Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Setiap makhluk mempunyai tujuan penciptaan, dan manusia diberikan Allah tugas untuk menghantarkan makhluk-Nya sesuai tujuan penciptaan mereka.
Bagaimana cara menghantarkannya? apakah ada hikmah dialam penciptaan seluruh makhluk?
Simak Penjelasan lengkap Tafsir Al-Quran bersama M. Quraish Shihab dan Najelaa Shihab, di Hidup Bersama Al-Quran edisi spesial Tafsir Al-Mishbah.
Program “Hidup Bersama Al-Quran” edisi khusus Tafsir Al-Mishbah kali ini kembali melanjutkan uraian Surah Al-Waqiah.
Melalui ayat-ayat ini, Allah SWT mengajak manusia untuk memperhatikan ilustrasi sederhana yang dialami dalam kehidupan sehari-hari sebagai bukti kekuasaan-Nya.
Salah satu keistimewaan Al-Quran terletak pada keserasian urutan ayat-ayatnya; jika sebelumnya dibahas tentang asal-usul penciptaan manusia, kini pembahasan beralih pada pertumbuhan tanaman.
Analogi Penciptaan Manusia dan Tumbuh-tumbuhan
Terdapat persamaan antara kelahiran manusia dan tumbuhnya tanaman. Jika pada manusia disebutkan bahwa mereka hanya menumpahkan benih, begitu pula pada tumbuhan.
Allah bertanya, apakah manusia yang menumbuhkan benih tersebut ataukah Allah?.
Meskipun disiram dengan air yang sama di tanah yang sama, hasilnya bisa berbedaโada yang manis, ada yang pahit, dengan aroma yang beragam.
Manusia tidak memiliki kendali penuh atas hasil akhirnya, sebagaimana orang tua tidak bisa menentukan jenis kelamin atau karakter anak mereka secara mutlak.
Dalam hal ini, mendidik anak diibaratkan seperti tukang kebun, bukan pemahat.
Tugas pendidik adalah memperhatikan bakat alami (fitrah) anak dan menyalurkannya, bukan memaksa mereka menjadi bentuk tertentu sesuai keinginan pribadi.
Allah juga mengingatkan bahwa Dia berkuasa menjadikan tanaman itu binasa melalui hama, api, atau cuaca ekstrem.
Saat hal itu terjadi, manusia hanya bisa terheran-heran dan mengakui adanya kekuatan besar di luar kendali mereka yang menghalangi harapan mereka.
Siklus Air dan Pentingnya Rasa Syukur
Pembahasan berlanjut pada nikmat air (ayat 68-70). Allah mempertanyakan siapakah yang menurunkan air dari awan yang mengandung butir-butir hujan.
Secara ilmiah, ini berkaitan dengan siklus penguapan air laut oleh matahari yang kemudian digiring oleh angin.
Meskipun manusia mengenal teknologi “hujan buatan,” hal itu sebenarnya hanyalah mekanisme mengarahkan bahan yang sudah disediakan Allah, bukan menciptakan air dari ketiadaan.
Satu hal menarik dalam redaksi ayatnya adalah Allah secara spesifik menyebut air “yang kamu minum”.
Kebutuhan manusia akan air minum jauh lebih besar daripada makanan. Allah mengingatkan bahwa jika Dia menghendaki, Dia bisa menjadikan air hujan itu asin atau pahit.
Oleh karena itu, manusia dituntut untuk bersyukur.
Keajaiban Api dan “Jangkar Emosi”
Setelah makanan dan air, kebutuhan pokok selanjutnya adalah api (ayat 71-73). Allah bertanya tentang api yang dinyalakan manusia dan pohon yang menjadi sumbernya.
Secara ilmiah, pohon hijau mengandung energi matahari (melalui fotosintesis) yang bisa berubah menjadi api.
Ini adalah bukti kekuasaan Allah yang mampu menggabungkan dua hal bertentangan: pohon yang hijau dan basah dengan api yang panas dan kering.
Fenomena alam ini harus menjadi “jangkar emosi” bagi manusia. Setiap kali melihat guntur, tumbuhan yang indah, atau bahkan saat merasakan sakit, hal tersebut seharusnya menjadi pengingat untuk selalu terhubung dengan Allah.
Al-Quran berbicara kepada semua tingkat pengetahuan; seorang ilmuwan mungkin melihat hujan secara saintifik, sementara anak kecil melihatnya sebagai keajaiban sederhana, namun keduanya bisa menjadi jalan untuk mengenal Tuhan.
Hakikat Syukur dan Tasbih
Syukur bukan sekadar ucapan, melainkan upaya mengantar setiap makhluk menuju tujuan penciptaannya. Contohnya:
- Mensyukuri hutan berarti tidak menebangnya sembarangan agar fungsinya terjaga.
- Mensyukuri bunga berarti tidak memetiknya sebelum mekar.
- Mensyukuri pakaian atau barang berarti menggunakannya sesuai manfaatnya atau memberikannya kepada orang lain agar tidak sia-sia di lemari.
Setelah menunjukkan bukti-bukti tersebut, manusia diminta untuk Bertasbih (menyucikan nama Tuhan).
Tasbih adalah bentuk pengakuan bahwa segala pujian manusia tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan keagungan anugerah-Nya.
Sumpah Allah yang Agung Mengenai Bintang
Sebagai penutup (ayat 75-76), Allah bersumpah demi tempat terbenamnya bintang-bintang. Penggunaan kata “La uqsimu” bisa diartikan bahwa Allah tidak perlu lagi bersumpah karena bukti-bukti yang ada sudah sangat jelas bagi mereka yang mau berpikir.
Allah menegaskan bahwa ini adalah sumpah yang sangat agung. Secara ilmiah, manusia tidak akan mungkin mengetahui hakikat bintang secara utuh karena jarak dan kompleksitasnya.
Jika terhadap ciptaan-Nya seperti bintang saja pengetahuan manusia sangat terbatas, maka terlebih lagi terhadap sang Pencipta, Allah Yang Mahakuasa.

Akan tayang setiap hari selama bulan Ramadan hanya di YouTube channel Quraish Shihab
#hidupbersamaalquran #tafsiralmishbah #quraishshihab #ramadan1441
Follow:
Dapatkan buku karya M. Quraish Shihab:

