20 October 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Manusia diberikan kebebasan Allah untuk memilih takdirnya, untuk berpindah dari takdir satu ke takdir lainnya, berbeda dengan alam raya yang harus patuh terhadap ketentuan Allah padanya.

Seberapa jauh kebebasan manusia itu? Apakah kebebasan itu memiliki konsekuensi yang sepadan?

Simak Penjelasan lengkap Tafsir Al-Quran bersama M. Quraish Shihab dan Najelaa Shihab, di Hidup Bersama Al-Quran edisi spesial Tafsir Al-Mishbah.

Pembahasan kali ini melanjutkan ulasan Surah Al-Qamar menggunakan kitab Tafsir Al-Mishbah.
Fokus utama adalah ayat 43 hingga akhir surah, yang diawali dengan pertanyaan retoris mengenai posisi kaum kafir Mekkah dibandingkan dengan kaum-kaum terdahulu yang telah dijatuhi sanksi oleh Allah SWT.

Perbandingan Kaum Kafir dan Jaminan Keselamatan

Ayat 43 mempertanyakan apakah orang kafir di Mekkah lebih baik atau lebih kuat daripada kaum-kaum sebelumnya yang telah dihancurkan.
Secara fisik dan kekuatan, kaum terdahulu jauh lebih kuat; sementara manusia modern cenderung lebih lemah karena dimanjakan oleh teknologi.
Selain itu, tidak ada jaminan keselamatan (bara’ah) bagi mereka dalam kitab-kitab suci terdahulu.

Penting untuk dipahami bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki jaminan mutlak masuk surga hanya karena amalnya.
Bahkan Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa beliau pun masuk surga karena rahmat dan rida Allah, bukan semata-mata karena amal.
Namun, ini bukan berarti Nabi tidak masuk surga, karena Allah telah menjanjikan pemberian-Nya yang memuaskan bagi beliau.

Kekalahan di Dunia dan Dahsyatnya Hari Kiamat

Ayat 44-46 berbicara tentang kesombongan kaum musyrikin yang merasa sebagai kelompok kuat yang pasti menang.
Meskipun saat ayat ini turun umat Islam masih berjumlah sedikit, nubuat ini terbukti pada Perang Badar, di mana 300 orang Muslim mengalahkan 1.000 orang musyrik.
Namun, kekalahan di dunia belum seberapa dibandingkan dengan hari kiamat (As-Sa’ah) yang jauh lebih dahsyat, lebih pahit, dan lebih sulit.

Karakter Pendurhaka (Mujrimun)

Para pendurhaka (al-mujrimin) digambarkan berada dalam kesesatan (dalal) dan api neraka (su’ur).
Istilah “Mujrim” merujuk pada mereka yang kedurhakaannya telah mendarah daging dan menjadi identitas.
Mereka digambarkan berada “di dalam” wadah kesesatan. Pada hari kiamat, mereka ditarik ke dalam neraka pada wajah mereka, bukan punggung mereka.
Hal ini sering kali disebabkan oleh ucapan-ucapan yang tidak benar selama di dunia, karena setiap kata yang diucapkan manusia akan dimintai pertanggungjawaban.

Konsep Takdir dan Kebebasan Manusia

Ayat 49 menyatakan, “Inna kulla syai’in khalaqnahu bi qadar” (Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan kadar/takdir).
Segala sesuatu di alam raya—matahari, bulan, hingga rumput—memiliki takdir atau ketetapan yang harus dipatuhi (sunnatullah).

Namun, takdir manusia berbeda dengan takdir alam. Manusia diberikan kebebasan memilih (ikhtiyar) di dalam ruang lingkup yang telah ditentukan oleh Allah.
Sebagai contoh, manusia tidak bisa terbang secara alami, tetapi dia bisa memilih untuk menciptakan teknologi untuk terbang.
Contoh lainnya adalah ketika Umar bin Khattab menghindari wilayah yang terkena wabah; beliau menyatakan bahwa tindakan tersebut adalah “lari dari satu takdir menuju takdir Allah yang lain”.
Oleh karena itu, manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya.

Kemudahan Urusan Allah dan Catatan Amal

Segala urusan bagi Allah sangatlah mudah, seperti kerjapan mata.
Meskipun Allah berfirman “Kun Fayakun” (Jadilah, maka jadilah), hal tersebut tidak selalu terjadi seketika, melainkan bisa melalui sebuah proses, seperti kelahiran Nabi Isa atau penciptaan alam raya.

Segala perbuatan manusia, baik kecil maupun besar, tercatat dengan rapi dalam buku amal (zubur) oleh para malaikat.
Bahkan keluhan saat sakit pun tetap tercatat, meskipun yang akan dipertanggungjawabkan adalah hal-hal yang menjadi pilihan sadar manusia.

Gambaran Surga sebagai Perumpamaan

Bagi orang yang bertakwa, Allah menjanjikan surga dan sungai-sungai. Berdasarkan Q.S. Muhammad ayat 15, terdapat empat jenis sungai di surga: air jernih, susu, khamar (yang tidak memabukkan), dan madu.
Namun, gambaran ini hanyalah perumpamaan (matsal) agar manusia dapat membayangkan kenikmatannya.

Secara etimologi, kata “Jannah” (surga) berasal dari akar kata janana yang berarti “tertutup”. Ini bermakna bahwa hakikat kenikmatan surga masih tertutup dari jangkauan logika, khayalan, dan indra manusia.
Gambaran tentang sungai dan buah-buahan diberikan karena itulah hal yang dianggap nikmat oleh manusia.
Jika seorang anak kecil bertanya tentang surga, kita bisa mengumpamakannya dengan sesuatu yang sangat dia sukai, misalnya es krim, namun surga tentu jauh lebih nikmat dari itu.

Penutup

Surah Al-Qamar diakhiri dengan penegasan tentang kepastian hari kiamat, sejarah pembangkangan kaum terdahulu, dan janji balasan bagi orang yang bertakwa.
Harapannya, manusia dapat mengambil pelajaran agar termasuk ke dalam kelompok yang taat, bukan kelompok yang membangkang kepada Allah SWT.

Ringkasan Tafsir Surah Al Qamar 43

 

Akan tayang setiap hari selama bulan Ramadan hanya di YouTube channel Quraish Shihab

#hidupbersamaalquran #tafsiralmishbah #quraishshihab #ramadan1441

Follow:

Dapatkan buku karya M. Quraish Shihab:

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us