4 September 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

salah satu cara Al-Quran menggugah manusia supaya percaya dan patuh terhadap Allah adalah dengan pesan untuk berkaca, melihat dirinya sendiri.

Mengapa harus mengambil pelajaran dari manusia yang kecil ini? Apa saja yang harus diperhatikan dari diri kita?

Simak Penjelasan lengkap Tafsir Al-Quran bersama M. Quraish Shihab dan Najelaa Shihab, di Hidup Bersama Al-Quran edisi spesial Tafsir Al-Mishbah.

Tafsir Surah Al-Waqiah Ayat 51-62

1. Balasan bagi Para Pendusta (Ayat 51-56)

Pembahasan dimulai sebagai lanjutan dari keraguan orang-orang kafir tentang hari kebangkitan.
Allah berfirman kepada mereka yang tersesat dan mendustakan hari pembalasan bahwa mereka pasti akan dikumpulkan pada waktu yang telah ditentukan.

Mengenai sikap orang yang mengingkari hari kemudian, terdapat sebuah ungkapan penyair yang menarik: ia mengatakan bahwa meyakini adanya hari akhir adalah seperti sebuah “pertaruhan” yang selalu menguntungkan.
Jika ternyata hari akhir itu tidak ada, orang yang beriman tidak rugi karena ia sudah hidup dengan norma yang baik.
Namun, jika hari akhir itu ada, maka orang yang tidak percaya akan sangat merugi.

Bagi mereka yang tetap mendustakan, Allah memberikan gambaran siksaan:

  • Pohon Zaqqum:
    Mereka akan makan dari pohon Zaqqum, sebuah pohon yang tumbuh di dasar neraka, rasanya sangat pahit, berduri, dan menyebabkan rasa haus yang luar biasa jika ditelan.
  • Memenuhi Perut:
    Karena rasa lapar yang amat sangat, mereka akan memenuhi perut mereka dengan buah Zaqqum tersebut.
    Di sini ditekankan perbedaan antara orang mukmin yang makan untuk memenuhi satu perut (secara secukupnya), sementara orang kafir digambarkan makan seolah memenuhi tujuh perut.
  • Minuman Hamim:
    Setelah memakan Zaqqum yang pahit, mereka akan meminum air yang sangat panas (Hamim).
    Mereka meminumnya layaknya unta yang sedang sakit sehingga terus-menerus merasa haus tanpa henti (Al-Him).
  • Hidangan Selamat Datang (Nuzul):
    Semua siksaan pahit dan panas ini barulah dianggap sebagai “hidangan selamat datang” atau welcome drink bagi mereka di hari pembalasan, belum merupakan hidangan utamanya.

2. Bukti Kekuasaan Allah melalui Penciptaan (Ayat 57-59)

Allah kemudian menegaskan kekuasaan-Nya: “Kamilah yang menciptakan kamu, maka bukankah sebaiknya kamu percaya?”.
Logikanya, Dzat yang mampu menciptakan manusia dari ketiadaan pasti jauh lebih mudah untuk membangkitkan atau menghidupkan kembali manusia yang sudah mati.

Sebagai renungan, Allah mengajak manusia melihat asal-usulnya dari sperma yang dipancarkan:

  • Manusia tidak memiliki kuasa atas sperma tersebut. Dari jutaan sel sperma yang meluncur, Allah-lah yang memilih satu sel untuk bertemu dengan sel telur dan menempel di dinding rahim.
  • Allah-lah yang menentukan apakah manusia yang lahir itu laki-laki atau perempuan, bukan kehendak manusia semata.
  • Manusia mungkin terlihat kecil secara fisik, namun di dalam dirinya tersimpul alam yang sangat luas dan proses penciptaan yang luar biasa rumit.

3. Ketetapan Kematian dan Perubahan Wujud (Ayat 60-62)

Allah menyatakan bahwa Dialah yang mengatur dan menetapkan kematian di antara manusia.
Kematian tidak ditentukan oleh urutan usia atau kesehatan, melainkan oleh ketetapan Allah; ada yang muda meninggal lebih dulu, ada yang tua belakangan.
Tidak ada satu kekuatan pun, termasuk perkumpulan dokter terbaik di dunia, yang dapat mengalahkan ketetapan kematian dari Allah.

Allah juga berkuasa untuk:

  • Mengganti Manusia:
    Allah mampu mengganti manusia dengan makhluk lain yang serupa atau mengubah bentuk manusia ke dalam keadaan yang tidak diketahui.
  • Transformasi Fisik:
    Para ulama menjelaskan bahwa Allah berkuasa mengubah jasmani manusia.
    Sebagaimana sejarah mencatat adanya perubahan dari manusia purba hingga manusia modern, Allah bisa saja mengubah wujud atau menciptakan makhluk baru jika Dia berkehendak.

Allah menutup bagian ini dengan mengingatkan tentang penciptaan pertama.
Jika manusia sudah menyadari betapa ajaibnya penciptaan awal mereka dari tiada menjadi ada, seharusnya mereka merenung dan mengambil pelajaran bahwa menghidupkan kembali setelah mati adalah hal yang sangat mudah bagi Allah.

4. Tanya Jawab: Apakah Siksa Neraka Itu Kekal?

Dalam sesi tanya jawab, Ustadz Hizbullah menjelaskan beberapa perspektif mengenai kekekalan siksa neraka:

  • Pandangan Ibnu Sina:
    Surga itu kekal seperti kekalnya jiwa, sedangkan neraka ada yang bersifat sementara sebagai tempat pembersihan sebelum akhirnya dimasukkan ke surga.
  • Rahmat Allah:
    Berdasarkan Hadits Qudsi, Allah berfirman: “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan amarah-Ku”.
  • Dua Golongan:
    Di dalam Al-Quran, siksa kekal (khalidina fiha abada) ditujukan bagi orang kafir.
    Sementara bagi orang beriman yang berdosa, mereka akan disiksa sementara waktu untuk disucikan, lalu dimasukkan ke surga karena rahmat Allah.
  • Kehendak Mutlak Allah:
    Mengacu pada Surah Hud ayat 107, Allah adalah Fa’allun lima yurid (Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki).
    Meskipun sudah ditentukan ada yang kekal, Allah dengan kekuasaan dan rahmat-Nya tetap memiliki kehendak mutlak atas hamba-hamba-Nya.

 

Kesimpulan:

Rangkaian ayat ini mengajak kita untuk mengenal diri sendiri agar dapat mengenal Allah.
Dengan merenungi asal-usul penciptaan dan kepastian kematian, diharapkan tumbuh keyakinan yang kuat akan hari kebangkitan.

Tafsir Surah Al Waqiah 51

 

Akan tayang setiap hari selama bulan Ramadan hanya di YouTube channel Quraish Shihab

#hidupbersamaalquran #tafsiralmishbah #quraishshihab #ramadan1441

Follow:

Dapatkan buku karya M. Quraish Shihab:

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us