga unsur utama yang harus diperhatikan oleh setiap mukmin:
- Kepada siapa kita berdoa:
Menyadari keagungan dan kebesaran Allah. - Bagaimana kita berdoa:
Memperhatikan tata cara dan kesopanan dalam memohon. - Apa kandungan doa kita:
Memahami apa yang kita sampaikan kepada Allah dan tujuannya.
Kondisi Batin dan Pengagungan Allah
Saat berdoa, hendaknya batin kita dipenuhi dengan kesadaran akan keagungan Allah.
Kita harus meyakini bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu, bahkan apa yang tersembunyi di dalam hati, baik itu kebenaran maupun kebatilan.
Karena itu, sangat penting untuk berhati-hati karena Allah mengetahui setiap getaran batin kita.
Dianjurkan untuk memulai doa dengan memuji dan memanggil nama-nama Allah yang indah (Asmaul Husna).
Allah adalah Yang Paling Dermawan, Yang Paling Mengasihi, dan tempat bergantung segala sesuatu.
Dia menyaksikan segala sesuatu dari tempat yang tinggi dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.
Memahami Isi Permohonan
Seorang hamba harus mengetahui apa yang dapat menyelamatkan atau menghancurkan dirinya.
Seringkali manusia tergesa-gesa memohon sesuatu yang dianggapnya baik, padahal sebenarnya hal itu buruk bagi dirinya.
Oleh karena itu, kita perlu merenungkan kembali apa dan mengapa kita meminta hal tersebut kepada Allah.
Fokus utama dalam permohonan kita sebaiknya adalah kebaikan akhirat.
Syarat Terkabulnya Doa: Keikhlasan dan Penyerahan Diri
Doa akan diijabah jika kita memenuhi syarat-syaratnya, di antaranya:
- Ketulusan Niat:
Harus ada keselarasan antara apa yang diucapkan lidah dengan apa yang tersimpan dalam niat dan ilmu kita. - Kepasrahan Total:
Saat berdoa, kita harus melepaskan ketergantungan pada kemampuan diri sendiri (ikhtiar) maupun bantuan makhluk lain.
Kita harus menyerahkan seluruh urusan, baik lahir maupun batin, hanya kepada kekuasaan Allah. - Keputusasaan terhadap Makhluk:
Hendaknya kita memutuskan harapan dari manusia secara keseluruhan dan hanya menggantungkan harapan kepada Allah semata.
Jika Allah melihat hati hambanya sudah murni bergantung hanya kepada-Nya, maka sebelum doa itu terucap, Allah sudah menjawabnya.
Tiga Cara Allah Menjawab Doa
Jika syarat-syarat doa telah terpenuhi, Allah akan memberikan jawaban melalui tiga cara:
- Segera Mengabulkan:
Allah langsung mewujudkan apa yang diminta oleh hamba-Nya. - Mengganti dengan yang Lebih Baik:
Allah tidak memberikan apa yang diminta, tetapi menggantinya dengan sesuatu yang lebih membawa keberkahan bagi si hamba. - Menghindarkan dari Musibah (Bala):
Allah memalingkan hamba tersebut dari kecelakaan atau malapetaka yang seharusnya menimpanya.
Sebagai contoh, dikisahkan tentang seorang musafir yang diselamatkan dari meminum air beracun melalui perantaraan seekor burung. - Menyimpannya di Akhirat:
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa doa yang belum terjawab di dunia akan diberikan pahalanya di akhirat sebagai “hutang” kemuliaan dari Allah kepada hamba-Nya.
Penutup
Jawaban Allah atas doa seorang hamba sebenarnya merupakan nikmat yang sangat besar, melampaui hajat itu sendiri.
Namun, kesempurnaan dalam memenuhi adab berdoa ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang berilmu dan benar-benar mencintai Allah.
Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa menjaga adab dalam berkomunikasi dengan Sang Pencipta.

bersama Dr Kholid Al Walid
Kajian hadis (Eps 15) Imam Ja’far Ashadiq Cicit Rasulullah Saw guru dari semua Imam Mazhab dalam Islam Pelita Syariah Gerbang Hakikah Bab Adab Bedoa
YouTube : Misykat TV
SoundCloud : SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify : Misykat Bandung
Web : Misykat.net
#MisykatTV #DiskusiDigital

