22 October 2026

Pertemuan ini merupakan sesi keenam yang berfokus membahas petikan ayat mulai dari ayat ke-74.

Tafsir Ayat 74: Pengingkaran terhadap Jalan yang Lurus

Ayat ke-74 berbunyi: Wa innalladzina la yu’minuna bil-akhirati ‘anis-sirati lanakibun.

  • Kaitan dengan Ayat Sebelumnya:
    Pada ayat 73 telah ditegaskan bahwa Rasulullah SAW mengajak manusia menuju jalan yang lurus (siratam mustaqim).
    Namun pada ayat 74 dijelaskan bahwa orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat justru berpaling dan menyimpang (lanakibun) dari jalan tersebut.
  • Pelajaran Dakwah:
    Meskipun seorang pendakwah adalah sosok manusia sempurna, paling fasih, paling lembut, paling berakhlak, dan paling alim seperti Rasulullah SAW, beliau tetap berpeluang ditolak.
    Penolakan atau pengingkaran sering kali bukan karena kekurangan pada pendakwahnya, melainkan karena keburukan, kepentingan, atau ketidaksiapan orang yang didakwahi dalam menerima kebenaran.

Tafsir Ayat 75: Sifat Pengingkar dan Konsep Tughyan (Melampaui Batas)

  • Karakter Pengingkar:
    Jika Allah memberikan rahmat dan mengangkat musibah atau penderitaan dari orang-orang ingkar (seperti menyembuhkan penyakit atau menghentikan masa paceklik), mereka bukannya sadar.
    Sebaliknya, mereka justru semakin membabi buta tenggelam dalam perbuatan melampaui batas (lalajju fi tughyanihim) dan makin terjerembab dalam kebutaan hati (ya’mahun).
  • Sifat Kebusukan Jiwa:
    Semakin lama seseorang berada dalam kejahatan dan kesesatan, hatinya menjadi buta sehingga makin sulit baginya untuk keluar dari lubang kesesatan tersebut.
  • Riwayat Abu Sufyan:
    Diceritakan bahwa saat kota Makkah dilanda masa paceklik, Abu Sufyan mendatangi Rasulullah SAW meminta agar beliau berdoa memohon hujan.
    Rasulullah SAW berdoa dan hujan pun turun mengakhiri paceklik.
    Namun setelah terbebas dari penderitaan, Abu Sufyan dan kaum pengingkar tidak menjadi baik, melainkan kembali tenggelam dalam perbuatan melampaui batas.
  • Bentuk-Bentuk Tughyan pada Berbagai Golongan:
    • Para Alim/Ulama:
      Tughyan-nya adalah ketika menggunakan ilmu untuk membanggakan diri, menyombongkan keangkuhan, dan menjatuhkan pendapat orang lain.
    • Orang Kaya:
      Tughyan-nya adalah ketika dihinggapi sifat kikir/pelit, memamerkan harta, atau berfoya-foya secara berlebihan (israf).
    • Orang Shaleh:
      Tughyan-nya terjadi ketika memamerkan kesalehan demi mendapatkan pujian, sanjungan, dan popularitas.
    • Pengikut Hawa Nafsu:
      Tughyan-nya adalah ketika bersedia menjadi budak dari hawa nafsunya.
  • Prinsip Kebaikan dan Nurani:
    Kebaikan tidak berguna bagi orang-orang yang jiwanya busuk dan tidak tahu berterima kasih.
    Orang yang fitrahnya masih hidup akan tersentuh oleh kebaikan, sedangkan orang yang nuraninya telah mati akan tetap membenci meskipun dibaiki.
  • Perkataan Imam Ali bin Abi Thalib AS:
    “Seandainya aku potong hidung orang mukmin agar ia membenciku, ia tidak akan pernah membenciku. Namun seandainya aku berikan seluruh dunia beserta isinya kepada orang munafik agar ia mencintaiku, ia tidak akan pernah mencintaiku”.

4. Tafsir Ayat 76–77: Azab Peringatan dan Azab Keras (Dzazabun Syadid)

  • Ayat 76:
    Allah kadang menurunkan azab/siksa peringatan di dunia agar manusia sadar. Namun orang-orang yang berhati keras tetap tidak mau tunduk (famastakano) dan tidak mau merendahkan diri (yatanarra’un) kepada Allah.
    Seburuk-buruknya keangkuhan adalah keangkuhan seorang hamba kepada Sang Pencipta.
  • Ayat 77:
    Ketika kejahatan manusia sudah melampaui batas, Allah membuka pintu azab yang keras (dzazabun syadid).
    Pada titik ini, manusia tidak lagi berdaya, tidak dapat lagi bertobat, dan jatuh dalam keputusasaan (mublisun) karena pintu tobat telah tertutup.
  • Tiga Tahapan Langkah Allah Membimbing Manusia:
    1. Memberikan rahmat dan kasih sayang.
    2. Memberikan azab peringatan/hukuman kecil sebagai shock therapy.
    3. Membuka azab yang keras/pamungkas ketika manusia terus-menerus ingkar. Pintu azab pada dasarnya tertutup, namun kejahatan manusialah yang memaksa pintu itu terbuka.

5. Tafsir Ayat 78–79: Nikmat Pendengaran, Penglihatan, Akal, dan Keberadaan di Bumi

  • Ayat 78 (Nikmat Utama):
    Allah menganugerahkan pendengaran (as-sam’a), penglihatan (al-absar), serta akal pikiran dan hati nurani (al-af’idah), namun sedikit sekali manusia yang bersyukur.

    • Indikator nikmat terbesar ini adalah karena indra dan akal mengantarkan manusia pada ilmu pengetahuan (al-ma’arif).
    • Perbedaan manusia dan hewan: Hewan mungkin memiliki indra yang tajam tetapi tidak diberi akal sehingga tidak berkembang. Manusia diberi akal untuk memaksimalkan pendengaran dan penglihatannya hingga mampu memahami hal-hal yang terindra (mahsusat) maupun hal-hal rasional/gaib (ma’qulat).
  • Penyebab Utama Masuk Neraka Jahannam (QS. Al-A’raf: 179):
    Kebanyakan jin dan manusia masuk neraka Jahannam karena tidak menggunakan akal, hati, mata, dan telinganya untuk mengambil pelajaran (ibrah).
    Orang yang melalaikan nikmat perangkat ini dinilai seperti binatang, bahkan lebih rendah.
  • Ayat 79 (Ditempatkan di Bumi):
    Dialah yang menempatkan manusia di bumi dan kepada-Nya manusia akan dikembalikan.
    Keberadaan manusia di bumi bukan tanpa rencana; seluruh penggunaan pendengaran, penglihatan, dan perbuatan kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

6. Tafsir Ayat 80–83: Keraguan Pengingkar akan Hari Kebangkitan

  • Ayat 80:
    Allah yang menghidupkan, mematikan, dan mengatur pergantian siang dan malam. Manusia menikmati kehidupan dan menyaksikan pergantian siang-malam tanpa ikut mengaturnya, namun sering kali lalai merenungkan Sang Pengatur.
  • Ayat 81–83:
    Para pengingkar tidak memiliki argumen baru; mereka hanya mengulang ucapan kuno generasi terdahulu.

    • Mereka berkata: “Apakah jika kami telah mati dan menjadi tanah serta tulang belulang, kami benar-benar akan dibangkitkan kembali? Ini hanyalah dongeng-dongeng orang terdahulu (asathirul-awwalin)”.
  • Bantahan Logis:
    Manusia yang berakal sehat seharusnya tidak meragukan kehidupan pascakematian. Jika mereka mengakui dan merasakan kehidupan yang sekarang, bagaimana mungkin mereka memungkiri adanya kehidupan kembali?
    Pengingkaran tersebut murni timbul karena keheranan tanpa dalil logis akibat mematikan akal pikiran.

7. Tafsir Ayat 84–90: Dialog Pertanyaan Fitrah tentang Pemilik Semesta

  • Ayat 84–85:
    Rasulullah SAW diperintahkan bertanya: “Milik siapakah bumi dan semua yang ada di dalamnya?”.
    Fitrah mereka menjawab: “Milik Allah” (sayaquluna lillah). Namun mereka tidak juga mau ingat/sadar.
  • Ayat 86–87:
    Ditanyakan: “Siapakah Tuhan langit yang tujuh dan Tuhan ‘Arsy yang agung?”. Mereka menjawab: “Milik Allah”. Namun mereka tidak juga bertakwa.
  • Ayat 88–89:
    Ditanyakan: “Di tangan siapakah kekuasaan atas segala sesuatu, yang melindungi dan tidak ada yang dapat terlindungi dari-Nya?”.
    Mereka menjawab: “Milik Allah”. Namun kenapa mereka bisa tersihir/berpaling (fa anna tus-harun)?
  • Ayat 90:
    Allah mendatangkan kebenaran melalui para nabi dan kitab-kitab suci, namun para pengingkar adalah pendusta.
    Kebenaran yang begitu jelas dan kuat pada akhirnya hanya bisa ditolak dengan cara dipaksakan untuk didustakan.

Penutup Kajian:

Semoga kajian ayat-ayat Allah ini dapat menghidupkan hati nurani serta menjadikan kita hamba yang pandai mensyukuri nikmat penglihatan, pendengaran, akal, dan fitrah.

AB Hakikat Pengingkaran dan Fitrah Manusia 74

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

—

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINIYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us