Definisi Al-Ghurur
Kajian ini membahas kitab Miftahul Haqiqah yang berisi riwayat dari Imam Ja’far Shadiq mengenai penyakit hati bernama Al-Ghurur.
Dalam ilmu tasawuf dan akhlak, terdapat tiga sifat buruk yang serupa namun berbeda tingkatan:
- Al-Ujub:
Berbangga diri atas kehebatan atau pencapaian yang diraih. - Al-Ghurur:
Keangkuhan atau tinggi hati yang membuat seseorang merasa memiliki kedudukan tinggi. - At-Takabur:
Kesombongan di mana seseorang merasa lebih tinggi dan merendahkan orang lain.
Imam Ja’far Shadiq menyatakan bahwa orang yang terjangkit ghurur adalah orang yang miskin di dunia dan merugi di akhirat.
Mereka miskin di dunia karena sifat angkuh membuat orang lain menjauh, dan merugi di akhirat karena amal ibadah mereka menjadi sia-sia.
Bentuk-Bentuk Kenangkuhan (Ghurur)
Keangkuhan seringkali muncul dari hal-hal yang dianggap sebagai kelebihan, namun disikapi dengan salah:
- Harta dan Kesehatan:
Seseorang merasa hartanya akan kekal atau tubuhnya akan selalu sehat, padahal roda kehidupan terus berputar. - Usia dan Pengalaman:
Merasa paling benar karena lebih tua, sehingga tidak mau lagi menerima nasihat atau pendapat orang lain. - Keturunan dan Sahabat:
Berbangga dengan banyaknya anak yang sukses atau sahabat yang memiliki jabatan tinggi, seolah-olah hubungan itu bisa menyelamatkan mereka di akhirat.
Padahal, di hari kiamat, harta dan anak tidak lagi memberi manfaat kecuali mereka yang datang dengan hati yang tunduk (qolbun salim). - Ilmu Pengetahuan:
Ilmu bisa menjadi “hijab” (penghalang) jika seorang alim merasa paling hebat, meremehkan orang lain, dan menutup diri dari kritik. - Nasab (Garis Keturunan):
Berbangga dengan silsilah keluarga mulia namun menjadikannya alat untuk angkuh, padahal hal ini justru membuat sedih para leluhur yang mulia.
Ghurur dalam Ibadah dan Spiritualitas
Salah satu bentuk ghurur yang paling berbahaya adalah yang menyamar dalam kesalehan:
- Ibadah yang Dipamerkan:
Melakukan ibadah namun tujuannya untuk mendapatkan pujian, seperti mengunggah foto ibadah atau pakaian Islami di media sosial demi perhatian. - Hijrah yang Angkuh:
Orang yang baru bertobat merasa dirinya paling suci dan lebih baik dari orang lain yang masih berlumur dosa. - Doa yang Kosong:
Memohon kepada Allah, namun hatinya masih bergantung pada kekuatan lain atau sosok lain di luar Allah. - Popularitas Dakwah:
Seseorang memberikan nasihat atau ceramah namun tujuannya adalah mencari pengikut (followers) dan popularitas, bukan murni karena Allah.
Kisah Ulama dan Jebakan Tawadhu Palsu
Dr. Kholid menceritakan kisah seorang ulama yang berhenti menjadi imam shalat karena merasa hatinya terganggu oleh rasa bangga saat mendengar suara jamaah yang sangat banyak di belakangnya.
Para kekasih Allah sangat menghindari popularitas demi menjaga kemurnian hati.
Beliau juga mengingatkan tentang Tawadhu Palsu.
Terkadang seseorang merendahkan diri (misalnya menulis nama “Hamba Allah” saat menyumbang) namun di dalam hatinya ia sebenarnya sedang memuji diri sendiri agar dianggap sebagai orang yang rendah hati.
Penutup: Keluar dari Kegelapan Ghurur
Seseorang tidak akan bisa keluar dari sifat ghurur kecuali dengan pertolongan Allah dan keberanian untuk menyadari kejelekan diri sendiri.
Kita harus melihat kekurangan diri kita dan menyesuaikan tindakan dengan akal serta syariat, bukan mengikuti hawa nafsu.
Rasulullah SAW pernah mengibaratkan orang yang tidak sadar akan hakikat dirinya (orang yang ghurur) sebagai orang yang “sakit” atau bahkan “gila” (majnun) karena kehilangan kesadaran akan jati dirinya di hadapan Allah.

Bersama KH Dr. Kholid Al Walid M.Ag
Kajian Hadis (Eps 25) AL-GHURUR Keangkuhan dari Imam J’afar Ash Shadiq.
YouTube : Misykat TV
SoundCloud : SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify : Misykat Bandung
Web : Misykat.net

