Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Perbedaan itu pasti ada. Tapi berdialog tentang perbedaan tersebut harus dengan cara yang bijak. Janganlah berdialog dengan orang yang tidak bisa kita lemahkan sikap keras kepalanya. Karena sebuah kebenaran pun harus disampaikan dengan cara terbaik.
Pentingnya Mengelola Perbedaan Melalui Dialog
Saudara, perbedaan dalam hidup ini adalah sebuah keniscayaan yang menyentuh semua makhluk tanpa kecuali; bahkan dua orang yang lahir kembar pun pasti memiliki perbedaan.
Perbedaan pemikiran manusia adalah sesuatu yang tidak dapat dimungkiri, dan jika tidak dikelola dengan baik, hal ini bukan saja melahirkan kesenjangan, tetapi juga konflik berkepanjangan yang memicu intoleransi serta mengganggu ketenangan hidup.
Cara terampuh untuk menghindari konflik tersebut adalah dengan dialog. Namun, dialog harus didahului oleh kesadaran akan adanya perbedaan serta pemahaman tentang bahaya ketidaksepahaman jika tidak dikelola dengan bijak.
Keberhasilan sebuah dialog sangat ditentukan oleh motivasi dan etika pelakunya. Puncak dari etika berdialog adalah objektivitas dan penghormatan terhadap mitra bicara, di mana masing-masing pihak bersedia mendengarkan dengan tekun tanpa memotong pembicaraan sebelum waktu yang disepakati.
Dialog sebagai Pencarian Kebenaran, Bukan Ajang Kemenangan
Tujuan utama dialog adalah untuk mencapai kebenaran. Dialog yang tulus diibaratkan seperti dua orang yang sedang mencari tunggangan mereka yang hilang; siapa pun yang menemukannya, akan disambut dengan gembira oleh mitranya.
Oleh karena itu, dialog sama sekali tidak bertujuan untuk memojokkan mitra bicara, apalagi dilakukan dengan teriakan atau gerakan yang memicu antipati.
Berdialog dengan cara kasar tak ubahnya seperti kucing yang siap bertarung—bersuara keras, bulu berdiri, dan pandangan mata yang tajam.
Salah satu pesan orang bijak adalah: jangan berdialog dengan seseorang yang meski Anda bisa buktikan kesalahannya, namun Anda tidak mampu melunakkan sikap kepala batunya,.
Kita tidak harus meraih kemenangan dalam setiap perdebatan, karena sering kali meraih simpati jauh lebih berharga daripada memenangkan argumen.
Prinsip Etika: Kritik Pendapat, Hormati Pribadinya
Hendaklah orang yang berdialog selalu membenci kesalahan, tetapi tidak membenci orang yang bersalah; membenci kedurhakaan, tetapi tetap mengasihi dan memaafkan pelakunya.
Prinsipnya adalah: kritiklah pendapatnya, tetapi hormati pengucapnya.
Tugas kita adalah menyembuhkan “penyakit” dan mengusir penderitaan, bukan melenyapkan orang yang sedang sakit tersebut.
Tanpa memperhatikan hal-hal di atas, dialog tidak akan bermanfaat. Bahkan, tidak berdialog justru lebih baik daripada berdialog tanpa memenuhi syarat-syarat etika tersebut, karena hanya akan menjauhkan titik temu dan memunculkan benih permusuhan.
Tuntunan Al-Qur’an dalam Berdiskusi
Al-Qur’an menggarisbawahi bahwa dialog hendaknya dilaksanakan dengan cara yang terbaik (wajadilhum billati hiya ahsan).
Dalam berinteraksi dengan penganut agama lain, kita harus menghindari kalimat yang menyinggung perasaan.
Al-Qur’an mengajarkan kerendahan hati dengan menyatakan kemungkinan bahwa kebenaran bisa ada di pihak mitra bicara, dan kesalahan bisa ada di pihak kita,.
Dalam Surat Saba’ ayat 24-25, Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan: “Sesungguhnya kami atau kamu pasti berada di atas kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.”.
Ini menunjukkan sikap keterbukaan untuk menerima kebenaran dari siapa pun yang menyampaikannya.
Menariknya, saat membicarakan diri sendiri, Al-Qur’an menggunakan kata “ajramna” (dosa-dosa yang kami perbuat), namun saat merujuk pada mitra bicara yang berbeda keyakinan,
Al-Qur’an menggunakan kalimat yang lebih halus yaitu “amma ta’malun” (tentang apa yang kamu lakukan), tanpa langsung melabelinya sebagai dosa.
Penutup: Menghindari Pertikaian
Sebagai penutup, berdebat tanpa henti yang menjurus pada pertikaian tidaklah berguna.
Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa siapa pun yang meninggalkan pertengkaran padahal ia berada di pihak yang benar, maka Allah akan membangunkan baginya istana di tengah surga.
Dan jika ia meninggalkannya dalam keadaan keliru, maka akan dibangunkan baginya istana di pinggiran surga.
Demikian, Wallahu a’lam.

Bersama KH M. Quraish Shihab
Sambil diresapi resapi ilmunya, boleh dong di-subscribe, like, dan share ke orang-orang terdekat kamu. Insya Allah video ini akan memberikan manfaat bagi yang menontonnya.
#CahayauntukIndonesia
————————————————————————————————————————————————————————
Follow media sosial Cahaya untuk Indonesia di:
Twitter: https://twitter.com/cahayauntukindo
Instagram: https://www.instagram.com/cahayauntukindonesia
Facebook: https://www.facebook.com/cahayauntukindo

