Segala puji bagi Allah, serta shalawat dan salam kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya yang suci.
Perjalanan ruhani kita menuju Allah SWT adalah upaya untuk
menyempurnakan diri.
Barangsiapa yang tidak mengolah sisi ruhaniahnya selama di dunia, ia akan menghadapi banyak persoalan di kehidupan mendatang.
Sebagaimana firman Allah:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan rohaninya, dan celaka orang yang mengotorinya”.
Hakikat Ridha: Antara Proses dan Pemberian
Kita memasuki bab tentang
Al-Ridha Billah (Keridhoan bersama Allah).
Di kalangan para ahli makrifat, terdapat perbedaan pandangan mengenai apakah ridha itu merupakan hasil dari proses panjang (
maqomat) ataukah anugerah yang Allah letakkan langsung di hati hamba-Nya (
hal).
Sebagian ulama menyebutkan bahwa ridha adalah
puncak dari maqomat sekaligus awal dari pemberian Allah.
Ia juga disebut sebagai
buah dari kesabaran dan tawakal.
Definisi Ridha: Menerima dengan Senang Hati
Ridha memiliki perbedaan mendasar dengan sekadar “menerima” (
kabul). Menerima bisa saja dilakukan karena terpaksa atau tidak ada pilihan lain.
Namun,
ridha adalah menerima segala keadaan dengan senang hati, bahagia, dan tanpa beban.
Sebagai contoh, dalam sebuah riwayat, seorang ulama yang sedang sakit tidak meminta didoakan untuk sembuh, melainkan meminta agar Allah memberikan rasa ridha di hatinya atas apa pun ketetapan-Nya.
Ridha sejati muncul
setelah terjadinya ketetapan Allah pada diri kita.
Tingkatan-Tingkatan Ridha
Dalam disiplin tasawuf, keridhaan terbagi menjadi tiga derajat utama:
- Ridha Billah (Ridha kepada Allah sebagai Tuhan): Kita hanya menyandarkan diri kepada Allah dan melepaskan ketergantungan pada selain-Nya. Kita ridha bahwa Dialah satu-satunya Zat yang paling berhak ditaati melebihi apa pun.
- Ridha anillahi (Ridha atas Ketetapan Allah): Menerima seluruh keputusan Allah dengan dada lapang, baik itu saat Allah melapangkan rezeki maupun menyempitkannya. Orang pada tahap ini memiliki hati yang stabil; ia tidak berlebihan saat mendapat nikmat dan tidak mengeluh saat tertimpa penderitaan.
- Ridha bi-Ridhallah (Ridha dengan Keridhoan Allah): Ini adalah tingkatan tertinggi di mana seorang hamba tidak lagi mendahulukan keinginannya sendiri, melainkan hanya menginginkan apa yang Allah inginkan bagi dirinya (Kurbul Nawafil). Pada tahap ini, segala penderitaan yang datang dari Sang Kekasih (Allah) dirasakan sebagai keindahan dan kelezatan.
Kunci Kebahagiaan Sejati
Ketiadaan rasa ridha akan menyebabkan penderitaan dan ketamakan dalam hidup. Sebaliknya, ridha adalah kunci utama
Sa’adah (Kebahagiaan), baik dalam konteks material maupun ruhaniah.
Allah memanggil jiwa-jiwa yang tenang (
Nafsul Muthmainnah) untuk kembali kepada-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai (
Radhiyatan Mardhiyyah).
Contoh nyata dari keridhaan ini adalah
Imam Ali bin Abi Thalib yang bergelar
Al-Murtadha (yang diridhai), karena beliau mempersembahkan seluruh hidupnya demi membela Islam dan Rasulullah SAW dengan penuh kerelaan meski harus hidup dalam kesederhanaan dan penderitaan fisik.
Semoga Allah memasukkan rasa ridha ke dalam hati kita, sehingga kita merasa cukup dengan apa pun yang telah ditetapkan-Nya.

Bersama Dr. Khalid Al-Walid M.Ag
Belajar TASAWUF Seri 21 AL-RIDHA BILLAH (Keridhoan bersama Allah)
LIVE STREAMING Ahad 15 Mei 2022 Jam 19.40 – 21.00 WIB
YouTube: Misykat TV
SoundCloud: SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify: Misykat Bandung
Web: Misykat.net
Cp WA 0812 239 14000