1. Pendahuluan dan Pengantar Kajian
- Kajian diawali dengan pujian kepada Allah SWT dan selawat kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya.
- Kajian ini dilaksanakan pada selasa malam sebagai seri kajian tafsir sederhana yang pada pertemuan pertama ini membahas lima ayat pertama dari Surat Al-Hasyr.
- Ciri Surah: Surat Al-Hasyr tergolong sebagai surah Madaniyah dan terdiri dari 24 ayat (bukan termasuk surah yang panjang).
2. Prinsip Penafsiran Al-Qur’an (Perspektif Ahlul Bait)
- Penafsir Hakiki:
Diyakini bahwa penafsir sejati Al-Qur’an adalah Rasulullah SAW dan keluarga sucinya (Ahlul Bait). - Syarat Memahami Al-Qur’an:
Sebagaimana ditegaskan dalam ayat Al-Qur’an (La yamassuhu illal muthahharun), kitab yang suci ini tidak dapat dipahami dengan kebenaran mutlak kecuali oleh jiwa-jiwa yang disucikan (al-muthahharun). - Perbedaan Pendapat Manusia:
Akal manusia biasa dan para ulama, ketika mencoba menafsirkan sendiri tanpa bimbingan orang yang disucikan, sering kali jatuh dalam perbedaan pendapat hingga ratusan bahkan ribuan versi. - Identitas Al-Muthahharun:
Al-Qur’an menjelaskan bahwa pihak yang disucikan dari segala dosa dan cela (ahlul bait) adalah keluarga suci Nabi. - Sikap Pemateri:
Kajian ini bukan merupakan pengklaiman tafsir mutlak, melainkan ikhtiar memaksimalkan akal untuk mengambil pelajaran sebatas kemampuan pemahaman manusia.
3. Peta Ringkasan Kandungan Surat Al-Hasyr
Secara garis besar, Surat Al-Hasyr terbagi menjadi 6 bagian utama:
- Ayat 1: Masalah tasbih seluruh alam/keberadaan kepada Allah SWT.
- Ayat 2–10 (9 Ayat): Kisah perseteruan kaum muslimin dengan kelompok Yahudi Madinah yang melanggar janji.
- Ayat 11–17: Cerita tentang orang-orang munafik di Madinah yang bekerja sama dengan kaum Yahudi.
- Beberapa Ayat Petunjuk: Nasihat dan petunjuk umum bagi umat Islam.
- Ayat 21: Penyifatan Al-Qur’an serta pengaruhnya yang kuat dalam penyucian ruh dan jiwa manusia.
- Ayat 22–24: Pembahasan sifat-sifat Allah (Keagungan dan Keindahan / Jalalullah dan Jamalullah), Asmaul Husna, untuk memperdalam makrifatullah.
4. Penamaan Surah dan Keutamaan (Fadhilah) Membacanya
- Latar Belakang Nama Surah:
- Dinamakan Al-Hasyr karena pada ayat ke-2 memuat kata pengumpulan/pengusiran (al-hasyr), yaitu peristiwa dikumpulkannya kaum Yahudi Bani Nadhir untuk dikeluarkan dari Madinah akibat pelanggaran kesepakatan (bukan berkaitan dengan pengumpulan Hari Kiamat).
- Surah ini juga dinamakan Surat Bani Nadhir serta termasuk dalam kelompok Al-Musabbihat (surah-surah yang diawali dengan kalimat tasbih).
- Keutamaan Berdasarkan Riwayat Rasulullah SAW:
- Barangsiapa membaca Surat Al-Hasyr, maka seluruh ciptaan—termasuk surga, neraka, ‘Arsy, Kursi, langit tujuh lapis, bumi tujuh lapis, serangga, binatang, angin, burung, tumbuhan, matahari, bulan, dan para malaikat—semuanya akan berselawat dan memohonkan ampunan (istighfar) baginya.
- Apabila orang tersebut meninggal pada hari atau malam saat ia membacanya, ia dicatat meninggal dalam keadaan syahid.
- Keutamaan Berdasarkan Riwayat Imam Ja’far As-Sadiq AS:
- Barangsiapa membaca Surat Ar-Rahman dan Surat Al-Hasyr pada sore hari, Allah akan menugaskan malaikat di rumahnya dengan pedang terhunus untuk menjaganya hingga pagi hari.
- Catatan Penghayatan:
Keutamaan ini diperoleh bukan sekadar membaca lafaznya, melainkan membaca yang disertai dengan tafakur, tadabur, serta upaya mengamalkan petunjuknya dalam kehidupan sehari-hari.
5. Tafsir Sederhana Ayat 1 (Hakikat Tasbih Makhluk)
- Makna Ayat: Seluruh yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah, dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
- Definisi Tasbih dan Tahmid:
- Tasbih: Menyucikan Allah dari segala bentuk kekurangan, kelemahan, keterbatasan, dan cela (Sifat Salbiyah).
- Tahmid: Mengukuhkan seluruh sifat kesempurnaan, kekuasaan, dan keilmuan pada diri Allah (Sifat Tsubutiyah). Oleh karena itu, dalam ruku dan sujud solat, tasbih selalu digandengkan dengan tahmid.
- Dua Pendapat Mufasir tentang Tasbihnya Makhluk:
-
- Lisanul Hal (Kondisi/Wujud):
Wujud dan keindahan ciptaan (seperti bunga, air, dan alam) secara otomatis mengarahkan akal orang berakal bahwa Penciptanya Mahasempurna. - Lisanul Qal / Lisanul Maqam (Bahasa Langsung):
Makhluk hidup maupun benda mati memang bertasbih secara langsung dengan bahasa mereka sendiri yang tidak dipahami manusia biasa, sebagaimana dikuatkan dalam Surat Al-Isra ayat 44 dan kesaksian para pemilik ketajaman batin (mukasyafah).
- Lisanul Hal (Kondisi/Wujud):
- Penggunaan Kata Kerja Lampau dan Sekarang/Akan Datang:
-
- Bentuk kata kerja lampau (sabbaha) menandakan bahwa sejak awal keberadaannya seluruh alam telah bertasbih.
- Bentuk kata kerja sekarang/mendatang (yusabbihu/tusabbihu) menandakan bahwa tasbih seluruh makhluk berlangsung terus-menerus tanpa pernah berhenti.
6. Tafsir Sederhana Ayat 2 (Kemenangan Tanpa Perang atas Bani Nadhir)
- Makna Ayat:
Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir dari Ahlul Kitab dari kampung halaman mereka pada saat pengusiran pertama.
Umat Islam tidak menyangka mereka akan keluar dan mereka pun yakin benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari Allah.
Namun Allah mendatangkan hukuman dari arah yang tidak mereka sangka dan menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga mereka merusak rumah-rumah mereka sendiri dengan tangan mereka dan tangan orang-orang beriman.
Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan. - Latar Belakang Sejarah Bani Nadhir:
- Kaum Yahudi bermukim di Madinah karena kitab suci mereka memberi petunjuk akan lahirnya Nabi akhir zaman di wilayah tersebut. Namun, ketika Nabi SAW berhijrah, mereka menolak beliau karena dorongan kepentingan.
- Nabi SAW membuat pakta perdamaian agar semua kelompok hidup berdampingan secara damai.
- Pascaperistiwa Perang Uhud (tahun 3 Hijriah), kaum Yahudi menganggap posisi umat Islam sedang lemah. Mereka melanggar janji, berkonspirasi dengan kaum musyrikin Mekkah, serta mencoba meneror dan membunuh Nabi SAW.
- Setelah tokoh pemimpin mereka (Ka’ab bin Al-Asyraf) terbunuh, kaum Yahudi melarikan diri dan berlindung di dalam benteng-benteng mereka yang sangat kuat.
- Kemenangan Melalui Rasa Takut (Ar-Ru’b):
- Umat Islam maupun kaum Yahudi sendiri tidak pernah mengira bahwa kaum Yahudi akan menyerah dan keluar dari Madinah tanpa pertempuran fisik terbuka.
- Allah menanamkan rasa takut dan gentar yang luar biasa (ar-ru’b) ke dalam hati kaum Yahudi.
- Akibat guncangan psikologis tersebut, mereka merusak rumah-rumah mereka sendiri sebelum pergi agar tidak dapat dimanfaatkan oleh kaum muslimin.
- Pelajaran (Ibrah) dari Peristiwa Ini:
- Perintah Faqtabiru ya ulil abshar mengajak manusia menggunakan pengamatan fisik dan akal rasional untuk mengambil pelajaran.
- Definisi Ibrah: Kemampuan mengambil hikmah dari kesalahan atau keputusan buruk orang lain tanpa kita harus merasakan akibat pahitnya terlebih dahulu.
- Abu Dzar Al-Ghifari dikenal memiliki ibadah utama berupa tafakur dan mengambil pelajaran (i’tibar), serta Imam Ali AS menegaskan bahwa orang yang beruntung adalah orang yang dapat belajar dari pengalaman orang lain.
- Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau ditolong oleh Allah dengan rasa takut yang menimpa musuh dari jarak perjalanan satu bulan.
- Kelak, pasukan Imam Mahdi juga didukung oleh malaikat, orang beriman, dan rasa takut (ar-ru’b) sebagai pasukan tak terlihat.
- Perbedaan Ar-Ru’b dan As-Sakinah: Allah menanamkan rasa takut (ar-ru’b) pada hati musuh/orang zalim, sedangkan pada hati orang beriman Allah menurunkan ketenangan (as-sakinah).
7. Tafsir Sederhana Ayat 3–4 (Pengusiran dan Keadilan Hukuman)
- Makna Ayat:
Seandainya Allah tidak menetapkan pengusiran bagi mereka, niscaya Allah mengazab mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab neraka. Hal itu terjadi karena mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. - Pengusiran sebagai Keringanan:
Keputusan pengusiran dari Madinah sebenarnya merupakan bentuk keringanan hukum di dunia bagi Bani Nadhir atas tindakan pengkhianatan berat mereka. - Penyelarasan Arhamar Rahimin (Maha Pengasih) dan Syadidul ‘Iqab (Sangat Keras Hukuman-Nya):
- Sifat Maha Pengasih (Arhamar Rahimin) ditempatkan pada posisi ampunan dan pemaafan bagi pihak yang layak menerima belas kasih.
- Sifat Keras Hukuman (Syadidul ‘Iqab) ditempatkan pada posisi penegakan keadilan terhadap penceroboh dan pelaku kezaliman. Kasih sayang Allah terikat erat pada nilai-nilai keadilan.
8. Tafsir Sederhana Ayat 5 (Etika Perang dan Kebijakan Penebangan Pohon)
- Makna Ayat:
Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma atau yang kamu biarkan berdiri di atas pokoknya, maka itu terjadi dengan izin Allah; dan karena Dia hendak menghinakan orang-orang fasik. - Prinsip Etika Perang dalam Islam:
- Hukum asal dalam pertempuran Islam melarang keras menebang tanaman/pohon berbuah, merusak lumbung makanan, mencemari sumber air, membunuh hewan ternak, serta menyerang warga sipil (wanita, anak-anak, dan lansia).
- Pengecualian Khusus:
Dalam kondisi darurat ketika keberadaan pohon-pohon tersebut menjadi penghalang fisik untuk menembus benteng kejahatan, Allah memberi izin khusus untuk menebang sebagian pohon kurma demi mempermudah jalan masuk pasukan Islam dan menghinakan orang-orang fasik.
9. Penutup Pertemuan Pertama
- Pembahasan mengenai lima ayat pertama Surat Al-Hasyr selesai dipaparkan pada pertemuan ke-1 ini dan akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya.

Bersama Ustadz Abdillah Baabud
—
Video sumber: ALQURBA TV
LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :
https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

