Kajian ini membahas bagian akhir dari tata cara shalat, yaitu tentang adab dan makna di balik ucapan salam.
Materi ini bersumber dari kitab Misbahus Syariah wa Miftahul Haqiqah (Pelita Syariat dan Gerbang Hakikat) yang berisi riwayat dari Imam Ja’far ash-Sadiq.
Salam sebagai Jaminan Keamanan
Imam Ja’far ash-Sadiq menjelaskan bahwa makna “Salam” di setiap akhir shalat adalah keamanan atau terjaga dari segala hal yang tidak diinginkan.
Barangsiapa yang menunaikan perintah Allah dan mengikuti sunnah Nabi SAW dengan hati yang tunduk serta khusyuk, maka ia akan mendapatkan keamanan dari petaka dunia dan terbebas dari azab akhirat.
Jika seseorang memahami hakikat ini, shalatnya akan menjadi benteng yang menyelamatkannya dari berbagai keburukan.
Salam sebagai Nama Allah dan Landasan Sosial
“As-Salam” merupakan salah satu dari nama-nama Allah yang diletakkan pada hamba-Nya.
Tujuannya adalah agar makna keselamatan dan kedamaian ini diimplementasikan dalam interaksi sosial, penjagaan amanat, serta kesadaran terhadap diri sendiri.
Dengan menggunakan nama ini, diharapkan tercipta hubungan yang benar dan harmonis dalam persahabatan maupun interaksi antar sesama hamba Allah.
Syarat Mencapai Hakikat Salam
Untuk bisa menempatkan makna salam yang sesungguhnya dalam diri, seseorang harus memenuhi beberapa syarat:
- Taqwa kepada Allah:
Menjaga diri, agama, hati, dan akal dari kotoran serta kegelapan maksiat. - Menghindari Kezaliman:
Berusaha sekuat tenaga agar tidak menyakiti, membuat menderita, atau menakut-nakuti orang lain, baik itu kawan maupun lawan.
Tanda seorang kekasih Allah adalah ketika jiwanya merasa lelah karena ibadah dan perjuangan batinnya, namun manusia di sekitarnya merasa tentram dan tenang atas kehadirannya.
Kita diperintahkan untuk menebarkan kasih sayang kepada penduduk bumi agar penduduk langit (para malaikat dan Allah) menebarkan kasih sayang-Nya kepada kita.
Salam Lisani vs Salam Hakiki
Jika orang-orang terdekat saja tidak bisa merasakan kedamaian dari kehadiran kita, maka ucapan salam yang kita sampaikan hanyalah Salam Lisani (ucapan lidah semata).
Tanpa keterlibatan hakikat batin, ucapan salam dalam shalat bisa menjadi sebuah kedustaan.
Salam yang benar adalah sebuah janji batin untuk menebarkan kebaikan, kemuliaan, dan kedamaian kepada seluruh makhluk, baik yang dekat maupun jauh.
Ujian Dunia dan Kemuliaan Taqwa
Manusia selalu berada di antara dua kondisi: kenikmatan yang menuntut rasa syukur, atau kesulitan yang menuntut kesabaran.
Kemuliaan sejati hanya bisa diraih melalui ketaatan kepada Allah, sementara maksiat hanya akan mendatangkan kehinaan.
Sebagaimana firman Allah, yang paling mulia di antara manusia adalah yang paling bertaqwa.
Penutup
Segala jalan menuju keridaan dan ketaatan kepada Allah hanya bisa dicapai melalui anugerah, taufik, dan kasih sayang-Nya.
Dengan memahami hakikat salam, kita diharapkan keluar dari shalat dengan membawa semangat keselamatan bagi lingkungan sekitar kita.

bersama Dr. Kholid Al Walid
Kajian Hadis (Eps 14) Imam Ja’far Ash Shadiq cicit Rasulullah Saw guru dari semua Imam Mazhab dalam Islam Pelita Syariat Gerbang Hakikat bab Hakikat Salam Mengakhiri Shalat (Kajian Misbah Syariah)
YouTube : Misykat TV
SoundCloud : SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify : Misykat Bandung
Web : Misykat.net
#MisykatTV #DiskusiDigital

