13 Sifat/Prilaku Terpuji “Ibadur Rahman” Ngaji Surah Al Furqan Ayat 63-76 (1)
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Latar Belakang dan Konsep “Ibadur Rahman”
Penjelasan mengenai sifat terpuji Ibadur Rahman (hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih) dibahas dalam Surah Al-Furqan ayat 63-76.
Ayat-ayat ini diturunkan sebagai kontras terhadap sikap sombong kaum musyrikin Mekah yang menolak tauhid dan mengejek nama Ar-Rahman dengan bertanya, “Apa itu Ar-Rahman?”.
Sebagai jawaban atas kebebalan mereka, Allah menunjukkan keagungan-Nya dalam penciptaan alam semesta, lalu memperkenalkan hamba-hamba pilihan-Nya yang menerima tauhid dengan tulus, yaitu Ibadur Rahman.
Sifat kasih sayang (Rahmah) Allah terbagi menjadi dua kategori utama:
- Rahmah Rahmaniyah:
Rahmat yang bersifat umum, mencakup seluruh makhluk tanpa terkecuali (termasuk orang kafir bahkan iblis) di dunia hingga akhirat.
Contoh nyata dari rahmat ini adalah pemeliharaan alam semesta, serta diutusnya para nabi untuk membimbing manusia. - Rahmah Rahimiyah:
Rahmat khusus yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang beriman yang memiliki kesiapan dan kelayakan batin untuk menerimanya.
Secara tata bahasa Arab, frasa “Wa ibadurrahman” di awal ayat 63 berkedudukan sebagai mubtada’ (kata pembuka), sedangkan khabar (predikat/kabar beritanya) baru ditemukan pada ayat 75-76 yang menyatakan bahwa mereka akan dianugerahi kedudukan tinggi di surga (Ghurfah atau istana megah yang sangat tinggi) karena kesabaran mereka.
Ayat-ayat di antara keduanya (ayat 63 hingga 74) berfungsi merinci kriteria atau sifat-sifat yang membuat mereka layak mendapatkan kedudukan tinggi tersebut.
Ketika mempelajari sifat-sifat mulia ini, kita diajarkan untuk berdoa agar dimasukkan ke dalam golongan mereka, disertai dengan keseriusan dan upaya nyata untuk merealisasikan sifat-sifat tersebut dalam diri.
Meskipun sebagian riwayat menyebutkan bahwa 13 sifat ini merujuk kepada para Imam Suci Ahlul Bait, hal tersebut harus dipahami sebagai puncak kesempurnaan (mizab) yang dicapai oleh para Imam, tanpa menutup kesempatan bagi orang biasa untuk meneladani dan mengamalkannya sesuai kapasitas masing-masing.
Tiga Sifat Pertama Ibadur Rahman yang Dibahas
1. Sifat Pertama: Kerendahan Hati (Tawadhu’)
Sifat ini diambil dari potongan ayat “alladzina yamsyuna ‘alal-ardhi haunan” (mereka yang berjalan di atas bumi dengan tenang/rendah hati).
Terdapat tiga tingkat pemaknaan untuk ayat ini:
- Gaya Berjalan:
Berjalan dengan wajar, apa adanya, dan tidak dibuat-buat untuk mencari wibawa palsu atau menunjukkan keangkuhan.
Sesuai riwayat Imam as-Shadiq, mereka berjalan secara natural tanpa bermaksud memamerkan kesombongan. - Gaya Hidup:
Menjalani kehidupan sosial sehari-hari dengan penuh ketawaduan, tidak memaksakan kehendak (jabbar), dan memposisikan diri setara dengan anggota masyarakat lainnya demi menjaga hubungan yang harmonis. - Kewaspadaan (Khauf):
Dalam perspektif khusus yang berkaitan dengan riwayat Imam al-Baqir mengenai Ahlul Bait, ayat ini juga dimaknai sebagai cara berjalan di muka bumi dengan penuh kewaspadaan dan kehati-hatian terhadap ancaman musuh atau orang zalim.
2. Sifat Kedua: Menyikapi Kejahilan dengan Damai (Qalu Salama)
Sifat ini merujuk pada ayat “wa idza khathabahumul-jahiluna qalu salama” (apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata keselamatan).
- Definisi “Jahil”:
Orang bodoh di sini bukan hanya orang yang tidak berpendidikan, melainkan siapa saja—termasuk akademisi atau profesor sekalipun—yang berbicara atau bertindak berdasarkan emosi, caci maki, dan omongan tanpa dasar pengetahuan. - Makna “Qalu Salama”:
Bukan berarti membalas ucapan buruk dengan ucapan “assalamualaikum” secara harfiah.
Melainkan menjawab dengan tutur kata yang anggun, penuh tanggung jawab, serta tidak membalas kebodohan dengan kebodohan serupa agar tidak memperpanjang konflik dan menurunkan harga diri kita. - Kisah Ibrahim bin al-Mahdi dan Khalifah Al-Ma’mun:
Ibrahim bercerita kepada Al-Ma’mun bahwa ia mendebat Imam Ali bin Abi Thalib dalam mimpi, dan menurutnya Imam Ali tidak bisa menjawab lalu pergi begitu saja sambil berucap “salaman, salaman”.
Khalifah Al-Ma’mun langsung meluruskan bahwa tindakan tersebut justru merupakan jawaban terbaik dari Imam Ali yang mengamalkan ayat ini; Imam Ali tidak mau membuang energi untuk meladeni kebodohan Ibrahim yang bertindak tanpa adab.
3. Sifat Ketiga: Hubungan Mendalam dengan Allah SWT
Setelah menjelaskan dua sifat pertama yang berkaitan dengan hubungan sosial antarmanusia, rangkaian ayat ini mulai beralih membahas sifat ketiga yang menyentuh ranah hubungan batin spiritual yang mendalam antara seorang hamba dengan Allah SWT.

Judul video: 13 Sifat/Prilaku Terpuji “Ibadur Rahman” Ngaji Surah Al Furqan Ayat 63-76 (1) – Watch on Youtube
Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:

Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN






