Cinta: Cermin Kejujuran
Imam Ali bin Abi Thalib berkata:
“Kejujuran adalah kehormatan; dusta adalah kehinaan.”
Cinta yang sejati tak akan lahir dari kebohongan. Sebab dusta merusak kepercayaan, dan kepercayaan adalah fondasi cinta. Imam Ali mengingatkan bahwa kehormatan cinta ada pada kejujuran, baik kepada Allah, kepada diri sendiri, maupun kepada sesama.
Rasulullah SAW bersabda:
“Peganglah kejujuran, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.”
(HR. Bukhari-Muslim)
Cinta yang jujur tidak menyembunyikan keburukan demi keuntungan sesaat, dan tidak berpura-pura untuk mendapat pujian. Ia apa adanya, tulus, dan penuh kepercayaan.
Orang yang jujur dalam cintanya merasakan kelapangan jiwa. Ia tidak sibuk menyembunyikan kepalsuan, tidak resah bila rahasianya terbongkar. Cinta yang jujur membuat hati damai, sebab ia selaras dengan fitrah kebenaran.
Sejarah mencatat, Imam Ali dikenal sebagai “Ashdaq” (yang paling jujur). Kejujurannya dalam mencintai Allah dan Rasul-Nya membuatnya dipercaya memegang rahasia-rahasia wahyu. Bahkan para musuh pun mengakui bahwa Ali tidak pernah berdusta. Itulah bukti bahwa kejujuran adalah wajah sejati cinta.
Kejujuran membuat cinta tetap bersinar meski diuji waktu. Cinta yang dibangun atas kejujuran akan bertahan, sementara cinta yang lahir dari kepalsuan akan runtuh.

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1CHCfmuHU6/

