Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Ketika manusia dibangkitkan, Nabi Muhammad akan mencari ummatnya dengan melihat tanda cahaya yang muncul dari diri ummatnya.
Lantas cahaya apakah ini? Bagaimana agar mendapat cahaya ini di hari kemudian?
Simak Penjelasan lengkap Tafsir Al-Quran bersama M. Quraish Shihab dan Najelaa Shihab, di Hidup Bersama Al-Quran edisi spesial Tafsir Al-Mishbah.
Pendahuluan dan Konteks Ayat
Pembahasan diawali dengan meninjau kembali ayat 11, di mana Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda dan ganjaran yang mulia bagi siapa pun yang meminjamkan “pinjaman yang baik” kepada Allah.
Ganjaran mulia ini akan diperoleh secara sempurna di akhirat, sementara ganjaran di dunia barulah merupakan “uang panjar” atau tanda jadi.
Cahaya Orang Beriman (Ayat 12)
Pada hari kiamat, orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan akan terlihat berjalan dengan cahaya yang bersinar di hadapan dan di sisi kanan mereka.
Terdapat beberapa poin penting mengenai hal ini:
- Kesetaraan Gender:
Ayat ini secara eksplisit menyebutkan mukmin laki-laki dan perempuan, menunjukkan bahwa dalam hal ganjaran dan derajat keimanan, tidak ada perbedaan di antara keduanya. Perbedaan yang ada hanyalah bersifat kodrati untuk saling melengkapi. - Hakikat Cahaya:
Cahaya tersebut tidak terpisah dari tubuh, melainkan tubuh mereka dipenuhi oleh cahaya.
Cahaya di depan berfungsi sebagai penunjuk arah, sementara cahaya di kanan melambangkan catatan amal kebaikan mereka. - Sumber Cahaya:
Cahaya ini merupakan pancaran dari iman, hidayah, dan amal saleh selama di dunia.
Nabi Muhammad SAW mengenali umatnya di akhirat melalui bekas-bekas wudu yang bercahaya (ghurran muhajjalin).
Setiap amal kebaikan memiliki “warna” cahayanya sendiri, yang tanda-tandanya terkadang sudah tampak di wajah orang-orang yang tulus sejak di dunia.
Makna Kemenangan (Al-Fauz)
Kepada orang-orang beriman disampaikan kabar gembira berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Inilah yang disebut sebagai kemenangan yang agung (al-fauz al-azim).
Dalam Al-Quran, istilah kemenangan (fauz) bukan berarti menang dalam peperangan atau kompetisi, melainkan keberhasilan memperoleh pengampunan Allah dan masuk ke surga.
Islam lebih menekankan pada kebersamaan dan kolaborasi daripada kompetisi semata.
Interaksi dengan Orang Munafik (Ayat 13-15)
Pada saat itu, orang-orang munafik yang berada dalam kegelapan akan memanggil orang-orang beriman dan meminta sedikit cahaya dari mereka.
- Pemisahan:
Orang beriman (atau malaikat) akan menjawab agar mereka kembali ke belakang (ke dunia) untuk mencari cahaya sendiri. Kemudian, ditegakkanlah dinding pemisah yang memiliki pintu.
Di sisi dalam pintu tersebut terdapat rahmat (bagi orang beriman), sementara di sisi luarnya terdapat siksa (bagi orang munafik). - Penyesalan:
Orang munafik akan bertanya, “Bukankah dulu kami bersama kalian (di masjid atau di lingkungan yang sama)?”.
Orang beriman menjawab bahwa secara jasmani mereka memang bersama, namun hati, akidah, dan perbuatan mereka berbeda. - Penyebab Kegagalan:
Orang munafik celaka karena mereka menganiaya diri sendiri, selalu menunggu keburukan menimpa orang beriman, ragu terhadap janji Tuhan, dan terpedaya oleh angan-angan kosong hingga ajal menjemput.
Di hari itu, tidak ada tebusan atau tobat yang diterima dari mereka.
Memahami Kemunafikan
Istilah “munafik” diambil dari kata nafaq (terowongan) atau nafiqa (salah satu lubang sembunyi tikus), menggambarkan sifat yang suka mencari jalan selamat dengan bersembunyi atau berpindah-pindah.
Terdapat dua jenis kemunafikan:
- Munafik Besar:
Menyangkut akidah. - Munafik Kecil:
Menyangkut perilaku, seperti berbohong, berkhianat, dan ingkar janji. Jika sifat-sifat ini menjadi kebiasaan yang konsisten, barulah seseorang dikatakan benar-benar munafik.
Pentingnya Kekhusyukan dan Zikir (Ayat 16)
Allah memberikan peringatan bagi orang-orang beriman: “Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?”.
- Khusyu’:
Khusyu’ adalah ketenangan dan kepatuhan yang dihasilkan dari gerakan hati menuju Allah. Khusyu’ memiliki tingkatan dan harus dilatih melalui salat dan zikir. - Bahaya Kerasnya Hati:
Umat Islam diingatkan agar tidak menjadi seperti Ahli Kitab terdahulu yang setelah berlalu masa yang panjang, hati mereka menjadi keras karena melalaikan peringatan Allah. - Dosis Zikir:
Meskipun berzikir dalam jumlah ribuan diperbolehkan, lebih utama mengikuti “dosis” yang diajarkan Nabi Muhammad SAW (seperti membaca tasbih, tahmid, dan takbir 33 kali setelah salat).
Zikir adalah obat ampuh untuk menenangkan hati yang gelisah.

Akan tayang setiap hari selama bulan Ramadan hanya di YouTube channel Quraish Shihab
#hidupbersamaalquran #tafsiralmishbah #quraishshihab #ramadan1441
Follow:
Dapatkan buku karya M. Quraish Shihab:

