Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Sebelum berbicara tentang toleransi, ada baiknya kita memahami betul makna dari toleransi ini. Jangan sampai kita malah mengorbankan keyakinan atas nama toleransi. Karena toleransi tidak berarti mengakui kebenaran pihak lain.
Makna Dasar dan Etimologi Toleransi
Kata toleransi berasal dari bahasa Latin tolerare yang memiliki makna sabar dan menahan diri.
Istilah ini sering kali dipertentangkan dengan fanatisme, yaitu suatu faham atau keyakinan yang menunjukkan keberpihakan berlebihan sehingga memicu ketidakadilan terhadap pihak lain.
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), toleransi dimaknai sebagai batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan, atau penyimpangan yang masih dapat diterima dalam suatu pengukuran kerja.
Dalam konteks sosial, toleransi diartikan sebagai pengakuan atas eksistensi pihak lain, termasuk keyakinan dan pandangannya, meskipun kita tidak sependapat dengan mereka.
Syarat utamanya adalah pandangan tersebut disampaikan secara damai serta tidak melanggar peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Toleransi dalam Perspektif Agama (Tasamuh)
Setiap orang berhak meyakini bahwa agama, budaya, atau suku bangsanya adalah yang terbaik, namun keyakinan tersebut tidak boleh melahirkan sikap tidak adil yang menghalangi orang lain memiliki hak yang sama,.
Toleransi merupakan sikap yang mengandung beban mental dan kesulitan, sehingga hanya mereka yang memiliki kekuatan serta kesabaran yang mampu menerapkannya.
Sabar sendiri diartikan sebagai kemampuan menahan gejolak nafsu demi mencapai hasil yang terbaik.
Dalam bahasa agama, toleransi disebut sebagai tasamuh, yang berasal dari kata samaha, bermakna menerima dengan mudah, memberi dengan sukacita, dan berlapang dada.
Buah dari tasamuh adalah pemahaman terhadap kesalahan orang lain dan penerimaan terhadap perbedaan yang ada.
Interaksi dan Peradaban Islam
Tasamuh menggambarkan interaksi yang baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, yang jika dilaksanakan dengan benar, akan melahirkan kehidupan berdampingan yang damai serta kerja sama.
Dalam peradaban Islam, toleransi dipandang sebagai bentuk kedermawanan, yakni pemberian tanpa batas, kemudahan, dan kelemahlembutan dalam berpikir maupun bertindak tanpa mengharapkan imbalan.
Toleransi juga dapat berupa sikap lemah lembut untuk menghindari kekerasan terhadap pihak yang berbeda meskipun mereka dianggap setara.
Selain itu, toleransi adalah reaksi lapang dada terhadap sesuatu yang mungkin dinilai tidak wajar menurut keyakinan atau budaya kita sendiri.
Hak Berpendapat dan Batasan Toleransi
Toleransi berarti berdamai dengan pihak lain dengan menerima hak mereka untuk memiliki sikap dan pandangan tertentu, selama tidak menyimpang dari norma yang berlaku.
Penting untuk dipahami bahwa menerima hak orang lain bukan berarti mengakui kebenaran pandangan mereka, melainkan sekadar mengakui hak mereka untuk berpendapat dan mengamalkan keyakinannya,.
Hal ini sejalan dengan prinsip Al-Qur’an, “Lakum dinukum waliyadin” (untukmu agamamu, dan untukku agamaku), yang mengajak kita untuk saling menghormati perbedaan dan berlomba-lomba dalam kebaikan.
UNESCO juga menekankan bahwa toleransi adalah rasa hormat dan apresiasi terhadap keragaman budaya dunia serta berbagai cara manusia mengekspresikan diri.
Hakekat Toleransi dan Keteguhan Keyakinan
Tujuan akhir dari toleransi adalah adanya keinginan kuat dari berbagai pihak untuk hidup bersama secara damai tanpa pertikaian yang mencederai kehidupan bersama.
Namun, toleransi tidak menuntut seseorang untuk mengorbankan keyakinan pribadinya. Jika seseorang meyakini bahwa sesuatu itu haram atau dilarang menurut agamanya, maka ia tidak perlu membenarkannya atas nama toleransi.
Justru, orang yang bijak akan lebih menghormati mereka yang teguh melaksanakan tuntunan agamanya daripada mereka yang mengorbankan keyakinan demi toleransi.
Sangat keliru jika seseorang mengorbankan keyakinannya demi toleransi, atau sebaliknya, mengorbankan toleransi demi agama.
Pada hakekatnya, penerapan ajaran agama dan sikap toleransi dapat berjalan seiring dan saling melengkapi meskipun keduanya berbeda.

Sambil diresapi resapi ilmunya, boleh dong di-subscribe, like, dan share ke orang-orang terdekat kamu. Insya Allah video ini akan memberikan manfaat bagi yang menontonnya.
#CahayauntukIndonesia
————————————————————————————————————————————————————————
Follow media sosial Cahaya untuk Indonesia di:
Twitter: https://twitter.com/cahayauntukindo
Instagram: https://www.instagram.com/cahayauntukindonesia
Facebook: https://www.facebook.com/cahayauntukindo

