Jumat, 30 Oktober 2026
Channel Pandu AhlulBayt

13 Sifat/Prilaku Terpuji “Ibadur Rahman” Ngaji Surah Al Furqan Ayat 63-76 (2)

13 Sifat/Prilaku Terpuji “Ibadur Rahman”                   Ngaji Surah Al Furqan Ayat 63-76 (2)
Ilustrasi 13 Sifat/Prilaku Terpuji “Ibadur Rahman” Ngaji Surah Al Furqan Ayat 63-76 (2)
Ukuran teks:

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Berikut adalah resume mendalam dari penjelasan video mengenai kelanjutan sifat-sifat mulia Ibadur Rahman berdasarkan Surah Al-Furqan:

Hubungan Spiritual yang Mendalam di Malam Hari (Sifat Ketiga)

Ibadur Rahman adalah hamba-hamba pilihan yang mengisi malam-malam mereka dengan beribadah kepada Allah SWT (yabituuna lirobbihim sujjadaw wa qiyaama).
Kata yabitun merujuk pada aktivitas melewati waktu malam, baik dalam keadaan tidur maupun terjaga.

Alih-alih menghabiskan seluruh malam untuk tidur lelap, mereka mempergunakannya untuk bersujud dan berdiri menghadap Tuhan mereka.

Meskipun dalam urutan gerakan salat berdiri (qiyaam) dilakukan terlebih dahulu sebelum sujud, dalam ayat ini sujud (sujjadan) disebutkan lebih dahulu karena dua alasan utama:

  • Keutamaan Sujud:
    Sujud merupakan bagian paling mulia dari seluruh rangkaian ibadah salat.
    Pada saat sujud, seorang hamba meletakkan bagian tubuhnya yang paling terhormat (dahi) sejajar dengan tanah sebagai bukti kepasrahan, kehinaan diri, dan penghambaan mutlak di hadapan Allah.
    Justru melalui kerendahan hati yang ekstrem inilah derajat seorang hamba ditinggikan dan didekatkan di sisi Allah SWT.
  • Keindahan Sastra (Keselarasan Rima):
    Peletakan kata qiyaaman di akhir ayat bertujuan menjaga keselarasan intonasi dan rima akhir (not bacaan) dengan ayat sebelum dan sesudahnya (seperti kata Salama dan Muqoma).
    Harmoni intonasi ini merupakan salah satu bentuk mukjizat keindahan sastra Al-Qur’an.

Ibadah malam ini tidak berarti mereka harus terjaga semalam suntuk tanpa tidur sama sekali.
Selain itu, esensi sujud juga tidak terbatas di dalam salat saja; sujud dapat dilakukan di luar salat seperti sujud syukur saat menerima nikmat atau sujud ketika menghadapi musibah untuk memperoleh kekuatan jiwa ekstra dari Allah.

 

2. Alasan Keistimewaan Ibadah di Malam Hari

Meskipun mereka tentu tetap beribadah di siang hari, waktu malam mendapatkan penekanan khusus karena memiliki keutamaan yang luar biasa:

  • Keheningan dan Fokus:
    Malam hari menyajikan suasana yang sepi dan tenang, sehingga memudahkan seseorang untuk berkonsentrasi penuh (tawajjuh) kepada Allah tanpa terganggu oleh hiruk-pikuk dan kesibukan aktivitas siang hari.
  • Bukti Keikhlasan yang Hakiki:
    Melakukan ibadah secara sembunyi-sembunyi di saat orang lain sedang tidur lelap merupakan bukti ketulusan spiritual yang kuat.
    Hal ini menjaga jiwa dari bahaya penyakit hati seperti pamer (riya’) atau merasa bangga diri (ujub) yang rentan menyerang ibadah di siang hari.
  • Momen Curahan Rahmat:
    Malam—terutama waktu sahur menjelang subuh—adalah waktu istimewa yang dipilih Allah untuk menurunkan rahmat-Nya secara deras.
    Keistimewaan waktu sahur ini dicontohkan oleh Nabi Yakub AS yang sengaja menunda waktu untuk memohonkan ampunan bagi anak-anaknya hingga waktu sahur tiba.
  • Sumber Kekuatan Jiwa:
    Kekuatan spiritual yang dibangun di malam hari menjadi modal penting bagi manusia untuk mengarungi dan menghadapi kepenatan fisik, mental, serta berbagai problematika hidup yang melelahkan di siang hari.

 

3. Rasa Takut akan Azab Allah dan Kekhawatiran Terhadap Iman

Keistimewaan ibadah malam tidak lantas membuat Ibadur Rahman merasa sombong, berpuas diri, atau merasa telah memegang tiket pasti menuju surga.
Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang senantiasa berdoa dengan penuh harap dan cemas: “Robbannasrif ‘anna ‘adzaba jahannam…” (Wahai Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami…).

Sikap rendah hati dan rasa takut ini didasari oleh kesadaran mendalam akan hal-hal berikut:

  • Ngerinya Siksaan Jahanam yang Bersifat Ghoroma:
    Kata ghoroma berarti siksaan yang terus-menerus menempel erat dan tidak pernah diberikan jeda atau istirahat sedikit pun bagi penghuninya.
    Jahanam merupakan seburuk-buruknya tempat menetap dan tempat tinggal.
  • Sulitnya Menjaga Keikhlasan:
    Amal ibadah hanya akan diterima jika dilakukan dengan ikhlas. Namun, menjaga kemurnian niat tersebut agar tidak dirusak oleh pujian orang lain di kemudian hari jauh lebih berat dan sulit daripada melakukan ibadah itu sendiri.
    Keikhlasan harus terus dikawal hingga akhir hayat.
  • Ketiadaan Jaminan Akhir yang Baik (Husnul Khatimah):
    Iman seseorang bersifat dinamis dan tidak ada jaminan akan bertahan hingga ajal menjemput.
    Di tengah gempuran keraguan iman saat ini, sejarah mencatat adanya fenomena seseorang yang beriman di pagi hari namun telah murtad di sore hari, atau sebaliknya.
    Bahkan, ada pejuang ajaran agama yang pada akhirnya berbalik menjadi penentangnya.

Oleh karena itu, ketika mereka berdoa meminta agar azab Jahanam dipalingkan, doa tersebut juga bermakna memohon agar dihindarkan dari segala sebab, godaan, dan perbuatan dosa yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam siksa neraka tersebut.

Sifat Ketiga Ibadur Rahman

Bersama Ustadz Ali Umar Al Habsyi

Judul video: 13 Sifat/Prilaku Terpuji “Ibadur Rahman” Ngaji Surah Al Furqan Ayat 63-76 (2) – Watch on Youtube

Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:
Subscribe Channel PANDU AHLULBAYT

 

BAGIKANTombol TikTok / Instagram / YouTube: teks otomatis tersalin & gambar terunduh — tinggal tempel & unggah.WhatsAppXThreadsFacebookLinkedInTikTokInstagramYouTube

Saksikan Video di Bawah Ini:

Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".

Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Pura-Pura Tidak Mengenalnya Pura-Pura Tidak Mengenalnya Memberi Makan 100 Keluarga Memberi Makan 100 Keluarga SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA
WA Follow Us