Kajian ini membahas kitab Miftahul Haq (Pelita Syariat dan Gerbang Hakikat) yang berisi riwayat-riwayat dari Imam Ja’far ash-Sadiq, cucu Rasulullah SAW.
Materi kali ini berfokus pada bab Bayanat-ullah, khususnya mengenai penjelasan tentang Zuhud atau kesederhanaan.
Definisi Zuhud
Imam Ja’far ash-Sadiq menyatakan bahwa zuhud adalah kunci pintu akhirat dan jalan pembebasan dari azab neraka.
Secara hakiki, zuhud didefinisikan sebagai melepaskan segala sesuatu yang menyibukkan hati dan menghalangi ingatan kita kepada Allah SWT.
Orang yang zuhud tidak merasa terbebani atau sedih atas hilangnya hal-hal duniawi dari dirinya.
Hubungan Dunia, Akhirat, dan Pecinta Allah
Terdapat filosofi mendalam mengenai keterikatan batin:
- Dunia “haram” bagi pencari akhirat.
- Akhirat “haram” bagi pencari dunia.
- Keduanya (dunia dan akhirat) “haram” bagi para pecinta Allah, karena di hati mereka hanya ada Allah, bukan sekadar mengejar kenikmatan surga.
Karakteristik Orang yang Zahid (Orang yang Zuhud)
Seseorang dikatakan telah mencapai derajat zuhud apabila memiliki tanda-tanda berikut:
- Tidak Merasa Luar Biasa:
Mereka tidak merasa sombong atau merasa telah melakukan hal hebat setelah berhijrah atau merubah penampilan. - Tidak Mengharap Ganti Duniawi:
Mereka tidak melepaskan sesuatu untuk mengharapkan pengganti yang lebih banyak atau lebih baik di dunia (sifat serakah). - Merasa Lega Kehilangan Dunia:
Kehilangan harta atau dunia justru dianggap sebagai berkurangnya beban batin. - Memilih Keutamaan Akhirat:
Mereka lebih memilih akhirat daripada dunia, kerendahan hati daripada popularitas, dan usaha keras dalam ibadah daripada sekadar bersantai mencari kenyamanan (hubbur roha). - Menjaga Nafsu Makan:
Mengikuti sunnah para nabi, mereka makan secukupnya hanya untuk menjaga kebugaran tubuh dalam beribadah, bukan untuk kekenyangan. - Hati di Akhirat, Tubuh di Dunia:
Secara fisik mereka berjalan di bumi, namun batin mereka tertambat di akhirat.
Mereka mungkin tidak dikenal di dunia, tetapi sangat masyhur di kalangan penduduk langit (malaikat).
Bahaya Mencintai Dunia (Hubbud Dunya)
Rasulullah SAW memperingatkan bahwa kecintaan pada dunia adalah pangkal dari segala kesalahan (Ra’su kulli khathi’ah).
Dua hal yang paling dikhawatirkan Nabi pada umatnya adalah kecintaan pada dunia dan panjangnya angan-angan.
Pecinta dunia akan menghalalkan segala cara demi kenikmatan sesaat dan kehilangan sakralitas nilai ketuhanan.
Hukum Kehidupan Dunia
Allah SWT telah memerintahkan dunia dengan sebuah ketetapan: “Layanilah orang yang menjauhiku (demi Allah) dan buatlah lelah orang yang mengejarmu”.
Ini adalah janji Allah; ketika manusia menjauhi keterikatan dunia, maka dunia akan datang melayaninya.
Contoh nyata ditunjukkan oleh ulama seperti Jawadi Amuli, yang bahkan di usia senja tidak mau menyandarkan punggungnya saat mengajar atau di mobil, agar tidak merasa terlalu nyaman dan betah tinggal di dunia, karena hatinya sangat rindu bertemu dengan Allah.
Penutup
Zuhud bukan berarti tidak menggunakan dunia, melainkan memanfaatkannya hanya sebagai fasilitas untuk tunduk dan beribadah kepada Allah SWT tanpa membiarkannya mengikat hati.

bersama Dr. Kholid Al Walid
Kajian Hadis (Eps 21) AL-ZUHUD Membaca kitab hadis Imam Ja’far Ash Shadiq guru dari semua mazhab dalam Islam Pelita Syariah dan Gerbang Hakikah
YouTube : Misykat TV
SoundCloud : SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify : Misykat Bandung
Web : Misykat.net
Cp WA 0812 239 14000
#MisykatTV #DiskusiDigital

