Jumat, 30 Oktober 2026
Channel Misykat TV

Belajar Tasawuf Seri (11): Al-Khusyu’ (Ketentraman Hati)

Belajar Tasawuf Seri (11): Al-Khusyu’ (Ketentraman Hati)
Ilustrasi Belajar Tasawuf Seri (11): Al-Khusyu’ (Ketentraman Hati)
Ukuran teks:

Kajian ini merupakan seri ke-11 dari pembelajaran tasawuf yang membahas tentang Al-Khusyu’, yang diterjemahkan sebagai ketentraman hati.

Khusyu’ bukan sekadar gerakan fisik, melainkan sebuah perjalanan ruhaniah yang membentuk karakter pribadi seseorang.

Hakikat Khusyu’

Secara mendasar, khusyu’ adalah urusan hati (Amrul Qolbi).
Rasulullah SAW pernah melihat seseorang yang sedang shalat sambil memainkan janggutnya, lalu beliau bersabda: “Sekiranya hati orang ini khusyu’, maka seluruh anggota tubuhnya akan ikut khusyu'”.
Hal ini menunjukkan bahwa apa yang tampak dalam tindakan, sikap, dan perkataan kita merupakan cerminan dari apa yang ada di dalam hati.

Khusyu’ juga dimaknai sebagai:

  • Padamnya api syahwat dan munculnya ketenangan jiwa.
  • Terpancarnya cahaya keagungan Ilahi di dalam hati.
  • Kerendahan hati yang muncul karena kesadaran penuh akan segala kekurangan dan keburukan diri sendiri di hadapan Allah.

Tiga Tingkatan Ketundukan (Murtadha Mutahhari)
Dalam proses menuju Allah, terdapat tiga tingkatan ketundukan manusia:

  1. Ketundukan Jasmani:
    Ketundukan fisik yang bersifat transaksional. Contohnya, seorang pelayan atau pengemudi yang hanya tunduk selama ada ikatan tugas atau bayaran.
  2. Ketundukan Akal (Aqliyah):
    Akal membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah, namun seringkali belum mampu mempengaruhi perilaku nyata.
  3. Ketundukan Hati (Qolbiyah):
    Inilah ketundukan tertinggi yang didasari cinta dan pengorbanan, seperti kasih sayang ibu kepada anaknya atau ketaatan total seorang hamba kepada Tuhannya.

Tingkatan Khusyu’ dalam Tasawuf

Khusyu’ dibagi menjadi tiga tingkatan utama:

  • Tingkat Pertama:
    Meliputi ketaatan terhadap perintah Allah sebagai bentuk penghambaan (Ta’abbud), penyerahan diri secara total terhadap hukum Allah (Al-Islam), dan kesadaran penuh bahwa Allah selalu menyaksikan kita (Al-Ikhbat atau Ihsan).
  • Tingkat Kedua:
    Kesadaran akan keburukan dan kotoran jiwa sendiri.
    Seseorang pada tingkat ini melihat orang lain selalu lebih mulia daripada dirinya dan menyadari bahwa segala kebaikan yang ia miliki semata-mata adalah pemberian Allah yang bisa sirna kapan saja.
  • Tingkat Ketiga:
    Menjaga kesucian rahasia antara dirinya dengan Allah (Hifzul Hurmah) setelah mendapatkan mukasyafah (pembukaan tabir kegaiban).
    Pada tahap ini, ia melihat manusia dengan “kacamata Ilahi”, tidak lagi dengan ego atau syahwat, serta melepaskan pandangan atas kemuliaan dirinya sendiri.

Praktek Khusyu’ dalam Shalat

Bagi tingkat pemula (awam), lingkungan yang tenang dan bersih sangat membantu dalam mencapai kekhusyukan karena hati mereka masih mudah dipengaruhi oleh keadaan sekitar.
Namun, bagi mereka yang telah mencapai derajat tertentu, kehadiran mereka justru yang memberikan ketenangan pada lingkungan sekitarnya.

Kesimpulan

Hati yang mengeras karena kelalaian dan dosa adalah penghalang utama khusyu’.
Untuk mengatasinya, diperlukan taubat dan pembersihan hati secara perlahan.
Ketika hati telah tunduk dan khusyu’, maka di situlah muncul ketentraman sejati dalam kehidupan.

Hakikat dan Tahapan Al Khusyu

 

LIVE Belajar TASAWUF bersama Ustadz Dr Khalid al-Walid, setiap Ahad Jam 19.45 – 21.00
Silahkan membagikan/share video. Semoga jari-jemari Anda akan menjadi saksi mencintai Allah Swt, Rasul dan Ahlulbaitnya.
Bihaqqi Muhammad wa Aali Muhammad.

Pusat Kajian Tasawuf Misykat:
YouTube : Misykat TV
SoundCloud : SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify : Misykat Bandung
Web : www.misykat.net

Donasi Dakwah Digital:
Bank BRI 1141 01 000 401 56 2 an Yayasan Bahtera Cinta Almustofa
Cp WA 0812 239 14000
https://saweria.co/misykattv

#DiskusiDigital #MisykatTV

BAGIKANTombol TikTok / Instagram / YouTube: teks otomatis tersalin & gambar terunduh — tinggal tempel & unggah.WhatsAppXThreadsFacebookLinkedInTikTokInstagramYouTube

Saksikan Video di Bawah Ini:

Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta

Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Pura-Pura Tidak Mengenalnya Pura-Pura Tidak Mengenalnya Memberi Makan 100 Keluarga Memberi Makan 100 Keluarga SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA
WA Follow Us