3 September 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Allah sudah memberikan nikmat yang besar kepada manusia, namun itu hanyalah sebagian kecil dari apa yang dimiliki Allah.

Seberapa besar anugerah yang sudah diberikan? Bagaimana Allah mengendalikan semua makhluk-Nya?

Simak Penjelasan lengkap Tafsir Al-Quran bersama M. Quraish Shihab dan Najelaa Shihab, di Hidup Bersama Al-Quran edisi spesial Tafsir Al-Mishbah.

Memasuki hari ke-16 Ramadan, pembahasan berlanjut pada Surah Ar-Rahman yang menggambarkan aneka nikmat Allah SWT.
Setelah sebelumnya membahas pengajaran Al-Qur’an dan penciptaan manusia secara umum, kali ini penjelasan masuk ke rincian penciptaan manusia dan jin, serta fenomena alam lainnya.

Penciptaan Manusia dan Jin (Ayat 14-15)

Allah menjelaskan bahwa Dia menciptakan manusia (Al-Insan, merujuk pada Adam) dari shalsahl, yaitu tanah kering yang berbunyi jika diketuk, seperti tembikar atau kendi.
Sementara itu, Al-Jan (jin) diciptakan dari marijin min nar, yakni api yang sangat murni tanpa campuran, atau api yang bergejolak hebat.

Terkait asal-usul ini, muncul perdebatan logika ketika Iblis merasa lebih baik daripada Adam karena ia berasal dari api sedangkan Adam dari tanah. Namun, secara logika manusia, tanah sebenarnya memiliki kelebihan dibanding api:

  1. Manfaat:
    Tanah dibutuhkan oleh semua makhluk (manusia, hewan, tumbuhan), sedangkan api hanya dibutuhkan dalam kadar tertentu.
  2. Sifat:
    Api bersifat menghanguskan, sementara tanah bersifat menumbuhkan.
  3. Kekuatan:
    Api bisa padam oleh tanah, namun tanah tetap ada. Hal ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang bukan berasal dari asal kejadiannya, melainkan dari amal perbuatannya.

Penguasa Timur, Barat, dan Fenomena Dua Laut (Ayat 17-21)

Allah adalah Tuhan yang mengatur dua tempat terbit (Masyriqaini) dan dua tempat terbenam (Maghribain).
Hal ini bisa dimaknai sebagai titik terbit/terbenam matahari pada musim dingin dan musim panas yang berbeda posisinya.

Selanjutnya, Allah menyebutkan fenomena Marajal bahrain, yaitu bertemunya dua laut (air tawar dan asin) namun memiliki barzakh (pemisah) sehingga tidak bercampur.
Penjelasan mengenai pemisah ini meliputi:

  • Secara geografis, ada tempat di mana laut dan sungai berdekatan namun airnya tetap pada karakteristik masing-masing.
  • Letak sungai yang umumnya lebih tinggi dari laut mencegah air laut masuk ke sungai.
  • Mukjizat Ilmiah:
    Penelitian sejak tahun 1960-an menemukan bahwa meski air laut dan sungai bertemu, masing-masing memiliki kekhususan yang mencegah pencampuran secara total.
    Hal ini ditemukan di berbagai tempat seperti Oman, Teluk Persia, hingga Meksiko.

Fenomena ini juga menjadi pesan bagi umat Muslim: meskipun hidup bergaul di tengah masyarakat yang beragam (seperti bertemunya dua air), seorang Muslim harus tetap menjaga identitas dan kepribadiannya agar tidak luntur.

Kekayaan Laut dan Bahtera (Ayat 22-25)

Dari kedua jenis air tersebut, Allah mengeluarkan perhiasan berupa lu’lu’ (mutiara) dan marjan (mutiara kecil atau yang berwarna merah).
Menariknya, tafsir lama sempat meragukan bahwa sungai (air tawar) menghasilkan mutiara, namun sains modern membuktikan bahwa mutiara memang ada di air tawar, yang semakin menguatkan kebenaran ilmiah Al-Qur’an.

Allah juga menyebut tentang Al-Jawar, yaitu bahtera atau kapal-kapal besar yang berlayar di laut seperti gunung-gunung.
Kapal-kapal ini berada di bawah kendali dan aturan Allah, bukan semata karena nakhoda atau teknologi manusia, sebagaimana pelajaran dari tragedi Titanic.

Kefanaan Makhluk dan Kekekalan Allah (Ayat 26-28)

Allah menegaskan bahwa segala sesuatu yang ada di bumi akan binasa (fan). Kata “man” dalam ayat ini merujuk pada makhluk berakal seperti manusia dan jin.
Kematian bukanlah ketiadaan mutlak, melainkan perpindahan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan.

Hanya “Wajah” Tuhanmu yang tetap kekal. Para ulama memaknai “Wajah” di sini sebagai:

  • Zat Allah:
    Sosok atau hakikat Allah yang tidak mungkin tiada.
  • Sifat-Sifat-Nya:
    Sifat keagungan yang membangkitkan dan memberi keadilan kepada manusia.

Allah menyandang sifat Dzul Jalali wal Ikram:

  • Al-Jalal:
    Keagungan yang menafikan segala kekurangan pada diri Tuhan.
  • Al-Ikram:
    Kemuliaan dan kedermawanan yang memberikan segala yang terbaik, halal, dan memuaskan bagi makhluk-Nya.

Tanya Jawab: Tahapan Tanah Penciptaan Manusia

Terkait pertanyaan mengapa Al-Qur’an menyebut jenis tanah yang berbeda-beda untuk penciptaan manusia, dijelaskan bahwa hal itu menunjukkan tahapan proses:

  1. Turab (Tanah debu).
  2. Thin (Tanah liat/basah).
  3. Hama’ (Lumpur hitam).
  4. Shalsahl (Tanah kering seperti tembikar).
    Perbedaan jenis tanah ini juga mencerminkan keragaman karakteristik dan rupa manusia di muka bumi.

Tafsir Penciptaan dan Nikmat Allah

Akan tayang setiap hari selama bulan Ramadan hanya di YouTube channel Quraish Shihab

#hidupbersamaalquran #tafsiralmishbah #quraishshihab #ramadan1441

Follow:

Dapatkan buku karya M. Quraish Shihab:

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us